Warga Desa Matole di Sitaro terjang cuaca buruk naik perahu demi beli air minum

100 galon air yang dibawa dengan perahu hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga hari.

Editor: Redaktur
Screenshot

ZONAUTARA.com — Warga Desa Matole, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, mulai menghadapi menipisnya cadangan air setelah hampir empat bulan mengandalkan persediaan air hujan.

Desa yang berada di sebuah pulau kecil tersebut dihuni sekitar 155 kepala keluarga. Sebagian besar warga selama ini menggunakan air hujan yang ditampung dalam bak sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, panjangnya musim kemarau membuat persediaan air di bak penampungan warga mulai menipis.

Kepala Desa Matole, Hendrik Araro, mengatakan kondisi tersebut membuat pemerintah desa harus mencari pasokan air dari luar pulau.

Pada Senin (24/8/2026), Araro baru tiba di Pulau Matole sekitar pukul 19.00 WITA setelah membawa 100 galon air isi ulang yang dibeli dari Desa Sawang, Pulau Siau.




“Air ini dijual kepada masyarakat di Desa Matole, Buhias dan wilayah Tapilde,” kata Araro.

Persoalannya, 100 galon air yang dibawa tersebut hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga hari. Untuk memenuhi kebutuhan warga selama satu minggu, Araro mengatakan pengangkutan air harus dilakukan hingga dua sampai tiga kali.

“Untuk satu minggu bisa dua kali kalau mendesak tiga kali mengangkut air,” bebernya.

Air isi ulang tersebut dijual kepada warga dengan harga sekitar Rp15.000 per galon. Namun, air yang didatangkan dari luar pulau belum sepenuhnya menjadi solusi.

Araro mengatakan masih banyak warga yang terbiasa mengonsumsi air hujan sehingga tidak mudah beralih menggunakan air isi ulang.

“Masih banyak yang terbiasa dengan air hujan, jadi sulit minum air isi ulang,” ungkapnya.

Kekhawatiran terbesar muncul jika hujan belum juga turun dalam satu bulan ke depan. Cadangan air hujan yang tersimpan di rumah warga akan semakin menipis, sementara kebutuhan air untuk minum dan keperluan rumah tangga terus berjalan setiap hari.

Kondisi tersebut juga membuat Desa Matole semakin bergantung pada pasokan air dari luar pulau. Jika kebutuhan meningkat, frekuensi pengangkutan air harus ditambah agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap air bersih.

Bagi warga Matole, hujan bukan sekadar penanda berakhirnya musim kemarau. Hujan menjadi sumber utama untuk mengisi kembali cadangan air rumah tangga yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan masyarakat pulau tersebut.

Jika hujan tak kunjung turun, persoalan air bersih berpotensi semakin berat karena masyarakat harus terus membeli dan mendatangkan air dari pulau lain, sementara kemampuan warga untuk membeli air juga terbatas.

Share This Article
Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com