ZONAUTARA.com – Banyak kekhawatiran yang ditimbulkan akibat berkembang pesatnya teknologi saat ini. Hal ini bukan sesuatu yang baru. Aristokrat khawatir bahwa mesin cetak akan menyebabkan beban mental yang berlebihan. Orang tua khawatir bahwa kalkulator akan melumpuhkan keterampilan aritmatika. Lalu bagaimana dengan teknologi digital?

Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh PBS, sebanyak 53 persen orang percaya bahwa teknologi membuat kita lebih bodoh. Jajak pendapat lain yang dilakukan pada lebih dari seribu ahli, Imagining the Internet Center dan Pew Internet Project dari Universitas Elon, menemukan bahwa 42 persen percaya bahwa otak yang hyperconnected karena teknologi itu dangkal.

Teknologi digital dan ruang kelas

Sebagai pendidik dan penasihat kebijakan, Pasi Shalberg, mengatakan bahwa Finlandia adalah satu-satunya negara OECD di mana anak perempuan mengungguli anak laki-laki dalam dua mata pelajaran terakhir.

Anak perempuan umumnya membaca untuk kesenangan lebih dari anak laki-laki, dan pertanyaan tes PISA sangat bergantung pada pemahaman bacaan. Dengan demikian, kemunculan teknologi digital di antara anak-anak usia sekolah telah mempercepat tren ini.

Shalberg lebih lanjut berpendapat bahwa peningkatan waktu yang dihabiskan di internet untuk media dan bersosialisasi dapat menyebabkan kesulitan dalam berkonsentrasi pada masalah yang kompleks, seperti masalah matematika dan sains.

Sebuah sistem pembelajaran pribadi yang didukung oleh Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan, Summit Learning, menggunakan perangkat online untuk menghasilkan pendidikan khusus yang bertujuan untuk mempromosikan pembelajaran mandiri.

Namun, beberapa siswa menganggap pelajaran yang berfokus pada layar dapat mengisolasi dan menimbulkan kecemasan, sementara orang tua khawatir akan efek sistem yang belum diuji terhadap perkembangan mental anak-anak mereka.

Apakah kita dapat menentukan efek teknologi digital?

Peter Frost, seorang profesor psikologi di Southern New Hampshire University, menganalisis efek dari teknologi. Frost dan timnya menganalisis penggunaan telepon mahasiswa dan kemampuan kognitif jangka pendek.

Mereka menemukan bahwa lebih banyak penggunaan smartphone berkorelasi negatif dengan pemecahan masalah sosial, tetapi secara positif dengan kemampuan untuk melakukan pengamatan dan menilai kredibilitas informasi. Studi yang dilakukan Frost dapat dilihat di sini.

Ia kemudian menugaskan 50 mahasiswa untuk menggunakan ponsel mereka selama kurang dari dua jam sehari, sementara kelompok 50 lainnya ditugaskan untuk menggunakan ponsel lebih dari lima jam sehari.

Setelah satu minggu, siswa yang sering menggunakan ponsel menunjukkan kemampuan yang berkurang untuk menafsirkan dan menganalisis data. Tetapi setelah empat minggu, perbedaan itu menghilang.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa, bahkan dalam kasus yang jarang terjadi di mana smartphone dapat mengubah kognisi, efek ini kemungkinan bersifat sementara, dan mekanisme di mana smartphone memulai perubahan sementara ini tetap menjadi pertanyaan terbuka.