MALAM pertama di Jakarta, saya memilih mengurung diri di kamar hotel.
Tidak ada agenda berjalan-jalan, menemui kawan lama, atau sekadar menghabiskan waktu di luar. Untuk makan malam pun saya memilih memesan makanan dari kamar.
Kepala terasa sedikit sakit. Tubuh kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dari Kotamobagu, Manado, hingga Jakarta. Saya praktis hanya tidur sekitar dua jam sebelum penerbangan.
Namun bukan semata kelelahan yang membuat saya enggan keluar kamar. Ada sejumlah pekerjaan redaksi yang belum selesai. Sebagai pemimpin redaksi sebuah media kecil, urusan pekerjaan tidak otomatis berhenti hanya karena saya sedang melakukan perjalanan.
Saya datang ke Jakarta untuk menghadiri Local Media Summit (LMS) 2026. Forum tahunan yang mempertemukan para pengelola media lokal dari berbagai penjuru Indonesia dengan perusahaan teknologi, pengiklan, lembaga donor, regulator, dan berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap masa depan media.
LMS tahun ini berlangsung di Manhattan Hotel, Jakarta, pada 22–23 Oktober 2026. Ini adalah penyelenggaraan kelima sejak pertama kali digelar pada 2022.
Dan bagi saya, ini adalah kehadiran yang ketiga.
Ada alasan tersendiri mengapa saya selalu ingin kembali ke forum ini.
Dari Perpustakaan Nasional
Saya masih ingat ketika pertama kali mengikuti LMS pada Oktober 2022. Waktu itu penyelenggara membuka pendaftaran peserta melalui open call. Saya mendaftar, kemudian mendapat kesempatan untuk hadir. LMS perdana itu diselenggarakan di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta.
Yang membuat pengalaman pertama tersebut berkesan, saya langsung didapuk menjadi moderator dalam sebuah sesi yang membicarakan hiperlokal.
Hiperlokal kala itu mulai mendapat perhatian sebagai salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan media-media daerah. Bagaimana sebuah media bisa tumbuh dengan memberi perhatian sangat dekat terhadap komunitas dan persoalan di wilayahnya sendiri.
Saya sudah agak lupa siapa saja yang duduk sebagai pembicara dalam sesi tersebut. Tetapi pengalaman berada di panggung pada penyelenggaraan pertama LMS masih cukup membekas.
Setahun kemudian, saya kembali mendapat undangan untuk mengikuti LMS 2023, yang kali ini diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Pada kesempatan kedua itu, saya kembali berada di panggung. Bukan sebagai moderator, melainkan pembicara dalam sesi yang membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk ruang redaksi kecil.
Saya memperkenalkan Tagih Janji.
Sebuah platform yang kami kembangkan di Zonautara.com untuk merespons Pemilu 2024. Dengan bantuan AI, kami menghasilkan lebih dari 5.000 profil calon anggota legislatif di Sulawesi Utara.
Platform itu dirancang agar publik tidak hanya mengenali para calon, tetapi juga dapat berinteraksi dan mencatat janji-janji yang disampaikan selama masa kampanye.
Bagi media kecil seperti Zonautara.com, teknologi membuka kemungkinan mengerjakan sesuatu yang sebelumnya terasa berat jika hanya mengandalkan jumlah personel di ruang redaksi.
Tagih Janji kemudian membawa kabar menggembirakan. Pada Desember 2023, platform tersebut memenangkan juara pertama kategori media dalam Election Hackathon 2023 di Bandung, sebuah kompetisi yang melibatkan UNESCO, Uni Eropa, dan Nakara Foundation.
Tentu saja LMS bukan satu-satunya forum yang membentuk perjalanan kami. Tetapi dua kali kesempatan hadir di sana memberi banyak motivasi untuk terus bereksperimen dan mengembangkan produk jurnalistik.
Pada penyelenggaraan ketiga tahun 2024, saya memilih tidak datang dan mengutus Neno Karlina mewakili Zonautara.com. Demikian pula pada penyelenggaraan keempat tahun 2025, giliran Eliana Gloria yang berangkat.
Tahun ini saya memutuskan kembali hadir sendiri.
Ada produk lain yang ingin saya perkenalkan: Pantau Iklim.
Platform yang sedang kami kembangkan untuk mendokumentasikan berbagai peristiwa terkait krisis iklim, dengan melibatkan warga dan komunitas dalam pengumpulan informasi.
Saya ingin membagikan pengalaman mengembangkan platform tersebut, sekaligus kembali belajar dari pengelola media lain.

Hidup sebagai jurnalis independen
International Media Support (IMS) dan Suara.com adalah dua lembaga di balik penyelenggaraan LMS.
Saya cukup mengenal orang-orang yang menggerakkannya. Ada Eva Danayanti dari IMS dan Suwarjono, Pemimpin Redaksi Suara.com. Keduanya saya kenal sejak aktif dalam lingkungan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Dari tahun ke tahun, LMS terus berkembang. Suara.com bersama IMS juga membangun Local Media Community (LMC), sebuah jejaring yang kini menghimpun lebih dari 800 media lokal dan kreator berita dari berbagai daerah. Bagi saya, forum dan jejaring semacam ini punya arti penting.
Apalagi bagi jurnalis yang memilih mengelola medianya sendiri. Sebelum mendirikan Zonautara.com, saya menghabiskan sekitar delapan tahun bekerja di Kompas.com. Kini Zonautara.com sudah berusia sembilan tahun.
Jika dihitung, lebih dari lima belas tahun saya menjalani pekerjaan jurnalistik dengan segala dinamika mencari penghasilan dan mempertahankan keberlangsungan kerja. Menjalankan media sendiri berbeda dengan bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan media besar.
Di perusahaan besar, seorang jurnalis umumnya memiliki penghasilan tetap dengan berbagai fasilitas yang disediakan perusahaan. Ada jaminan kesehatan, perlindungan kerja, dan dukungan operasional. Sementara di media kecil yang kami bangun, hampir semuanya harus diperjuangkan sendiri.
Kami harus mencari pendapatan agar ruang redaksi tetap bekerja. Mengembangkan produk, membangun kolaborasi, mencari peluang pendanaan, dan pada saat yang sama memastikan kerja jurnalistik tidak berhenti.
Tidak selalu mudah. Karena itu, saya terus menjaga hubungan dengan berbagai organisasi dan jejaring. Saya menjadi anggota AJI sebagai organisasi profesi, bergabung dengan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) melalui Zonautara.com, dan mengikuti berbagai jaringan media independen.
Dari sanalah banyak kesempatan terbuka. Mulai dari pelatihan, fellowship, kolaborasi liputan, hingga forum untuk mempelajari perkembangan teknologi dan bisnis media. Tidak sedikit perjalanan yang kemudian difasilitasi oleh lembaga-lembaga tersebut.
Barangkali itu juga yang membuat saya cukup sering berada di bandara. Ketika hendak terbang ke Jakarta kali ini, saya sempat membuka Swarm, aplikasi yang sudah lama saya gunakan untuk mencatat tempat dan perjalanan.
Kalau tidak salah, aplikasi itu sudah mencatat sekitar 37 kali penerbangan saya. Tentu jumlah sesungguhnya lebih banyak, sebab ada banyak perjalanan udara yang saya lakukan sebelum menggunakan Swarm.
Saya kadang berpikir, betapa banyak tempat yang telah saya datangi berkat pekerjaan sebagai jurnalis. Namun di balik setiap kesempatan bepergian, hampir selalu ada pekerjaan yang ikut terbawa.

Dari Kotamobagu, menumpang motor sendiri
Perjalanan menuju Jakarta kali ini saya mulai dari Kotamobagu. Saya berangkat dari rumah menggunakan sepeda motor sendiri, sore menjelang malam sepanjang sekitar 180 kilometer.
Jalan menuju Manado harus saya tempuh lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan dengan pesawat. Sekitar pukul sepuluh malam saya tiba di Manado.
Seharusnya saya segera beristirahat. Sebab pesawat yang telah disiapkan panitia dijadwalkan berangkat pukul enam pagi dari Bandara Sam Ratulangi.
Tetapi malam itu saya masih sempat bertemu dan berbincang dengan salah seorang reporter Zonautara.com yang datang dari Siau.
Percakapan kami cukup panjang. Tidak terasa waktu terus berjalan hingga mendekati dini hari. Akibatnya, saya praktis hanya memiliki waktu sekitar dua jam untuk tidur. Pagi-pagi sekali saya sudah harus menuju bandara.
Penerbangan dengan maskapai Citylink berlangsung lancar. Cuaca cukup cerah dan tidak ada persoalan berarti sepanjang perjalanan. Saya tiba di Bandara Soekarno-Hatta ketika hari masih pagi.
Ada seorang peserta lain dari Manado yang juga melakukan perjalanan bersama saya. Namanya Audi, mewakili Monitor Sulut. Semula Yulia yang dijadwalkan hadir, tetapi karena berhalangan, Audi yang akhirnya berangkat.
Kami datang terlalu awal untuk langsung masuk hotel. Hotel yang disediakan panitia baru mengizinkan check-in pada pukul dua siang. Saya memilih tetap berada di bandara untuk sementara waktu.
Ada sejumlah pekerjaan yang tertunda dan harus segera diselesaikan. Daripada hanya menunggu tanpa kegiatan, saya membuka pekerjaan dan memanfaatkan waktu di bandara untuk menyelesaikannya. Menjelang siang, barulah kami bergerak menuju hotel.

Kamar hotel dan pekerjaan yang belum selesai
Panitia menyediakan akomodasi di Hotel Amaris Tendean, Jakarta Selatan, tidak terlalu jauh dari Manhattan Hotel yang menjadi lokasi pelaksanaan LMS.
Saya sekamar dengan Eriko, seorang peserta asal Pemalang. Usianya baru 24 tahun. Jauh lebih muda dibandingkan saya.
Perbedaan usia itu tidak menghalangi kami untuk berbincang panjang. Dalam beberapa hari kebersamaan di hotel, kami memiliki cukup banyak kesempatan bertukar pengalaman. Saya selalu senang mendengar pandangan anak-anak muda yang terlibat dalam dunia media. Apalagi ketika industri ini terus berubah dengan sangat cepat.
Tetapi untuk hari pertama itu, tubuh saya meminta istirahat. Perjalanan panjang dari Kotamobagu, hanya tidur dua jam, lalu penerbangan ke Jakarta mulai terasa dampaknya. Kepala sedikit sakit. Saya pun memilih tidak pergi ke mana-mana.
Tidak ada keinginan menemui siapa pun. Saya hanya ingin tinggal di kamar, beristirahat, dan menyelesaikan pekerjaan yang masih menunggu.
Sesekali saya berbincang dengan Eriko. Selebihnya, saya kembali berurusan dengan pekerjaan redaksi.
Begitulah perjalanan seorang jurnalis yang sekaligus harus mengelola medianya sendiri. Bahkan ketika mendapat kesempatan meninggalkan rutinitas untuk belajar dan bertemu banyak orang, pekerjaan dari rumah tetap harus ditangani.
LMS kali ini tentu menawarkan banyak hal untuk dipelajari. Tetapi sebelum sampai pada seluruh percakapan tentang teknologi, bisnis media, komunitas, dan masa depan jurnalisme, saya harus lebih dulu membereskan urusan-urusan kecil yang ikut dalam perjalanan.
Malam pertama di Jakarta akhirnya saya habiskan di kamar hotel. Sementara di luar sana, kota terus bergerak dengan kesibukannya sendiri.
Dan saya memilih beristirahat.
Besok, perjalanan ini akan membawa saya kembali ke sebuah forum yang sudah beberapa kali memberi dorongan untuk terus mengembangkan Zonautara.com.
(Bersambung)

