ZONAUTARA.com – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait Selat Hormuz mengalami eskalasi dalam tujuh hari terakhir. Negosiasi yang dilakukan kedua negara terkait blokade selat tersebut berubah menjadi drama yang membingungkan dengan berbagai aksi saling serang dan ancaman besar dari Presiden AS Donald Trump.
Melansir The Guardian, ketegangan di Selat Hormuz yang sebelumnya ditekan oleh gencatan senjata, kini bergolak setelah peluncuran “Project Freedom” oleh AS. Proyek ini dirancang untuk mengatasi kebuntuan di Selat Hormuz akibat blokade Iran, sementara AS juga memblokade pelabuhan Iran sebagai balasan.
Pertama, pada Jumat, 1 Mei 2026, diumumkan perpanjangan gencatan senjata meskipun terjadi ketegangan antar kedua negara. Pejabat pemerintahan Trump menegaskan bahwa permusuhan AS-Iran dihentikan melalui gencatan senjata ini. Sementara itu, Teheran memberikan tawaran perdamaian baru yang tidak memuaskan bagi Trump.
Sabtu, 2 Mei 2026, suasana di Selat Hormuz terlihat stabil, namun Trump dalam acara di Florida menggambarkan operasi angkatan lautnya sebagai “bagaikan bajak laut” terkait tindakan penyitaan kapal Iran. Trump mencatat keberhasilan dalam mengambil alih muatan minyak, menyebutnya sebagai bisnis yang sangat menguntungkan.
Selama Minggu, 3 Mei 2026, Trump meluncurkan “Project Freedom” bertujuan membebaskan kapal-kapal terdampar di Selat Hormuz. Komando Pusat AS menjelaskan proyek ini bertujuan memandu kapal tersebut tanpa pengawalan militer. Iran memberikan reaksi keras, menganggap tindakan AS sebagai pelanggaran serius.
Senin, 4 Mei 2026, eskalasi berlanjut dengan klaim AS menghancurkan kapal kecil Iran dan mencegat rudal jelajah serta drone, meski Iran membantah. Serangan Iran ke Uni Emirat Arab dilaporkan kembali terjadi, memicu reaksi keras Trump yang mengancam langkah militer lebih lanjut jika kapal AS diserang.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

