ZONAUTARA.com – Akif, seorang pemuda berusia 28 tahun dari Desa Sumberjo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menjadi petani. Seperti banyak generasi Z lainnya, ia awalnya membayangkan dirinya bekerja sebagai pekerja kantoran. Setelah menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember selama lebih dari tujuh tahun, Akif sempat melamar pekerjaan di berbagai tempat namun tak kunjung mendapatkan hasil yang diharapkan.
Meskipun mendapat kesempatan magang di Pelindo selama sembilan bulan, yang membuatnya merasakan rutinitas bekerja kantoran, ia mulai merasakan ketidakpuasan ketika menyaksikan keluhan dari rekan-rekannya yang sudah berusia paruh baya. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan menekuni bidang pertanian.
Sebelum terjun sepenuhnya ke pertanian, Akif sempat terlibat dalam kegiatan politik lokal selama kurang lebih satu tahun. Namun, upayanya dalam membantu pemenangan calon di Pemilu dan Pilkada 2024 tidak memberikan hasil yang berarti. Akif akhirnya mulai mengelola sawah warisan dari ayahnya, meski pada awalnya ia merasa enggan.
Kendala yang dihadapi Akif cukup berat. Tanpa pengalaman yang cukup dalam pertanian, hasil panennya jauh dari kata memuaskan, hanya sekadar bisa mengembalikan modal. Akif sempat meninggalkan lahannya dalam waktu cukup lama, hingga tumbuh liar dan terabaikan. Namun, situasi ini berubah ketika orang tuanya memperkenalkannya dengan pupuk organik Sari Luhur yang mulai memberi hasil positif pada lahan garapannya.
Perubahan ini memberi Akif harapan baru di dunia pertanian, dan ia kini bertekad untuk mengembangkan kariernya sebagai petani dengan lebih serius.
Diolah dari laporan Tirto.id.

