ZONAUTARA.com – Yann LeCun, tokoh terkemuka di bidang kecerdasan buatan, mengutarakan kritiknya terhadap model bahasa besar (LLM) dalam AI, yang menurutnya bukanlah produk kecerdasan yang sesungguhnya. LeCun menggambarkan bahwa seorang balita bisa mengantisipasi jatuhnya suatu benda, tetapi LLM hanya bisa memprediksi berdasarkan statistik, dan sering kali salah. Pandangan ini mencerminkan ketidakpuasan LeCun terhadap arah perkembangan AI saat ini.
LeCun, penerima Turing Award 2018 dan pencipta convolutional neural network, belakangan angkat bicara mengenai kelemahan yang menurutnya dimiliki LLM. Ia menyatakan bahwa LLM tidak akan pernah mencapai kecerdasan setara manusia. Mantan kepala ilmuwan AI Meta dan pendiri laboratorium riset FAIR ini kini mendirikan AMI Labs setelah meninggalkan Meta akibat ketegangan mengenai arah pengembangan AI.
Sebelum meninggalkan Meta, LeCun berpidato di simposium AI di Seoul, Korea Selatan, menegaskan keyakinannya bahwa LLM hanya akan menjadi barang usang dalam lima tahun ke depan. Setelah mendirikan AMI Labs, dia mengumpulkan pendanaan terbesar sepanjang sejarah perusahaan rintisan di Eropa sebesar US$1,03 miliar dari sejumlah investor besar, termasuk Cathay Innovation dan Jeff Bezos.
Misi AMI Labs adalah mengembangkan sistem AI yang benar-benar memahami dunia. World Model adalah konsep yang diadopsi AMI Labs, berbeda dengan LLM. World Model dilatih dengan data dari video, suara, dan sensor, untuk memprediksi perubahan dunia secara abstrak. LeCun menjelaskan teknologi yang digunakannya, JEPA, tidak berusaha merekonstruksi setiap detail, melainkan fokus pada representasi abstrak yang berfungsi seperti cara manusia berimajinasi.
Menurut Alexandre LeBrun, kepala operasi AMI Labs, meskipun visi mereka menjanjikan, perusahaan ini memerlukan waktu sebelum menghasilkan produk yang bisa digunakan masyarakat luas. World Model diharapkan mampu mengatasi batasan yang selama ini ada pada model AI konvensional dan membawa AI menuju kecerdasan sejati.
Diolah dari laporan Tirto.id.

