ZONAUTARA.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan pentingnya kepekaan terhadap kondisi masyarakat dalam pengambilan kebijakan kepada peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVII dan Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXIX Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI. Pembekalan ini disampaikan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada Rabu (3/6/2026).
“Sebagai para calon pemimpin, ini harus ada kepekaan, peka terhadap apa yang terjadi di akar rumput,” tegas Gibran dalam acara pembekalan tersebut. Ia menekankan bahwa kepekaan terhadap persoalan akar rumput menjadi modal penting bagi calon pemimpin dalam menjalankan tugas dan mengambil keputusan.
Pembekalan ini diikuti oleh peserta dari berbagai unsur, yakni pemerintahan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, serta peserta mancanegara. Gibran juga mencontohkan masalah distribusi pupuk yang kerap terkendala oleh banyaknya regulasi.
“Coba bayangkan 145 regulasi terkait pupuk. Sudah susah, mahal, kadang-kadang barangnya tidak ada. Kita tidak ingin itu terjadi lagi,” ujar Gibran.
Wapres menilai berbagai persoalan seperti ini hanya bisa dipahami apabila pemimpin turun langsung untuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, peserta Lemhannas didorong untuk lebih sering turun ke lapangan dan menjalin komunikasi intensif guna mendapatkan gambaran nyata mengenai tantangan yang dihadapi.
Selain itu, Gubernur Lemhannas RI, Tubagus Ace Hasan Syadzily, menyampaikan bahwa peserta mendapatkan pembekalan tentang wawasan kebangsaan, kepemimpinan nasional, ketahanan nasional, geopolitik, dan geostrategi. Tema untuk P3N adalah “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Nasional”, sementara untuk P4N adalah “Penguatan Ketahanan Pangan untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Rakyat”.
Turut menghadiri acara tersebut Wakil Gubernur Lemhannas RI, Erwin S. Aldedharma; Pelaksana Tugas Sekretaris Wakil Presiden, Al Muktabar; serta Staf Khusus Wakil Presiden Nicolaus Teguh Budi Harjanto.
Diolah dari laporan Antara.

