Nasib Petani Salak Tagulandang usai erupsi Gunungapi Ruang

Penulis: Neno Karlina Paputungan Editor: redaktur
Grice Role, Petani Salak dari Desa Balehumara, Tagulandang, (Foto: ZONAUTARA.com/ Yegar Sahaduta).

SITARO, ZONAUTARA.com – Di bawah langit Tagulandang yang penuh abu vulkanik, Grice Role (43) dan para petani salak lainnya berjuang untuk bertahan hidup.

Erupsi Gunungapi Ruang pada 16 dan 30 April 2024 memaksa mereka meninggalkan kebun dan rumah, mengungsi demi keselamatan.

ZONAUTARA.com
Grice Role petani salak Tagulandang saat ditemui Tim ZONAUTARA, Jumat 24 Mei 2024, (Foto: ZONAUTARA.com/Yegar Sahaduta).

Melarikan diri dari bahaya

Tanggal 16 April menjadi hari yang tak terlupakan bagi Grice dan petani lainnya di Desa Balehumara. Ketika gunungapi meletus, mereka segera mengungsi ke Desa Bawoleu.

Namun, ketenangan hanya sementara. Pada 30 April, erupsi besar lainnya memaksa mereka untuk pindah lebih jauh, kali ini ke Manado.

“Kami ke Manado nanti pulang hari Rabu, 22 Mei 2024,” ujar Grice mengingat masa-masa sulit itu, Jumat, 24 Mei 2024.

Kehilangan dan kerusakan

Saat erupsi terjadi, fokus utama Grice dan para petani salak lainnya adalah menyelamatkan diri.

Mereka tidak sempat lagi memikirkan kebun salak yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Kebun-kebun salak terbengkalai dan rusak akibat material erupsi. Pohon-pohon yang biasanya produktif, kini layu dan mati karena tertutup abu vulkanik.

“Biasanya dalam setahun petani salak bisa sampai empat kali panen,” kata Grice.

Namun, tahun ini berbeda. Bunga-bunga salak mengering dan tidak bisa dikawinkan.

Banyak buah yang jatuh sebelum matang karena tertutup abu.

“Banyak yang belum matang, tapi sudah jatuh sendiri,” tambah Grice dengan nada sedih.

ZONAUTARA.com
Banyak buah salak muda yang jatuh akibat abu vulkanik, (Foto: ZONAUTARA.com/Yegar Sahaduta).

Tantangan ekonomi

Dampak ekonomi dari erupsi ini sangat dirasakan oleh para petani salak.

Pendapatan yang biasanya mereka dapatkan dari menjual salak langsung di kebun dengan harga Rp50 ribu per dus minuman kemasan, kini hilang.

“Ya kalau begini, mau bagaimana?” keluh Grice, menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi bergantung pada hasil panen salak untuk sementara waktu.

Meski demikian, Grice bersyukur tidak ada korban jiwa dalam bencana ini. Namun, ia tetap merasa sedih karena rumah dan perkebunan salaknya kini berada dalam zona merah, daerah yang paling berbahaya.

“Grice bersyukur tidak ada korban jiwa namun dirinya berharap para penyintas erupsi Gunungapi Ruang terutama petani salak bisa segera bangkit,” katanya penuh harap.

Grice, bersama para petani salak lainnya, kini menggantungkan harapan pada masa depan yang lebih baik.

Mereka berharap bisa segera kembali ke kebun mereka, merawat kembali pohon-pohon salak yang rusak, dan memulai hidup baru setelah bencana.



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
2 Comments
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com