ZONAUTARA.com – Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh, mendesak Kementerian Pertahanan (Kemhan) menghentikan sementara pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) untuk calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026. Desakan ini muncul setelah jumlah peserta yang meninggal dunia selama mengikuti pelatihan bertambah menjadi lima orang.
Satu korban terakhir yang dilaporkan adalah Nola Dya Sari, yang meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil di Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Sebelumnya, kematian telah menimpa empat peserta lain yakni Yonanda Muhammad Taufiq pada 17 Juni 2026, Anisa Muyassaroh pada 18 Juni 2026, Novia Rahmadhani Sihotang pada 22 Juni 2026, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan pada 25 Juni 2026.
Menurut Oleh Soleh, “Peristiwa meninggalnya lima orang calon manajer Kopdes Merah Putih ini merupakan masalah yang sangat serius. Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal. Karena itu saya mendesak Kementerian Pertahanan menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2026).
Politikus Fraksi PKB tersebut menegaskan bahwa kematian para peserta tidak boleh dianggap remeh, mengingat mereka adalah putra-putri terbaik bangsa yang berupaya berkontribusi dalam pembangunan ekonomi masyarakat melalui program Kopdes Merah Putih. “Mereka adalah anak-anak bangsa yang berjuang untuk mendukung keberhasilan program Kopdes Merah Putih dengan mendaftarkan diri sebagai calon manajer. Karena itu setiap kejadian yang menyebabkan hilangnya nyawa harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa,” tambahnya.
Oleh Soleh juga menyerukan evaluasi total terhadap sistem pembinaan dan pelatihan bagi calon manajer Kopdes, menekankan bahwa pola pelatihan harus disesuaikan dengan latar belakang peserta yang berasal dari masyarakat sipil. “Harus ada evaluasi dan perbaikan total terhadap pola pembinaan serta pelatihan yang diberikan. Mereka adalah masyarakat sipil sehingga pelatihan fisik yang dilakukan tidak boleh terlalu berat. Mereka bukan tentara dan tentu kemampuan fisiknya tidak sama dengan prajurit yang telah menjalani pendidikan kemiliteran,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama Program SPPI dan Kopdes Merah Putih adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola koperasi sekaligus menggerakkan pembangunan ekonomi desa. Oleh karena itu, menurutnya, aspek keselamatan dan kesehatan peserta harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan pelatihan. “Kementerian Pertahanan harus melakukan evaluasi menyeluruh, mengungkap penyebab meninggalnya para peserta secara transparan, serta memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang,” pungkasnya.
Diolah dari laporan Tirto.id.

