ZONAUTARA.com – Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengungkapkan adanya praktik curang dalam perdagangan komoditas strategis di sektor sawit dan batu bara yang telah berlangsung selama 40 tahun. Praktik ini disebut Hasan merugikan Indonesia hingga Rp2.600 triliun per tahun.
Menurut Hasan, praktik semacam ini sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan orang-orang yang terlibat di sektor tersebut. Namun, kurangnya keberanian untuk membahas dan mencari solusi menjadi hambatan utama. “Praktek ekonomi kita 40 tahun terakhir mungkin itu ada sesuatu yang menjadi pengetahuan umum. Orang yang ada di sektor itu tahu kejadian ini sebenarnya ada tapi tidak mau membicarakannya,” katanya dalam sebuah unggahan di Instagram, Selasa (2/6).
Hasan menyatakan bahwa antara lain praktek undercounting dan underinvoicing sering terjadi. Ia memberi contoh dengan menyebutkan bahwa volume ekspor yang sebenarnya 10 seringkali hanya dicatat 5, sementara nilai ekspor Rp100 miliar diklaim hanya Rp50 miliar. Selain itu, ada juga praktek transfer pricing yang melibatkan perusahaan afiliasi di luar negeri.
“Saya bikin perusahaan Indonesia kemudian saya juga bikin perusahaan di Singapura misalnya. Saya jual dari perusahaan Indonesia ke perusahaan saya yang di Singapura dengan harga di bawah harga pasar,” ungkap Hasan lebih lanjut. Dari skema ini, keuntungan yang seharusnya dinikmati di Indonesia justru mengalir ke luar negeri.
Hasan menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto kini mengambil langkah tegas menghadapi masalah ini dengan menerapkan sistem perdagangan satu pintu melalui Danantara Sumber Daya Indonesia. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk mengembalikan hak rakyat dan menegakkan kedaulatan ekonomi. “Langkah berani ini diambil demi mengembalikan hak rakyat dan menegakkan kedaulatan ekonomi,” ujarnya.
Diolah dari laporan CNN Indonesia.

