ZONAUTARA.com – Kota-kota besar dipenuhi dengan segala aktivitas dan bermacam-macam orang. Kemudian, muncul pertanyaan, apakah hal itu buruk bagi kesehatan mental?

Penelitian yang dikumpulkan oleh Centre for Urban Design and Mental Health menegaskan bahwa orang yang tinggal di kota besar jauh lebih rentan terhadap penyakit mental daripada mereka yang tinggal di daerah pedesaan yang lebih tenang.

Secara khusus, penduduk kota hampir 40% lebih mungkin menderita depresi dan gangguan mood lainnya dan dua kali lebih mungkin memiliki skizofrenia.

Selama beberapa dekade, psikolog, filsuf, dan perencana kota telah berhipotesis mengapa lingkungan perkotaan dapat dikaitkan dengan kesehatan mental yang buruk.

Beberapa alasannya adalah: pertama, penduduk kota ditempatkan dalam kondisi emosional yang menggerogoti kesejahteraan psikologis mereka, seperti stres, isolasi, dan ketidakpastian.

Bagaimana tepatnya kehidupan kota memunculkan kondisi ini masih belum jelas. Sementara beberapa orang pindah ke kota untuk mencari peluang, yang lain melakukannya untuk melarikan diri dari kondisi yang tidak dapat ditoleransi di desa.

Namun, alih-alih menyembuhkan neurosis mereka, bahaya dan jebakan kehidupan kota sebenarnya dapat memperburuk keadaan.

Sebuah essay yang diterbitkan pada tahun 1903 dan ditulis oleh sosiolog Jerman Georg Simmel berjudul The Metropolis and Mental Life menggambarkan bagaimana korelasi antara kota dan kesehatan mental.

Pandangan Georg Simmel tentang kesehatan mental

Georg Simmel merasa bahwa masyarakat terus meningkat dengan bantuan sains dan perdagangan, Namun, Simmel merasa seolah-olah umat manusia telah mengambil jalan yang salah dan saat ini membayar kesalahannya.

Simmel berusaha menjelaskan posisi tersebut dalam “The Metropolis” miliknya. Dalam esainya, Simmel membandingkan hidup di desa dengan kota besar dan mencoba menunjukkan bagaimana setiap lingkungan membentuk psikologi penghuninya menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Tesis utamanya adalah bahwa penduduk kota, karena mereka terpapar pada lebih banyak rangsangan audiovisual daripada masyarakat pedesaan mereka, tanpa sadar membangun pertahanan psikologis terhadap lingkungan mereka yang membuat hidup kurang bermanfaat.

Dengan menyamakan sistem saraf manusia dengan sirkuit listrik, Simmel mengandaikan bahwa jika sistem ini distimulasi secara berlebihan untuk jangka waktu yang lama, maka mereka akan berhenti berfungsi.

Akibatnya, hal-hal yang pernah secara emosional atau intelektual merangsang penduduk kota dengan cepat berhenti menggairahkan mereka. Simmel menyebut pandangan ini sebagai blasé, tetapi hari ini, orang juga menggunakan istilah letih.