ZONAUTARA.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung mengklaim Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2026 tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya dan hiburan, tetapi juga menunjukkan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat Kota Bitung.
Selama delapan hari pelaksanaan, sejak tanggal 3 hingga 10 Oktober 2026, sebanyak 47 tenan UMKM bersama sejumlah tenant expo mencatatkan estimasi omzet mencapai Rp.1 miliar.
Angka tersebut belum termasuk transaksi dari pelaku UMKM dan usaha lainnya yang beraktivitas di luar kawasan Satrol Kodaeral VIII maupun di sekitar jalan masuk lokasi festival, serta jasa parkiran masyarakat setempat yang diperkirakan mencapai setengah dari capaian Zona Inti FPSL.
Hal ini memperlihatkan bahwa perputaran ekonomi yang tercipta selama FPSL 2026 berpotensi jauh lebih besar dari nilai transaksi yang tercatat di Bitung Market & Expo.
Selama kegiatan FPSL berlangsung, kawasan Satrol Kodaeral VIII dipadati pengunjung yang menikmati berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pagelaran budaya, Sailing Pass yang berkolaborasi dengan Parade Kapal MARPOLEX 2026, Tuna and Kolintang Experience, hingga konser musik pada malam hari.
Berdasarkan estimasi kepadatan kawasan dan sirkulasi pengunjung yang terus bergerak keluar dan masuk, jumlah kunjungan pada hari puncak diperkirakan mencapai kisaran 44.000–50.000 sepanjang hari, dengan aktivitas terpadat berlangsung pada malam konser.
Besarnya antusiasme ini turut memberikan peluang ekonomi bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, penyedia jasa, serta berbagai usaha masyarakat yang berada didalam maupun di sekitar kawasan festival.
Mengutamakan ekonomi daerah, FPSL 2026 hadir dengan pendekatan berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Melalui skema pembiayaan sekitar 80 persen non-APBD dan 20 persen APBD, penyelenggaraan festival tahun ini semakin menekankan kolaborasi dan kemandirian pembiayaan, sekaligus menjadikan perputaran ekonomi lokal sebagai salah satu sasaran utama.
Manfaat ekonomi yang diharapkan tidak hanya dirasakan oleh pelaku UMKM, tetapi juga seniman, musisi lokal, pekerja kreatif, tenaga produksi, dan berbagai penyedia jasa pendukung kegiatan.
“Ada anggaran sebesar 500 juta rupiah yang dikeluarkan Pemerintah namun dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk penghasilan UMKM besarannya mencapai 1,5 miliar rupiah di luar Jasa parkir atau jasa jaga kendaraan,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Pingkan Kapoh.
Penyelenggaraan FPSL 2026 turut didukung melalui kemitraan dengan Bank Indonesia, Pelindo, PT Meares Soputan Mining, dan PT Mitra Jaya Samudera, serta dukungan dari Coca-Cola dan Mayora.
Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memperluas keterlibatan dunia usaha sekaligus mengurangi ketergantungan pembiayaan festival pada APBD.
Disamping itu, Panggung konser yang dipadati puluhan ribu pengunjung berhasil menghadirkan penampilan musisi dan talen lokal yang berkualitas serta mendapat sambutan meriah dari masyarakat.
Dengan mempertimbangkan efisiensi anggaran, FPSL 2026 tahun ini lebih memprioritaskan keterlibatan talen lokal.
Langkah tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memberikan ruang lebih besar bagi musisi dan seniman daerah dalam menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka di panggung festival. Namun demikian, prioritas terhadap talen lokal bukan berarti menutup peluang menghadirkan artis dari luar daerah maupun tingkat nasional.
Seiring dengan perkembangan FPSL yang diharapkan semakin mandiri secara pembiayaan, kesempatan untuk menghadirkan talen nasional tetap terbuka pada penyelenggaraan tahun-tahun mendatang.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa FPSL terus berupaya menjaga keseimbangan antara kualitas hiburan, efisiensi pembiayaan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
FPSL 2026 memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari kemeriahan panggung maupun jumlah pengunjung, tetapi juga dari seberapa besar perputaran ekonomi yang tercipta dan manfaat yang tinggal di daerah.
Aktivitas perdagangan, kuliner, seni, hiburan, ekonomi kreatif, hingga berbagai jasa pendukung selama penyelenggaraan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang turut bergerak bersama festival.
Dengan semangat “Together in Harmony”, FPSL diharapkan terus berkembang menjadi festival yang semakin mandiri, memperkuat kolaborasi berbagai pihak, mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, serta memberikan dampak yang lebih luas bagi pariwisata dan perekonomian Kota Bitung.

