ZONAUTARA.com – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Vatikan mengalami ketegangan menyusul kritik pedas yang dilontarkan Presiden Donald Trump terhadap Paus Leo. Ketegangan ini dipicu oleh perbedaan pandangan menyangkut perang di Timur Tengah, terutama terkait sikap terhadap Iran.
Kritik tajam Trump muncul karena ia menuduh Paus Leo “membahayakan umat Katolik” dengan menilai Paus menyetujui kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Meskipun Paus Leo tidak pernah mendukung program nuklir Iran, sikapnya yang menolak agresi militer AS dan Israel terhadap Iran mencuatkan kemarahan dari Presiden Trump.
“Dia (Paus Leo) tidak ada dalam daftar calon Paus, dan hanya ditempatkan di sana oleh Gereja karena dia orang Amerika, agar mereka bisa menghadapi Presiden Donald Trump,” tulis Trump di media sosialnya. Trump juga mengklaim bahwa tanpa kehadirannya di Gedung Putih, Paus Leo tidak akan terpilih.
Menanggapi hal tersebut, Paus Leo, pemimpin umat Katolik pertama asal AS, tetap mendukung pesan perdamaian. Kepada media, Paus Leo menekankan misinya adalah untuk menyebarkan Injil dan memperkuat kedamaian. “Misi Gereja adalah mewartakan Injil, mewartakan perdamaian,” kata Paus Leo. “Jika seseorang ingin mengkritik saya karena mewartakan Injil… saya hanya berharap untuk didengarkan karena nilai dari firman Tuhan.”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan mengunjungi Vatikan dalam agenda dua hari untuk memajukan hubungan bilateral dan membahas situasi di Timur Tengah. Meski kunjungan ini tidak secara eksplisit bertujuan meredakan ketegangan, Duta Besar AS untuk Takhta Suci, Brian Burch, menegaskan adanya perbedaan pandangan, namun menolak adanya keretakan besar. “Bangsa-bangsa memiliki ketidaksepakatan, dan saya pikir salah satu cara untuk menyelesaikannya adalah melalui persaudaraan dan dialog otentik,” kata Burch.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

