ZONAUTARA.com – Beberapa media memberitakan bahwa militer Rusia diduga menggunakan bom vakum untuk menyerang Ukraina.

Meski belum ada konfirmasi soal penggunaan bom vakum tersebut, tetapi laporan CNN menyebut bahwa jurnalis mereka sempat melihat peluncur roket ganda TOS-1 termobarik di dekat perbatasan Ukraina pada akhir pekan lalu.

Bom vakum juga dikenal sebagai bom termobarik yang dapat menyedot oksigen di sekitarnya. Bagaiamana sebenarnya cara kerja bom vakum atau bom termobarik ini?

Cara kerja bom termobarik adalah dengan menyedot oksigen di sekitar lokasi yang menjadi sasaran jatuhnya bom. Senjata ini mematikan karena menghasilkan ledakan suhu tinggi hasil dari penyedotan oksigen tersebut.

Bom termobarik atau bom vakum dapat berbentuk macam-macam, mulai dari bentuk granat berpeluncur roket yang digunakan untuk pertempuran jarak dekat, hingga yang berukuran besar yang diluncurkan dari pesawat jet tempur.

Yang menakutkan dari bom vakum atau bom termobarik ini, adalah awan plasma atau awan panas yang tercipta dari ledakannya. Suhu awan panas ketika bom meledak bisa mencapai 2.500 – 3.000 celcius.

Selain suhu ledakannya yang sangat tinggi ini, awan panas yang dihasilkan dari ledakan bom vakum bisa bertahan lebih lama dibanding dengan bom lainnya.

Selain ledakan dari bom vakum ini sangat berbahaya, bom ini juga mengeluarkan zat berbahaya etilen oksida.

Etilen oksida adalah gas yang digunakan sebagai bahan sterilisasi yang memiliki senyawa sangat beracun jika mengenai tubuh manusia.

Korban yang terpapar zat ini bisa mengalami kulit terbakar serta mengalami gangguan pada paru-paru dan pencernaan.

Dugaan penggunaan amunisi termobarik oleh Rusia disebut menggunakan peluncur roket sekali pakai RPO-A Shmel dan roket termobarik untuk keluarga senjata RPG-7, menurut laporah JMVH.

Sumber: CNN Indonesia




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id