Kemarau Sulut: 1.119 hotspot, 188 kebakaran, dan data perlu disinkronisasi

Data yang dipaparkan dalam rapat penanganan Karhutla Sulawesi Utara menunjukkan El Niño sangat kuat, ratusan kejadian kebakaran, dan lebih dari seribu deteksi hotspot. Namun ketika data dibaca bersama, muncul perbedaan angka dan metode yang penting dipahami.

Editor: Redaktur
Kebakaran lahan di Inobonto, Bolaang Mongondow pada 1 Agustus 2026. (Foto: ist)

ZONAUTARA.com – Ketika Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus mengumpulkan jajaran pemerintah daerah, Forkopimda dan instansi teknis dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Wisma Negara Bumi Beringin, Manado, Rabu (26/8/2026), Sulut sedang berada pada salah satu fase paling rawan dalam musim kemarau tahun ini.

“Prinsipnya kami sama-sama menyamakan frekuensi, menyamakan langkah antisipasi. Bagaimana peristiwa Karhutla yang saat ini terpengaruh fenomena El Nino sangat memengaruhi Sulawesi Utara khususnya. Kita sepakat untuk selesaikan dengan cepat,” ujar Yulius kepada awak media usai rapat.

Gubernur meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari pembakaran sampah sembarangan. Menurutnya, kondisi panas membuat api kecil lebih mudah membesar dan menyebar.

“Peran dan kepedulian masyarakat sangat tinggi. Untuk itu saya imbau, saya minta kepada masyarakat Sulawesi Utara, mari kita bersama-sama menjaga Karhutla agar tidak terjadi di Sulut. Caranya yaitu jangan membakar lahan dan jangan membakar sampah sembarangan,” katanya.

Peringatan tersebut tidak berdiri sendiri. Sedikitnya lima bahan paparan dalam Rakor itu mulai dari pemerintah daerah, sektor kehutanan, BMKG hingga Polda Sulut, memperlihatkan kombinasi antara kemarau, El Niño, hotspot dan kejadian kebakaran yang sudah terjadi di berbagai daerah.

Tetapi ketika seluruh data itu diletakkan berdampingan, muncul satu hal yang penting: angka Karhutla tidak bisa dibaca sebagai satu statistik tunggal.

Hotspot bukanlah jumlah kebakaran. Jumlah kebakaran bukan pula luas lahan yang terbakar. Periode pencatatan setiap instansi juga berbeda. Dan di beberapa bagian, angka dalam paparan bahkan belum sepenuhnya sinkron.

el nino
Kebakaran lahan di perbukitan di Inobonto dekat jalan Trans Sulawesi pada Agustus 2026. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

El Niño sangat kuat, diprediksi bertahan hingga awal 2027

Dalam paparan BMKG Sulawesi Utara, anomali suhu permukaan laut atau SST di kawasan Niño 3.4 pada periode Juni–Juli–Agustus 2026 mencapai +2,22 derajat Celsius.

BMKG mengategorikan kondisi tersebut sebagai kejadian El Niño dengan intensitas sangat kuat. El Niño 2026 diprediksi bertahan hingga awal 2027.

Model ECMWF yang ditampilkan BMKG juga menunjukkan intensitas El Niño menguat mulai Juli–Agustus–September. Pada saat yang sama, Indian Ocean Dipole atau IOD positif disebut mulai muncul sejak Juli.

Di Sulawesi Utara, puncak musim kemarau tidak terjadi serentak.

BMKG memprediksi ZOM 493, 494, 495, 498, 499, 500 dan 501 mencapai puncak kemarau pada Agustus, sedangkan ZOM 492, 496 dan 497 mencapai puncaknya pada September.

Durasi musim kemarau antarzona diperkirakan berkisar 10 hingga 27 dasarian, atau sekitar tiga hingga sembilan bulan.

Kemarau Sulut: 1.119 hotspot, 188 kebakaran, dan data perlu disinkronisasi

Pada 26 Agustus, BMKG mencatat suhu maksimum Sulawesi Utara mencapai 34 derajat Celsius. Angin umumnya bertiup dari selatan–barat daya dengan kecepatan 5–30 knot, sementara Kepulauan Sitaro diminta mewaspadai angin kencang.

Prediksi enam hari, 26–31 Agustus, memperlihatkan peluang hujan di Sulut cenderung ringan hingga lokal. Tidak tampak sinyal kuat untuk hujan lebat yang meluas.

Pernyataan Gubernur bahwa kekeringan perlu diantisipasi hingga November karena itu perlu dibaca sebagai pernyataan kepala daerah. Paparan teknis BMKG memberikan gambaran yang lebih rinci: puncak kemarau berbeda menurut Zona Musim, sementara fenomena El Niño sendiri diperkirakan bertahan sampai awal 2027.

Kemarau & Karhutla Sulut 2026

Lima angka untuk membaca ancaman

Angka di bawah berasal dari dataset, metode dan periode yang berbeda. Hotspot bukan jumlah kejadian kebakaran, dan jumlah kejadian bukan luas area terbakar.
+2,22
Niño 3.4
Anomali SST JJA 2026; dalam paparan BMKG dikategorikan El Niño sangat kuat.
1.119
Hotspot — total paparan
Januari–25 Agustus 2026. Penjumlahan rincian kabupaten/kota menghasilkan 1.107.
188
Kejadian kebakaran
Data Polda Sulut, periode 20 Juli–25 Agustus 2026.
227,87 ha
Luas versi Polda
Akumulasi dari 188 kejadian pada periode 20 Juli–25 Agustus 2026.
1.505,72 ha
Data hitung kehutanan
Periode Januari–Agustus 2026 dalam materi Rakor; metodologi berbeda dari data Polda.
249,01 ha
Selisih Soputan
Selisih antara angka drone 1.136,96 ha dan analisis Sentinel-2 SWIR 1.385,97 ha yang muncul dalam bahan Rakor.
Catatan metodologi: mempertahankan perbedaan angka antarsumber adalah bagian penting dari pembacaan data. Jangan menyatukan 1.119 hotspot, 188 kejadian, 227,87 ha dan 1.505,72 ha sebagai satu seri statistik.
Sumber: paparan BMKG Sulut, data SiPongi/Kementerian Kehutanan, materi Pemprov Sulut, dan paparan Polda Sulut pada Rakor 26 Agustus 2026.

1.119 hotspot dari Januari – 25 Agustus

Salah satu angka terbesar yang dipaparkan dalam rapat berasal dari data SiPongi Kementerian Kehutanan. Data tersebut mencantumkan 1.119 hotspot di Sulawesi Utara selama Januari hingga 25 Agustus 2026.

Kepulauan Siau Tagulandang Biaro atau Sitaro berada di posisi teratas dengan 359 hotspot, diikuti Bolaang Mongondow 213, Bolaang Mongondow Utara 138, Minahasa Selatan 124 dan Minahasa Utara 98.

Berikutnya Minahasa Tenggara 64, Bitung 36, Kepulauan Sangihe 20, Manado 15, Kotamobagu 13, Bolaang Mongondow Selatan 11, Kepulauan Talaud 10, Bolaang Mongondow Timur empat, sementara Tomohon dan Minahasa masing-masing satu hotspot.

Namun ketika ZONAUTARA menjumlahkan seluruh angka yang ditampilkan untuk 15 kabupaten/kota tersebut, hasilnya 1.107 hotspot, bukan 1.119. Dengan kata lain, terdapat selisih 12 hotspot antara angka total dipaparkan dan penjumlahan rincian per daerah.

Sebaran hotspot · Sulawesi Utara

Sitaro mendominasi rincian hotspot

Data SiPongi dalam materi Rakor 26 Agustus 2026 menempatkan Kepulauan Siau Tagulandang Biaro di posisi teratas. Namun total angka per kabupaten/kota tidak sama dengan total yang dicetak pada paparan.
1.119
Total hotspot yang dicetak dalam paparan
1.107
Hasil penjumlahan 15 kabupaten/kota
12
Selisih yang belum direkonsiliasi
Yang perlu dibaca hati-hati: angka 1.119 hotspot adalah total yang tertulis dalam paparan. Jika 15 angka kabupaten/kota di atas dijumlahkan, hasilnya 1.107 hotspot. ZONAUTARA mempertahankan keduanya dan tidak mengoreksi angka sumber secara sepihak.
Periode: Januari–25 Agustus 2026. Sumber: data SiPongi/Kementerian Kehutanan yang ditampilkan dalam materi Rakor Karhutla Sulut, 26 Agustus 2026. Panjang bar menggunakan nilai terbesar (Sitaro, 359 hotspot) sebagai skala 100%.

Hotspot bukan berarti kebakaran

Perbedaan ini juga penting karena satu hotspot tidak selalu berarti satu peristiwa kebakaran.

BMKG menjelaskan deteksi hotspot menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit NOAA-20, S-NPP, Terra dan Aqua. Satelit menangkap anomali suhu suatu lokasi dibanding daerah sekitarnya.

Observasi dilakukan siang maupun malam. Sebaliknya, hotspot juga dapat tidak terdeteksi ketika daerah tertutup awan atau berada dalam blank zone.

Pada 25 Agustus 2026, misalnya, BMKG mencatat satu hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Sulawesi Utara.

Karena itu, angka hotspot harus dibedakan dari catatan kejadian kebakaran di lapangan.

Polda mencatat 188 kejadian hanya dalam 37 hari

Data Polda Sulut memberikan potret yang berbeda. Untuk periode 20 Juli hingga 25 Agustus 2026, kepolisian mencatat 188 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total luas sekitar 227,87 hektare.

Manado mencatat frekuensi kejadian tertinggi, yakni 73 kejadian dengan luas sekitar 36 hektare. Bitung berada di posisi kedua dengan 22 kejadian dan 27,30 hektare, disusul Kotamobagu dengan 16 kejadian, Minahasa Utara 14, Tomohon 13 dan Minahasa Selatan 12 kejadian. Bolaang Mongondow mencatat 10 kejadian dengan luas sekitar 29 hektare.

Tetapi daerah dengan jumlah kejadian paling banyak bukanlah daerah dengan area terbakar terluas.

Minahasa Tenggara, dalam dataset Polda tersebut, hanya memiliki satu kejadian, tetapi luasan yang dicatat mencapai sekitar 75 hektare, paling tinggi dibandingkan daerah lain dalam tabel itu.

Manado berada di bawahnya dengan 36 hektare, Minahasa Selatan 30 hektare, Bolaang Mongondow 29 hektare dan Bitung 27,30 hektare.

Total tabel menghasilkan 188 kejadian dan sekitar 227,87 hektare, sesuai dengan angka total pada paparan Polda.

Peta data · Kemarau & Karhutla Sulut 2026

Satu provinsi, tiga pola kebakaran

Peta ini sengaja tidak memakai basemap. Kepulauan Sitaro, Sangihe dan Talaud ditampilkan sebagai inset agar daratan utama tidak mengecil dan pembaca dapat membandingkan kabupaten/kota dengan lebih jelas.
Daratan utama & pulau sekitar Kepulauan utara · inset S U L A W E S I U T A R A Sitaro Sangihe Talaud
Klik wilayah untuk detail

Provinsi Sulawesi Utara

1.119*
Hotspot · Jan–25 Agustus 2026
188
Kejadian · 20 Jul–25 Agu 2026
227,87 ha
Luas versi Polda · 20 Jul–25 Agu
Peringkat indikator aktif

Hotspot terbanyak

Catatan data: total hotspot yang dicetak pada paparan adalah 1.119, tetapi penjumlahan rincian 15 kabupaten/kota menghasilkan 1.107. Keduanya dipertahankan dan tidak direkonsiliasi secara sepihak.
Data: SiPongi/Kementerian Kehutanan dan Polda Sulut, dipaparkan dalam Rakor Karhutla Sulut 26 Agustus 2026. Batas administrasi: GeoJSON ZONAUTARA/Peta Nusa, referensi Kepmendagri No. 300.2.2-2138 Tahun 2025. Inset Sitaro, Sangihe dan Talaud tidak menggunakan skala yang sama dengan peta daratan utama.

Satu Sulut, tiga peta yang berbeda

Jika tiga indikator tersebut dipetakan, pola yang muncul sangat berbeda. Sitaro mendominasi data hotspot. Manado mendominasi jumlah kejadian kebakaran dalam catatan Polda. Sementara Minahasa Tenggara memiliki luas terbakar terbesar dalam dataset kepolisian untuk periode 20 Juli–25 Agustus.

Perbedaan itu menunjukkan mengapa statistik Karhutla tidak dapat diringkas hanya dengan menyebut jumlah hotspot.

Wilayah dengan banyak anomali panas satelit belum tentu mencatat kejadian kebakaran paling banyak. Daerah yang hanya memiliki sedikit kejadian pun dapat mengalami satu peristiwa dengan luasan yang besar.

Selain berbeda indikator, periodenya juga tidak sama: hotspot dihitung sejak Januari, sedangkan data kejadian dan luas Polda dalam paparan tersebut hanya mencakup rentang sekitar 37 hari.

Cara membaca data

Hotspot, kejadian, dan luas bercerita berbeda

Tiga indikator menghasilkan tiga pemimpin yang berbeda. Karena itu hotspot tidak dapat dipakai sebagai sinonim dari jumlah kebakaran atau luas area terbakar.

Hotspot

Januari–25 Agustus 2026 · SiPongi

1
Sitaro
359
2
Bolaang Mongondow
213
3
Bolaang Mongondow Utara
138
4
Minahasa Selatan
124
5
Minahasa Utara
98

Kejadian

20 Juli–25 Agustus 2026 · Polda Sulut

1
Manado
73
2
Bitung
22
3
Kotamobagu
16
4
Minahasa Utara
14
5
Tomohon
13

Luas terbakar

20 Juli–25 Agustus 2026 · Polda Sulut

1
Minahasa Tenggara
75 ha
2
Manado
36 ha
3
Minahasa Selatan
30 ha
4
Bolaang Mongondow
29 ha
5
Bitung
27,3 ha
Temuan utama: Sitaro memimpin jumlah hotspot, Manado memimpin frekuensi kejadian kebakaran, sementara Minahasa Tenggara mencatat luas terbakar terbesar dalam dataset Polda untuk periode 20 Juli–25 Agustus 2026.
Sumber: data SiPongi/Kementerian Kehutanan dan Polda Sulut yang dipaparkan dalam Rakor Karhutla Sulawesi Utara, 26 Agustus 2026. Periode dan definisi indikator berbeda.

Angka Gunung Soputan

Perbedaan paling mencolok muncul pada data kebakaran Gunung Soputan di Minahasa Tenggara. Luasan Hutan Lindung Gunung Soputan yang terkait penanganan Karhutla tercantum 1.136,96 hektare, dan disebut berdasarkan pengukuran Tim Drone BPBD Minahasa Tenggara.

Tetapi pada bahan lain dalam Rakor terdapat analisis citra Sentinel-2 menggunakan SWIR yang menyebut luas Karhutla Gunung Soputan sebesar 1.385,97 hektare. Selisih keduanya mencapai 249,01 hektare, atau sekitar 21,9 persen.

Perbedaan itu tidak otomatis berarti salah satu pengukuran keliru. Drone dan citra satelit dapat menggunakan waktu pengambilan data, resolusi, metode klasifikasi dan batas poligon yang berbeda. Tetapi tanpa penjelasan metodologi dalam paparan, belum diketahui faktor mana yang menghasilkan selisih tersebut.

Gunung Soputan

Satu kawasan, dua hasil pengukuran

Dua angka berbeda muncul dalam bahan Rakor. Perbedaan metode, waktu observasi, atau batas poligon perlu diklarifikasi kepada instansi pemilik data.
1.136,96
hektare
Pengukuran Tim Drone BPBD Minahasa Tenggara / angka Hutan Lindung pada materi kehutanan
BERBEDA
249,01 HA
1.385,97
hektare
Analisis citra Sentinel-2 (SWIR) yang ditampilkan dalam bahan Rakor
Selisih sekitar 21,9% dibanding angka 1.136,96 ha.
Catatan redaksi: jangan memilih salah satu angka sebagai “angka final” tanpa konfirmasi metodologi dan tanggal pemetaan.

1.505,72 hektare dalam data kehutanan

Paparan sektor kehutanan juga menampilkan perhitungan luas kebakaran hutan dan lahan periode Januari–Agustus 2026 dengan angka total 1.505,72 hektare. Porsi terbesar berada di Minahasa Tenggara, terutama kawasan Hutan Lindung Gunung Soputan.

Angka ini tidak dapat dibandingkan langsung dengan 227,87 hektare milik Polda, karena periode dan sumber pencatatannya berbeda. Data Polda hanya mencakup 20 Juli–25 Agustus. Data kehutanan mencakup Januari–Agustus dan menggunakan klasifikasi kawasan serta pengukuran berbeda.

Empat regu MPA, 60 personel

Untuk pencegahan, sektor kehutanan mencatat pembentukan empat regu Masyarakat Peduli Api dengan total 60 personel pada 2026. Dua regu berada di Kecamatan Posigadan, Bolaang Mongondow Selatan yakni Regu I Avatar dan Regu II Lion Star.

Dua lainnya berada di Kecamatan Kema, Minahasa Utara, yakni Laskar Api dan Bungkus-Bungkus Api. Setiap regu memiliki 15 anggota dan disebut telah dilegalkan melalui SK camat.

Bolsel dipilih antara lain karena karakter musim kemaraunya, sementara penguatan di Minahasa Utara dikaitkan dengan perlindungan zona sekitar bandara.

Paparan Kapolda Sulut menyebut Satbrimob menyiapkan 118 personel yang tersebar di Yon A, Yon B, Yon C dan Kompi IV. Satbrimob juga memiliki tujuh unit AWC atau Armoured Water Cannon dalam rincian tersebut. Ditsamapta Polda Sulut menyiapkan tambahan 40 personel dan dua unit AWC.

Strategi pengendalian yang dipaparkan kepolisian dibagi dalam tiga tahap: pencegahan, pemadaman dan penanganan pascakebakaran. Pencegahan meliputi sistem deteksi dan peringatan dini, tata air, patroli terpadu, kampanye dan mobilisasi sumber daya.

Pemadaman melibatkan TNI, Polri, BPBD, masyarakat serta perusahaan perkebunan atau kehutanan. Sementara pascakebakaran mencakup pengumpulan data, penegakan hukum dan rehabilitasi.

Polda juga mendorong pembentukan Satgas hingga tingkat desa dan kelurahan, penetapan status penanganan darurat oleh daerah terdampak serta penegakan aturan terhadap pelaku.

Dinamika iklim

Kemarau memuncak, El Niño berlanjut

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau Sulut tidak seragam, sementara El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
Juli
IOD positif mulai muncul menurut model ECMWF.
Agustus
Puncak kemarau pada ZOM 493, 494, 495, 498, 499, 500, 501.
September
Puncak kemarau pada ZOM 492, 496, 497.
Oktober
Dampak kekeringan dan Karhutla tetap perlu dipantau.
November
Masih berada dalam periode penting El Niño pada bahan lintas-instansi.
Awal 2027
BMKG memprediksi El Niño 2026 masih bertahan.
Sumber: BMKG Sulawesi Utara, pemutakhiran Dasarian II Agustus 2026.
Audit data

Angka yang perlu dikonfirmasi

Ketidaksesuaian tidak otomatis berarti data salah; bisa muncul karena pembulatan, definisi, periode, atau metodologi yang berbeda. Namun semuanya layak ditanyakan.
TemuanYang tertulisHasil baca ulangStatus
Total hotspot kab/kota1.119Penjumlahan 15 wilayah = 1.107Selisih 12
Gunung Soputan1.136,96 haSentinel-2 SWIR: 1.385,97 haBeda metode/area?
Total pemadaman + groundcheck“Total keseluruhan” 144,70 ha1.240,85 + 40,82 = 1.281,67 ha jika seluruh kategori dijumlahkanPerlu definisi
Patroli desaTotal 19 desa6 + 6 + 3 + 3 = 18Selisih 1
MPA Bolsel1 kelompok/regu, 30 personelUraian menyebut 2 reguPerlu klarifikasi
Disusun dari materi yang dipaparkan dalam Rakor Karhutla Sulut, 26 Agustus 2026.

Pencegahan tidak boleh menunggu api muncul

Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2026 meminta pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan, pencegahan dan pengendalian Karhutla dengan melibatkan TNI, Polri, instansi vertikal, dunia usaha, masyarakat, akademisi, media dan relawan.

Instruksi itu juga melarang pembukaan lahan dengan cara membakar, termasuk dengan alasan pembersihan lahan, bercocok tanam, pertanian/perkebunan, kearifan lokal maupun cara tradisional.

Gubernur serta bupati dan wali kota diminta memetakan daerah rawan, meningkatkan pemantauan hotspot, mengawasi pembukaan lahan, melakukan pemadaman dini dan memastikan kesiapan posko, personel, sarana serta anggaran.

Instruksi tersebut secara eksplisit menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum terjadi kebakaran, bukan hanya mengandalkan penanganan setelah api muncul.

Karhutla bukan satu-satunya risiko jika kemarau berlangsung panjang.

Paparan BMKG menyebut padi sebagai komoditas dengan kebutuhan air dan risiko kemarau tinggi. Jagung berada pada kategori sedang, kedelai cukup adaptif dan sorgum adaptif.

Risiko yang mungkin muncul meliputi mundurnya waktu tanam, gangguan fase vegetatif dan generatif, penurunan produktivitas hingga meningkatnya risiko puso.

Untuk sumber daya air, BMKG merekomendasikan optimalisasi fungsi waduk, embung, kolam retensi dan irigasi.

Tinggi muka air waduk juga perlu dipantau untuk mengantisipasi penurunan produksi energi dari PLTA. Pemerintah disarankan menyiapkan rencana kontingensi krisis air, mendorong panen air hujan dan gerakan hemat air.

Di sektor kesehatan, musim kering dan Karhutla dapat meningkatkan risiko ISPA, penyakit kardiovaskular dan penyakit terkait panas, serta memperburuk asma, bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronis.

Dalam kondisi kemarau seperti sekarang, pemerintah memang membutuhkan patroli, pemadam, relawan dan larangan membuka lahan dengan api. Tetapi kesiapsiagaan juga memerlukan data yang dapat dibandingkan dan dijelaskan kepada publik.

Ketersediaan data akan membantu publik memahami seberapa besar ancaman yang sebenarnya, wilayah mana yang harus diprioritaskan, dan apakah langkah pencegahan pemerintah sebanding dengan risiko yang sedang berkembang.

Di tengah El Niño yang menurut BMKG masih dapat bertahan hingga awal 2027, kualitas data pada akhirnya menjadi bagian dari mitigasi bencana itu sendiri.

Share This Article
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com