Industri Petrokimia Tertekan Impor Murah Produk China

Industri petrokimia nasional tertekan akibat produk bahan baku plastik murah dari China yang membanjiri pasar Indonesia.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: CNBC Indonesia – News

ZONAUTARA.com – Industri petrokimia nasional di Indonesia kini menghadapi tantangan berat akibat membanjirnya produk bahan baku plastik impor asal China dengan harga yang sangat terjangkau. Kondisi ini, menurut para pelaku industri, mulai mengganggu kinerja perusahaan dan bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) jika tidak segera diantisipasi pemerintah.

Lonjakan impor ini melibatkan sejumlah komoditas utama seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyvinyl chloride (PVC), dan polyethylene terephthalate (PET). Produk-produk ini diperkirakan masuk dengan praktik dumping sehingga harganya jauh di bawah harga pasar normal.

“Impor bahan baku plastik PE, PP, PVC, dan PET dari China kenaikannya cukup tinggi secara volume. Mereka juga banting harga sehingga produknya lebih murah dibandingkan yang lain,” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, kepada CNBC Indonesia.

Produsen dalam negeri turut terbebani dengan tingginya biaya energi, terutama harga gas industri yang dinilai belum kompetitif. Pergeseran ini mengancam keuntungan industri hulu yang terus mengecil seiring dengan tekanan harga dari produk impor murah.

Kebutuhan bahan baku plastik dalam negeri yang besar sebenarnya belum bisa dipenuhi sepenuhnya oleh produksi lokal. Sehingga produk impor tetap memenuhi kekurangan, yang saat ini semakin mudah menguasai pasar karena harganya yang murah.




Akibatnya, beberapa perusahaan sudah mengurangi jam operasional untuk menekan biaya produksi. Sementara langkah ini belum sampai memicu PHK di sektor hulu, aktivitas usaha pendukung mulai merasakan dampaknya.

“Di industri hulu memang belum ada PHK, tetapi pengurangan jam kerja sudah mulai terjadi. Yang sebelumnya menggunakan sistem shift kini berubah menjadi harian,” lanjut Fajar. Ia juga menambahkan, praktik dumping yang dibiarkan bisa menunda investasi baru di sektor petrokimia.

Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com