ZONAUTARA.com – Temuan musik klasik dari protein ini memang bukan pertama kalinya, namun dapat digunakan tidak hanya untuk membantu memajukan penelitian, tetapi juga untuk membuat kompleksitas protein dapat diakses oleh publik.

Mengutip dari The Conversation, Yuzong Chen dan Peng Zhang menjelaskan hasil penelitiannya tentang hal ini.

Mereka percaya bahwa mendengar suara kehidupan di tingkat molekuler dapat membantu menginspirasi orang untuk belajar lebih banyak tentang biologi dan ilmu komputasi.

Meskipun menciptakan musik berdasarkan protein bukanlah hal baru, gaya musik dan algoritme komposisi yang berbeda belum dieksplorasi. Peneliti memimpin tim siswa sekolah menengah dan ilmuwan lain untuk mencari cara membuat musik klasik dari protein.

Susunan protein dan musik sebetulnya serupa

Protein terstruktur seperti rantai terlipat. Rantai ini terdiri dari unit kecil dari 20 kemungkinan asam amino, masing-masing diberi label dengan huruf alfabet.

Rantai protein dapat direpresentasikan sebagai untaian huruf alfabet ini, sangat mirip dengan untaian not musik dalam notasi abjad.

Rantai protein juga dapat melipat menjadi pola bergelombang dan melengkung dengan naik, turun, belokan, dan loop. Demikian pula, musik terdiri dari gelombang suara dengan nada yang lebih tinggi dan lebih rendah, dengan tempo yang berubah-ubah dan motif yang berulang.

Algoritme protein-ke-musik dengan demikian dapat memetakan fitur struktural dan fisiokimia dari untaian asam amino ke fitur musik untaian nada.

Meningkatkan musikalitas pemetaan protein

Pemetaan protein ke musik dapat disesuaikan dengan mendasarkannya pada fitur gaya musik tertentu. Hal ini tentunya meningkatkan musikalitas, ketika mengubah sifat asam amino, seperti pola dan variasi urutan, menjadi sifat musik analog, seperti nada, panjang nada, dan akord.

Pada studinya, Chen dan Zhang secara khusus memilih musik piano klasik periode Romantis abad ke-19, yang mencakup komposer seperti Chopin dan Schubert, sebagai panduan karena biasanya mencakup berbagai nada dengan fitur yang lebih kompleks.

Fitur-fitur yang ada dalam musik memungkinkan peneliti untuk menguji rentang nada yang lebih besar dalam algoritme pemetaan protein-ke-musik.

Untuk menguji algoritme, kami menerapkannya pada 18 protein yang memainkan peran kunci dalam berbagai fungsi biologis. Setiap asam amino dalam protein dipetakan ke nada tertentu berdasarkan seberapa sering mereka muncul dalam protein, dan aspek biokimia lainnya sesuai dengan aspek lain dari musik. Asam amino berukuran lebih besar, misalnya, akan memiliki panjang nada yang lebih pendek, dan sebaliknya.

Musik dari susunan protein adalah contoh bagaimana menggabungkan ilmu biologi dan komputasi dapat menghasilkan karya seni yang indah. Peneliti berharap bahwa karya ini akan mendorong para peneliti untuk membuat musik protein dengan gaya yang berbeda dan menginspirasi masyarakat untuk belajar tentang protein lebih dalam lagi.