Dua Perda, dua angka: Mana yang benar tentang sawah Bolaang Mongondow?”

Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow menerbitkan dua Peraturan Daerah pada tahun yang sama. Di dalamnya ada tentang produksi padi 2022. Tapi selisihnya 254.872 ton, hampir dua kali lipat total produksi beras seluruh Provinsi Sulawesi Utara. Angka mana yang digunakan untuk merencanakan masa depan lumbung beras ini?

Editor: Redaktur
Seorang petani penggarap di Pusian, Dumoga, Bolaang Mongondow sedang menyiapkan lahan yang dulunya sawah untuk ditanami jagung. Di latar belakang nampak gunung yang digunduli untuk penambangan emas. Dipotret pada April 2026. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

ZONAUTARA.com – Luas sawah Bolaang Mongondoe (Bolmong) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 tercatat 21.503,07 hektar, identik hingga dua digit di belakang koma, untuk lima tahun berturut-turut. Lima tahun tanpa satu hektar pun berubah.

Di saat yang sama, data satelit Landsat yang dianalisis Zonautara selama 21 tahun memperlihatkan sesuatu yang berbeda: sawah mencapai puncak di 2017, lalu menyusut nyaris seribu hektar hingga 2024. Di kecamatan yang sama, lubang tambang tumbuh dari nol menjadi ratusan hektar.

Ketika dikonfrontasi, Kepala Dinas Pertanian Bolmong Tonny Toligaga mengatakan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang juga kami jadikan runjukan salah. BPS bilang metode mereka berbasis 25.310 titik sampel citra satelit. Kementerian Pertanian RI punya angka ketiga yang justru konsisten dengan BPS, bukan dengan dinas.

Di tengah perang angka ini, El Niño terus disebut-sebut sebagai “kambing hitam” tunggal atas anjloknya produksi padi 51,66 persen pada 2023. Tapi Bolaang Mongondow Utara yang bertetangga hanya turun 12,95 persen di tahun yang sama. Cuaca yang sama, hasil yang jauh berbeda.

Satu pertanyaan yang belum dijawab pejabat manapun: jika angka di dokumen hukum sendiri saling bertentangan, bagaimana publik bisa percaya lumbung beras ini masih berdiri?





Baca laporan lengkapnya. Eksklusif untuk pelanggan Zonautara:

Serial investigasi “Tanam Padi Beli Beras” adalah hasil investigasi sebulan penuh tim Zonautara: lima reporter, di belasan desa di beberapa kecamatan, puluhan wawancara, analisis 21 tahun citra satelit MapBiomas, dan penelusuran tiga Peraturan Daerah. Liputan seperti ini membutuhkan waktu, keberanian, dan independensi.

Mengapa berbayar? Karena kami memilih jalan berlangganan, bukan jalan iklan. Dalam liputan ini, Zonautara tidak dibiayai oleh APBD, tidak menerima placement dari kepentingan politik, dan tidak menyewakan kolom kepada pengusaha yang ingin kami diam. Pembaca kami adalah publik yang perlu tahu yang sebenarnya.

Yang Anda dapatkan dengan berlangganan: akses penuh ke 12 tulisan serial ini, pengalaman membaca bebas iklan, dan dukungan langsung pada jurnalisme investigatif independen dari Sulawesi Utara.

BERLANGGANAN SEKARANG → Link Langganan.

Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com