Warga lingkar TPA Sumompo tolak pembangunan Instalasi Limbah Tinja

Penulis: Eliana Gloria
Editor: Redaktur
Warga lingkar TPA Sumompo melakukan aksi penolakan pembangunan IPLT, (Foto; Zonautara.com/Eliana Gloria).

ZONAUTARA.com – Masyarakat sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo – Buha, Manado melakukan aksi protes terhadap rencana Pemerintah Kota Manado membangun Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT), Selasa (23/9/202).

Aksi yang dimotori oleh kelompok mama-mama ini sempat bentrok dengan petugas.

Dalam aksi tersebut, warga sepakat melakukan penutupan portal agar tidak ada aktivitas pembuangan sampah di TPA Sumompo.

Warga lingkar TPA Sumompo tolak pembangunan Instalasi Limbah Tinja
Suasana aksi warga lingkar TPA Sumompo, (Foto: Zonautara.com/Eliana Gloria).

“Kami masyarakat sepakat untuk menutup portal. Mohon hentikan pekerjaan buang sampah hari ini, ujar Amos, seorang buruh bangunan yang tinggal di Kilo 5, Senin, (23/9/2025).

Selama masa persiapan aksi sebulan terakhir, beberapa warga yang sebelumnya tidak menerima bantuan Program Keluarga Harapan, tiba-tiba mendapatkan bantuan tersebut. Diduga ini merupakan bagian dari meredam aksi digelar.




Warga lingkar TPA Sumompo tolak pembangunan Instalasi Limbah Tinja
Warga sepakat melakukan penutupan portal agar tidak ada aktivitas pembuangan sampah di TPA Sumompo, (Foto: Zonautara.com/Eliana Gloria).

“Di satu sisi kami bersyukur karena lewat aksi ini ada masyarakat terbantu, di sisi lain semoga ini bukan usaha untuk menutup mulut warga,” jelas Mintux, warga Sumompo lainnya.

Sementara itu, kondisi TPA Sumompo sendiri dinilai sudah tidak layak lagi karena masih menggunakan sistem open dumping. Bahkan, TPA tersebut termasuk salah satu yang mendapatkan sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2025.

DLH punya waktu sampai bulan November, kami tunggu! Tapi sampai sekarang kami masyarakat tidak pernah diajak berdiskusi, malah tiba-tiba ada pembangunan untuk buang tai satu Manado di sini,” tegas salah seorang warga.

Selain itu, Novita Sikome, salah satu penanggung jawab aksi, juga menekankan dan membantah bahwa gerakan warga ini ditunggangi pihak tertentu.

“Kami berusaha sendiri, masyarakat tergerak karena hati nurani. Masyarakat takut jika berbuat lebih akan dicabut bantuan sosial mereka seperti PKH,” ujarnya.

Empat tuntutan masyarakat dalam aksi yang berlangsung hingga malam hari tersebut adalah menolak proyek IPLT, meminta TPA Sumompo – Buha segera ditutup karena sudah over kapasitas, realisasikan janji ruang terbuka hijau untuk pemulihan lingkungan dan aktifkan kembali Pasar Rakyat Buha.

Koordinator aksi Yasri Badoa mengatakan bahwa pembangunan IPLT dilakukan tanpa sosialisasi.

“Kami mengetahui pembangunan IPLT hanya dari para pekerja proyek,” ujarnya.

Pembangunan IPLT dianggap bertentangan dengan janji pemerintah yang menyebut tempat itu bakal dijadikan ruang terbuka hijau usai TPA pindah.

Warga juga meminta TPA Sumompo-Buha segera dipindah.

Aksi unjuk rasa ini sempat menyebabkan aktivitas pembuangan sampah terhenti. Puluhan truk yang terhalang masuk TPA hanya bisa parkir di tepi jalan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Manado Pontowuisang Kakauhe mengatakan, bahwa tuntutan warga sebenarnya sudah pernah disampaikan di DPRD Manado.

Menurutnya, tuntutan warga akan kembali dibicarakan bersama perangkat teknis dan dibahas di forum.

Pada aksi tersebut, warga menuntut Wali Kota Manado Andrei Angouw hadir, agar bisa langsung mendengar aspirasi mereka.

Follow:
Daydreamer, typically ENTJ, compassionate listeners, long-life learner.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com