ZONAUTARA.com – Menteri Pertahanan Latvia, Andris Sprūds, resmi mengundurkan diri pada Senin (11/05/2026), menyusul desakan dari Perdana Menteri Latvia, Evika Siliņa. Keputusan ini diambil terkait kegagalan sistem pertahanan udara Latvia dalam mencegah masuknya drone asing ke wilayah mereka.
Pengunduran diri ini diawali dengan permintaan terbuka dari PM Siliņa sehari sebelumnya, yang menilai bahwa proses penyebaran sistem kontra-drone berjalan lambat dan tidak memenuhi ekspektasi di tengah meningkatnya ancaman keamanan kawasan. “Kepercayaan terhadap kepemimpinan Sprūds sudah habis, dan intrusi drone pekan lalu adalah tetesan terakhir,” tegas Siliņa.
Insiden drone yang menyasar wilayah Latvia menjadi bukti nyata dampak perang Rusia-Ukraina pada negara anggota NATO, menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pertahanan udara aliansi dalam menghadapi ancaman pesawat tak berawak. Andris Sprūds, yang sebelumnya menjabat sejak September 2023, menjelaskan keputusan mundurnya sebagai upaya menjaga stabilitas institusi militer dari kegaduhan politik. “Saya melangkah mundur untuk melindungi tentara Latvia agar tidak terseret ke dalam kampanye politik,” ujar Sprūds.
Untuk mengisi posisi yang kosong, PM Siliņa mengangkat Kolonel Raivis Melnis dari militer Latvia sebagai Menteri Pertahanan baru, mengingat pengalamannya yang strategis terkait situasi di Ukraina. Ketegangan meningkat ketika dua drone Ukraina menargetkan Rusia dan melanggar wilayah udara Latvia, dengan salah satu drone menghantam tangki minyak kosong di dekat kota Rēzekne.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyatakan bahwa drone tersebut adalah milik Ukraina, yang tersasar akibat gangguan dari sistem peperangan elektronik Rusia. “Tujuan kami adalah untuk memastikan keamanan maksimal bagi Latvia, negara-negara Baltik lainnya, dan Finlandia,” kata Sybiha. Latvia menegaskan bahwa wilayah mereka tidak boleh digunakan untuk menyerang Rusia, sementara jatuhnya Menhan tersebut menambah daftar lengsernya pejabat pertahanan di negara sayap timur NATO.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

