ZONAUTARA.com – Tingkat kesuburan global diperkirakan telah turun di bawah tingkat penggantian untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia. Kondisi ini diprediksi akan mengarahkan populasi dunia mengalami penurunan signifikan dalam satu generasi ke depan.
Menurut laporan dari Russia Today pada Jumat (28/8/2026), peringatan ini muncul melalui sebuah studi baru berjudul “Terra Incognita: The Economics of a Shrinking World” yang diterbitkan awal bulan ini oleh profesor ekonomi Jesus Fernandez-Villaverde dari University of Pennsylvania dan peneliti Patrick Norrick dari Northwestern University.
Jesus dan Patrick menekankan bahwa tingkat kesuburan rendah yang berlangsung lama dapat menyebabkan penyusutan jumlah tenaga kerja, mempercepat penuaan masyarakat, serta membebani ekonomi dan sistem kesejahteraan secara masif. Para peneliti menyatakan manusia kemungkinan besar sudah berada di bawah tingkat kesuburan penggantian, yaitu rata-rata jumlah anak per wanita yang diperlukan agar setiap generasi dapat menggantikan dirinya sendiri, yang secara global berada di angka sekitar 2,2 sementara saat ini berada di sekitar 2,19.
Penelitian ini mencakup 236 negara dan wilayah mulai dari tahun 1950 hingga 2023, dengan hasil tingkat kesuburan menurun drastis di 219 negara. Secara rata-rata, berbagai negara kehilangan sekitar 0,062 kelahiran per wanita tiap tahunnya, tanpa ada indikasi bahwa tren ini akan melandai.
Studi tersebut menekankan bahwa konsekuensi ekonomi dari penurunan populasi ini akan sangat luas. Generasi yang lebih kecil berarti lebih sedikit pekerja yang harus mendukung populasi lansia yang bertambah, sehingga membebani dana pensiun, perawatan kesehatan, dan keuangan publik. Di Amerika Serikat, prediksi menunjukkan kombinasi pertumbuhan produktivitas tahunan 2% dengan kontraksi tenaga kerja 0,5% akan memangkas pertumbuhan PDB jangka panjang menjadi sekitar 1,5%.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

