406 siswa baru MAN 1 Kotamobagu didorong wujudkan aksi nyata untuk lingkungan

Salah satu referensi yang digunakannya adalah berbagai hasil liputan Zonautara.com mengenai tata kelola sampah Kotamobagu.

Editor: Redaktur
Siswa baru MAN 1 Kotamobagu mengikuti kegiatan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) 2026, (Foto: Koleksi MAN1 Kotamobagu).

ZONAUTARA.com – Alih-alih hanya mengenalkan lingkungan sekolah, sebanyak 406 siswa baru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kotamobagu diajak memahami persoalan lingkungan yang tengah dihadapi daerah. Melalui kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) 2026, para peserta ditantang menjadi “Generasi Penjaga Bumi” melalui aksi-aksi sederhana selama tujuh hari sebagai langkah awal membangun budaya peduli lingkungan.

Mengusung tema Belajar Menjadi Generasi Penjaga Bumi: Dari Sekolah Menuju Perubahan Kota Kotamobagu, kegiatan tersebut menghadirkan Direktur Pusat Pendidikan Mondowana sekaligus dosen IAI Muhammadiyah Kotamobagu, Siti Hadija Junaidi, S.Pd., M.Pd.

Menurutnya, masa depan lingkungan Kota Kotamobagu tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah maupun pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh karakter generasi muda yang sedang tumbuh hari ini.

406 siswa baru MAN 1 Kotamobagu didorong wujudkan aksi nyata untuk lingkungan
Ratusan siswa baru MAN 1 Kotamobagu diajak memahami berbagai persoalan lingkungan di Kota Kotamobagu serta peran generasi muda dalam menjaga bumi melalui aksi-aksi sederhana yang dimulai dari lingkungan sekolah. (Foto: Koleksi MAN 1 Kotamobagu)

Berangkat dari pemikiran tersebut, Siti mengaku mengubah pendekatan materi yang semula diminta panitia mengenai pengelolaan sampah untuk pembangunan berkelanjutan menjadi materi yang lebih dekat dengan kehidupan para siswa.

“Saya mengubah pendekatannya menjadi Belajar Menjadi Generasi Penjaga Bumi, karena saya ingin siswa MAN memahami bahwa mereka memiliki peran penting dalam masa depan lingkungan Kota Kotamobagu,” ujarnya usai menyampaikan materi, Selasa (14/7/2026).




Sebelum menyusun materi, Siti mengaku tidak hanya mempelajari karakter peserta didik, tetapi juga melakukan observasi terhadap berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi Kota Kotamobagu. Salah satu referensi yang digunakannya adalah berbagai hasil liputan Zonautara.com mengenai tata kelola sampah Kotamobagu.

Temuan mengenai kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Poyowa Kecil, tantangan pengelolaan sampah, hingga dampaknya terhadap lingkungan dijadikan sebagai contoh nyata dalam pembelajaran. Menurutnya, pendekatan berbasis persoalan lokal akan lebih mudah dipahami siswa dibandingkan hanya menyampaikan teori.

“Saya ingin mereka memahami bahwa persoalan sampah bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Itu terjadi di Kota Kotamobagu, di tempat mereka tinggal. Karena itu saya memilih menggunakan contoh-contoh nyata agar muncul rasa memiliki dan tanggung jawab untuk ikut menjadi bagian dari solusinya,” jelasnya.

Selain melihat berbagai persoalan yang dihadapi daerah, Siti juga mempelajari praktik baik yang telah dilakukan MAN 1 Kotamobagu. Menurutnya, sekolah tersebut telah memiliki fondasi yang kuat dalam pendidikan lingkungan.

“Saya mencari tahu apa yang sudah dilakukan MAN 1 Kotamobagu. Ternyata mereka bahkan sudah mendapatkan penghargaan Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan sekolah. Mereka juga konsisten menjalankan berbagai program seperti pengolahan sampah, kaderisasi, leadership, Youth Camp, clean up sungai, bimbingan belajar berbayar sampah, membuat ecobrick, hingga dialog-dialog tentang konservasi dan pengelolaan sampah,” ungkapnya.

Berbekal kondisi tersebut, Siti memilih tidak lagi berfokus pada aspek teknis pengelolaan sampah. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah membangun cara berpikir dan kesadaran bahwa menjaga bumi merupakan tanggung jawab setiap manusia.

406 siswa baru MAN 1 Kotamobagu didorong wujudkan aksi nyata untuk lingkungan
MATAMUDA 2026 MAN 1 Kotamobagu menghadirkan pembelajaran yang berbeda. Sebanyak 406 siswa baru tidak hanya dikenalkan dengan lingkungan madrasah, tetapi juga diajak menjadi “Generasi Penjaga Bumi” melalui edukasi pengelolaan sampah, diskusi persoalan lingkungan Kota Kotamobagu, dan tantangan aksi selama tujuh hari. (Foto: Koleksi MAN 1 Kotamobagu).

“Regulasi sudah mewajibkan, begitu juga nilai-nilai agama mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga bumi. Maka fokus saya adalah membangun pengetahuan, membangun kesadaran, kemudian mendorong mereka melakukan aksi,” katanya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat melalui upaya pengurangan sampah dari sumber dengan menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

Komitmen tersebut kemudian diterjemahkan melalui Challenge 7 Hari Menjadi Penjaga Bumi. Selama sepekan, para siswa diajak menjalankan aksi sederhana, mulai dari memilah dan mengurangi sampah, membawa tumbler untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengumpulkan sampah organik untuk pengomposan di sekolah, mengajak keluarga menerapkan prinsip 3R, membersihkan lingkungan sekitar, hingga menuliskan refleksi mengenai pengalaman mereka menjaga bumi.

Pendekatan yang digunakan selaras dengan temuan Global Waste Management Outlook 2024 yang diterbitkan United Nations Environment Programme (UNEP) bersama International Solid Waste Association (ISWA). Laporan itu menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun infrastruktur pengelolaan, tetapi memerlukan perubahan perilaku masyarakat sejak dari sumbernya. UNEP juga mencatat sekitar 38 persen sampah di dunia masih dikelola secara tidak terkendali, sehingga pendidikan lingkungan dan pengurangan sampah sejak dari rumah menjadi strategi penting dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Menurut Siti, generasi muda merupakan kelompok yang sedang berada pada fase pembentukan pola pikir, kebiasaan, hingga karakter. Kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten akan berkembang menjadi karakter, lalu membentuk budaya yang berdampak bagi lingkungan.

“Generasi muda sedang berada pada fase membangun cara berpikir. Mereka harus dilatih membentuk kebiasaan. Dari kebiasaan melakukan aksi 3R akan terbentuk karakter. Jika dilakukan secara kolektif, akan tumbuh budaya peduli lingkungan yang pada akhirnya berkontribusi terhadap masa depan Kota Kotamobagu yang lebih bersih dan sehat. Jadi perubahan harus dimulai dari perubahan generasi,” jelasnya.

Materi yang mengangkat persoalan nyata di Kota Kotamobagu membuat sesi diskusi berlangsung hidup. Tidak hanya bertanya mengenai kehidupan sekolah, sejumlah siswa justru mengangkat isu-isu kebijakan lingkungan yang tengah dihadapi pemerintah daerah.

Muhammad Fadil Fais Fardiansyah mempertanyakan berbagai program lingkungan yang telah dijalankan Pemerintah Kota Kotamobagu.

“Apa program lingkungan yang sudah ditetapkan di Kotamobagu? Dan apa dampaknya bagi warga Kota Kotamobagu?” tanyanya.

Sementara itu, Arki Suratinoyo menyoroti masa depan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) apabila kapasitasnya telah penuh.

“Apa tindakan yang akan diambil pemerintah jika TPA sudah penuh, walaupun masyarakat sudah mengumpulkan dan mendaur ulang sampah? Mengapa pemerintah tidak membuat fasilitas untuk mendaur ulang sampah organik dan anorganik? Apakah karena efisiensi anggaran?” ujarnya.

Antusiasme peserta juga dirasakan oleh pengurus OSIS MAN 1 Kotamobagu, Nia Paputungan. Ia mengaku memperoleh cara pandang baru terhadap sampah yang selama ini sering dianggap tidak memiliki nilai.

“Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini. Saya jadi tahu bahwa apa yang selama ini dianggap sampah ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila dikelola dengan baik. Materi ini juga membuat kami lebih sadar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang kami lakukan setiap hari,” katanya.

Suka berkelana ke tempat baru, terutama di alam bebas. Mencintai sastra fiksi dan tradisi. Berminat pada isu-isu ekofeminisme, gender, hak perempuan dan anak. Beberapa kali menerima fellowship liputan mendalam. Tercatat sebagai anggota AJI.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com