Belum juga pagi, kokok Zavar sudah melengking beriring suara adzan subuh di masjid dekat rumah. Telah dua pekan Zavar, ayam kesayangan yang dibeli dari mas-mas penjual burung, merana dalam kurungan. Sejak Alis si betina mulai mengeram, Zavar terpaksa harus dikurung terpisah. Perkaranya, Zavar suka unjuk kebolehan dengan pejantan lain meski tetap saja berakhir kalah dengan memar di jengger. Dan begitulah Zavar, dia selalu pantang menyerah. Dia akan terus mengajak pejantan lain bertarung.

Meski selalu kalah dan sombong, Zavar adalah salah satu peliharaan yang saya sayangi. Dia rajin mengingatkan saya tentang semangat memulai hari. Bahkan, setiap pagi saya jadi berusaha keras bangun lebih awal. Saya tidak mau kalah. Mama pernah bilang, jika terlambat bangun rezeki dipatuk ayam. Saya tidak mau rezeki saya diambil, terutama oleh ayam yang sombong sekaligus menggemaskan.

Dan begitulah hari ini, kendati mata saya masih 5 watt. Saya harus membukanya, Zavar sudah sahut-sahutan berkokok. Di ruang tengah juga sudah ramai, mungkin Novi dan Bios sedang bersiap-siap. Mereka sudah dua hari di Kotamobagu. Bios dari Kepulauan Talaud, dan Novi dari Bitung. Kak Ronny masih tidur. Semalam dia lembur kerja.

Kami memang menjadikan Kotamobagu, titik awal trip ke Kalimantan. Jangan ditanya, ini sudah direncanakan, dipersiapkan sangat lama. Dan sesuai perencanaan, hari ini, Senin (20/12/2020) kami akan bertolak ke Gorontalo.

Pukul tujuh, barang-barang sudah diatur sedemikian mungkin biar aman. Simulasi sudah dilakukan, termasuk mengukur berat beban. Karena kami akan menggunakan sepeda motor, sebelumnya kami tak lupa memastikan keamanan motor yang akan dikendarai. Bahkan, dengan menyewa jasa Ilya, montir yang dikenalkan Ibonk. Bagian belakang motor dimodifikasi agar bisa memuat hampir semua keperluan sebulan ke depan.

Pukul setengah sepuluh, Ibonk datang. Ternyata dia ingin ikut hingga ke Gorontalo. Dia tidak bisa lebih jauh, soalnya masih terkendala dengan surat-surat kendaraan. Dan memang, perhitungan awal perencanaan dia belum terlibat. Jadi harus ada persiapan lebih lagi untuk bisa ikut.

Akhirnya semua sudah siap, dari rumah mama tidak henti melangitkan mantra doa untuk keselamatan kami semua. Tapi mantra-mantra itu sepertinya kurang ampuh. Atau justru makbul. Tetiba langit mendung, hujan badai berlangsung khidmat. Yang seharusnya rencana awal berangkat pukul sepuluh, akhirnya kami harus berangkat pukul satu siang. Menyesuaikan kondisi dan memperhitungkan segala kemungkinan, termasuk mengecek perkiraan cuaca jalur lintasan.

 

Kami memilih ikut Selatan, sebenarnya bisa juga lewat Utara. Tapi, mengingat waktu tempuh, terutama waktu buka tutup jalan di Komangaan yang sedang longszor, kami memutuskan lewat Selatan saja. Dari Kotamobagu ditemani sedikit gerimis kami melintas memasuki wilayah Bolaang Mongondow (Bolmong) dan berhenti di Matayang, tepat di gapura perbatasan Bolmong-Bolsel. Sejauh ini, alhamdulillah semua masih aman.

Setelah meneguk air dari tumbler, dan mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi, kami melanjutkan perjalanan. Kami sepakat kembali berhenti di Molibagu, ibukota Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), sekaligus makan siang. Dan benar saja, kami tidak salah. Dengan menu udang, sate tuna, dan tempe cakalang sous, rumah makan persimpangan jalan, samping lapangan Molibagu menjadi tidak berlebihan jika direkomendasikan. Kami hanya menghabiskan Rp115 ribu saja, untuk makan ditambah minum teh manis hangat empat orang. Selain murah, nasinya begitu pulen. Kami makan begitu lahap. Tak menyisahkan apa-apa lagi di atas meja, kecuali piring dan gelas bekas makan minum.

Kami melanjutkan perjalanan dengan singgah di SPBU Molibagu, motor yang dikendari Bios harus menambah bahan bakar. Sekaligus, kami bertemu kembali dengan Ibonk, yang sebelumnya saat di Matayang sudah lebih dulu berangkat karena menjamput Koko di Molibagu. Kebetulan Koko juga ada urusan di Gorontalo. Sehingga, dari SPBU, kami berenamlah yang menlanjutkan perjalanan.

Menuju Gorontalo

Saat kembali memulai perjalanan, saya yakin doa mama terus bersama. Kali ini langit mulai cerah walau jalanan masih tetap licin. Terutama jalanan bekas longsor. Genangan-genangan air masih banyak. Beberapa terpercik sampai di wajah saya, saking cepatnya kendaraan dari arah berlawanan.

Hari mulai sore, dan kami mulai memasuki Desa Pakuku Kecamatan Tomini. Di sini, jalanannya mulai sangat licin, terutama saat mendekati jembatan. Jembatan utamanya sedang dalam perbaikan, ada jembatan alternatif yang dibuat. Semua pengendara harus lewat jembatan itu. Tak terkecuali kami.

Perlahan kendaraan kami melintas. Bios terlebih dahulu, kemudian K Ronny, Ibonk di belakang. Belum separuh jembatan, kami harus berhenti. Sebenarnya, kami jatuh. Motor kami kehilangan keseimbangan saat bola motor terperangkap di antara potongan balok. Syukurlah, saya dan K Ronny tidak apa-apa.

Doa mama masih menyertai, saya percaya. Dengan bantuan para pekerja jembatan, motor pun diangkat dan diantar melintasi jembatan. Setelah dicek semuanya aman. Motor dan barang-barang kami juga tidak apa-apa. Kami melanjutkan perjalanan, meninggalkan warga yang berkumpul karena panik.

Setelah meninggalkan cerita di jembatan Pakuku, pukul 17.30, kami tiba di perbatasan provinsi Sulawesi Utara-Gorontalo. Kami memasuki Kecamatan Bone Pantai, seperti biasa, kami mendokumentasikannya.

Hari makin gelap, dengan bantuan pencahayaan dari motor yang dikendarai Bios dan Ibonk, kami berpindah melintasi segala keindahan, keriuhan, kesenyapan lintasan menuju Kota Gorontalo. Saya yang mulai mengantuk, terkejut melihat babi hutan seperti berkejaran memotong jalan tepat di depan kendaraan Bios yang sedang melintas. Ternyata saya salah. Kata K Ronny, itu adalah batu yang longsor dari tebing di samping kanan kami. Saya benar benar-terkejut, kejadian itu terjadi hanya sepersekian detik dari Bios. Sekali lagi saya bersyukur.

Banyak pembelajaran yang diajarkan perjalanan kali ini. Apa pun yang terjadi, doa mama seluas langit. Selalu menemani di mana kami berpijak. Akhirnya, tepat pukul 20.00 kami tiba di lapangan Taruna, kota Gorontalo. Kami makan malam dan memutuskan menginap di hotel New Melati. Kami semua menutup malam dengan lega.

Mengisi pagi memutari Lapangan Taruna

Sudah menjadi kebiasaan, saya seperti mendengar kokok Zavar meski berada di Gorontalo. Saya harus bangun. Saya yakin, mama pasti sedang memberi Zavar dan ayam-ayam lain makanan sambil tetap melafalkan mantra-mantra doa. K Ronny juga sudah bangun, yang lainnya masih tertidur lelap. Kami akhirnya, jalan pagi mengitari Kota Gorontalo.

Pukul 08.00, K Ronny harus siap-siap. Dia akan menghadiri Konferta AJI Gorontalo mewakili pengurus nasional. Sebelum pergi, kami melihat kembali video jatuhnya motor di jembatan Pakuku. Video memperlihatkan detil kondisi jembatan alternatif. Tumpukan kayu yang lobang, beberapa patah, dan jarang, sungguh membahayakan pengendara, terutama roda dua.

Sudah seharusnya pemerintah terutama instansi terkait memperhatikan hal ini. Saat membangun jembatan alternatif, sudah seyogyanya juga mempertimbangakan keselamatan pengendara. Jangan sampai jembatan ini justru memakan banyak korban.

Saat menulis catatan ini, saya masih di hotel New Melati, aba ke Konferta AJI di Pentadio, Ibonk ke Kabila, Bios dan Novi mengeksplor kota Gorontalo. Saya sendiri memilih tidak ke mana-mana. Saya sudah puas keliling Gorontalo. Saya ingin mengumpulkan tenaga untuk trip selanjutnya sambil menelepon mamak. Dan bilang, terimakasih atas mantra-mantranya.

Berlanjut . . .