ZONAUTARA.com – Mantan pekerja acara ‘Married at First Sight UK’ mengungkapkan kepada BBC News bahwa ada fokus yang tidak sehat terhadap kehidupan seksual peserta dalam acara tersebut. Mereka menyatakan bahwa tim produksi secara sengaja memanaskan emosi peserta demi menghasilkan drama yang menarik ditonton. Laporan ini muncul setelah investigasi Panorama terhadap acara tersebut.
Dua mantan peserta melaporkan mereka mengalami pemerkosaan oleh pasangan di layar, dan satu lainnya menuduhkan tindakan seksual tanpa persetujuan. Pasangan yang dituduh membantah semua tuduhan ini. Pengacara CPL, perusahaan produksi acara tersebut, menyatakan bahwa tuduhan ini berasal dari sebagian kecil mantan pekerja, dan mereka menekankan komitmen perusahaan terhadap kesejahteraan peserta, yang menurut mereka terbukti dari tingginya tingkat kembalinya kru ke serial MAFS.
Channel 4 sebagai saluran penyiar acara menekankan bahwa kesejahteraan peserta selalu menjadi perhatian utama di semua produksi mereka. Klaim terbaru ini muncul setelah pekan yang sulit bagi acara tersebut, di mana semua episode telah dihapus dari layanan streaming Channel 4, dan seorang sponsor utama telah menarik diri, membuat nasib serial terbaru yang telah difilmkan tetapi belum disiarkan masih belum pasti.
Menurut beberapa pekerja yang berbicara dengan BBC, ada penekanan pada seks sejak awal pembuatan serial baru. Salah satu pekerja, yang bersedia disebutkan namanya — Soraya Spiers — menyebut budaya di acara tersebut “beracun dari atas ke bawah.” Pada malam pernikahan, ada ekspektasi bahwa kru harus mencari petunjuk apakah pasangan akan tidur bersama, meskipun mereka baru saja saling mengenal.
Mantan pekerja lain mengklaim ada anggota senior tim produksi yang menekankan bahwa mereka ingin pasangan tidur bersama. Para kru dikatakan sering membuat taruhan tentang siapa yang akan tidur bersama lebih dulu, meskipun taruhan itu lebih bersifat lelucon. Fokus yang berlebihan pada keintiman dianggap “tidak sehat” oleh para mantan pekerja tersebut.
Pengacara CPL menyatakan bahwa peserta tidak ditekan atau diharapkan untuk berhubungan seks, dan pengaturan tidur alternatif tersedia bagi mereka. Namun, beberapa mantan pekerja menyebutkan bahwa acara tersebut lebih menekankan pada “kembang api, bentrokan, dan drama” daripada cinta sejati, dan ada upaya untuk memanipulasi peserta agar menciptakan konfrontasi demi meningkatkan dramatisasi.

