ZONAUTARA.com – Kita semua terus-menerus mengubah perilaku kita agar sesuai untuk situasi apa pun yang kita hadapi. Kita tidak akan bertindak dengan cara yang sama di sebuah pesta seperti yang kita lakukan pada pemakaman, kencan pertama, atau wawancara kerja, bukan?

Pada sebagian besar hewan, terutama yang hidup dalam komunitas sosial, kemampuan untuk mengubah perilaku ketika menghadapi konflik sosial sangat penting untuk kelangsungan hidupnya.

Salah satu komunitas hierarkis yang paling banyak dipelajari di alam adalah spesies semut Harpegnathos saltator. Berbagai jenis semut Harpegnathos memainkan peran tertentu untuk mendukung reproduksi berkelanjutan dan keberhasilan koloni mereka yang berputar di sekitar semut ratu.

Sementara sebagian besar semut adalah pekerja yang mandul. Jenis semut paling sedikit adalah betina yang reproduktif dan dapat bertelur, mereka disebut gamergate.

Peran hormon untuk menentukan perilaku sosial

Ketika seekor ratu meninggal, ada kebutuhan mendadak untuk betina reproduktif di koloni. Semut berduel untuk mendapatkan hak ini, dan individu yang tersisa segera menukar status pekerja mereka menjadi gamergate reproduktif. Tidak seperti pekerja, gamergate tidak mencari makan, melainkan bertelur dan menunjukkan perilaku agresif terhadap pekerja.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Cell dengan judul Worker ants vault to queenly rank after just one gene turns on, para peneliti melaporkan bahwa satu protein, Kr-h1 (Krüppel homolog 1), dimanipulasi oleh hormon yang ditemukan pada pekerja dan gamergate.

Berdasarkan tingkat hormon yang berbeda antara sistem kasta, protein bekerja pada genom neuron semut untuk mengaktifkan gen yang terkait dengan perilaku sosial.

Para peneliti yang terdiri dari ilmuwan dari University of Pennsylvania dan University of Freiburg, Jerman, menggunakan kombinasi teknik in vivo dan in vitro untuk menyelidiki mekanisme aktual yang menghubungkan perubahan hormon dengan perubahan perilaku.

Tim mengamati semut pekerja dan gamergate di laboratorium buatan dan memulai pertandingan duel. Mereka juga mengisolasi dan membiakkan neuron semut dari dua kasta yang berbeda dan tingkat hormon yang dimanipulasi secara artifisial, sambil memetakan aktivitas Kr-h1 dan gen lainnya.

Semut pekerja memiliki tingkat hormon remaja yang jauh lebih tinggi yang merangsang perilaku mencari makan. Gamergate memiliki tingkat ecdysteroid yang jauh lebih tinggi, yang merangsang perilaku reproduksi.

Penelitian ini juga menemukan bahwa dalam satu otak semut, terdapat peta genetik untuk dua peran yang sama sekali berbeda yang sama-sama vital bagi keberhasilan koloni. Setiap semut memiliki kedua peran dalam susunan genetiknya, namun kasta semut dan perilakunya didasarkan pada aktivitas Kr-h1.

Para penulis mencatat bahwa penelitian masa depan harus fokus pada pemahaman tentang sejauh mana mekanisme antara hormon dan Kr-h1 ini mempengaruhi perilaku sosial pada hewan lain.