ZONAUTARA.com – Presiden Prabowo Subianto dalam waktu satu pekan telah berhasil meningkatkan intensitas diplomasi tingkat tinggi, menjadikan Indonesia sebagai jangkar geopolitik di kawasan. Pada pekan pertama Juli 2026, Jakarta menjadi pusat perhatian dunia dengan kunjungan kenegaraan dari tiga pemimpin negara dari poros geopolitik berbeda.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, menyatakan bahwa rangkaian diplomasi ini tidak sekadar agenda protokoler biasa, melainkan menunjukkan kekuatan posisi Indonesia di panggung internasional. “Ini adalah konvergensi kepentingan strategis. Indonesia didatangi mitra kunci dari Eurasia, ASEAN, dan Asia Selatan. Jakarta kini menjadi titik temu diplomasi, bukan sekadar tamu di forum orang lain,” ujarnya.
Pertemuan pertama dengan Presiden Lukashenko membuka peluang kerja sama dengan Uni Ekonomi Eurasia, terutama di sektor industri dan pupuk yang krusial bagi ketahanan pangan Indonesia. Kemudian, pertemuan dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memperkuat kerjasama regional, dengan fokus pada pengamanan Selat Malaka.
Puncak dari pekan diplomasi ini adalah pertemuan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Kesepakatan kerja sama pertahanan dan dukungan India terhadap restorasi Candi Prambanan menandai komitmen kuat kedua negara dalam merawat warisan budaya. “Prambanan adalah bukti hidup ikatan peradaban Indonesia dan India selama ribuan tahun,” kata Yuddy.
Yuddy menegaskan bahwa kunjungan berturut-turut para pemimpin dunia ke Indonesia adalah hasil dari kepemimpinan yang berwawasan dan berwibawa. “Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN. Sudah sepantasnya Presiden Prabowo menjadi jangkar geopolitik kawasan, tempat berlabuhnya kepentingan banyak bangsa,” pungkasnya.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

