ZONAUTARA.com – Jaguar di Hutan Atlantik kini menghadapi ancaman serius akibat krisis pangan. Meskipun dikenal sebagai spesies pemangsa yang tangguh, mereka terancam punah akibat kekurangan mangsa, yang menjadi sumber utama makanan mereka.
Sebuah studi dalam jurnal Global Ecology and Conservation menyebutkan populasi jaguar di seluruh Hutan Atlantik kini kurang dari 300 individu. Faktor utama yang menyebabkan krisis ini adalah menurunnya populasi beberapa jenis mangsa utama, seperti babi hutan (peccary), agouti, dan rusa.
Katia Ferraz, profesor dari University of São Paulo dan pemimpin riset ini, menekankan bahwa hasil penelitian menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Tim peneliti menggunakan kamera jebakan di sembilan area lindung untuk melacak keberadaan satwa tersebut.
“Kami menemukan situasi yang mengkhawatirkan terkait rendahnya kelimpahan spesies mangsa utama jaguar, bahkan di kawasan lindung Hutan Atlantik seperti taman nasional dan negara bagian,” ujar Ferraz.
Faktor lain yang turut memicu krisis ini adalah akses manusia yang mudah ke area lindung, yang meningkatkan tekanan perburuan baik terhadap jaguar maupun hewan-hewan yang menjadi makanannya. Data menunjukkan adanya disparitas antarwilayah, seperti di Green Corridor, di mana biomasa mangsa mencapai 638 kilogram, sedangkan di wilayah pesisir seperti Serra do Mar hanya 8,2 kilogram.
Meski demikian, Taman Nasional Iguaçu memberikan harapan melalui proyek Iguaçu Jaguar Project, yang berhasil memulihkan populasi jaguar secara signifikan. Koordinator proyek, Yara Barros menyatakan bahwa,
“Pada tahun 2009, kami hanya memiliki sembilan hingga sebelas individu. Selama 15 tahun terakhir, populasi tersebut hampir berlipat ganda,” jelas Barros.
Namun, Hutan Atlantik tetap menghadapi dua realitas kontras: kawasan yang berkembang dan kawasan yang terancam oleh aktivitas manusia. Nasib jaguar sangat bergantung pada pemulihan rantai makanan yang menopang kehidupan mereka.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

