Catatan perjalanan ke LMS 2026 (2): Kembali ke Manhattan, membawa cerita dari Sulawesi Utara

Di Local Media Summit 2026, saya kembali bertemu kawan-kawan lama, belajar tentang masa depan bisnis media, dan mendapat kesempatan memperkenalkan Pantau Iklim. Tetapi pelajaran paling menarik justru datang dari anak-anak muda yang berbagi panggung dengan saya.

Editor: Redaktur
Seremoni pembukaan Local Media Summit 2026. (Foto: Panitia)

Tulisan bagian pertama dapat dibaca di sini: Catatan Perjalanan ke LMS 2026

ALARM yang saya setel pukul 04.30 membangunkan saya dari tidur yang cukup pulas. Setelah perjalanan panjang dari Kotamobagu ke Jakarta, akhirnya saya bisa tidur sedikit lebih baik dibandingkan malam sebelumnya.

Tetapi pagi masih terlalu dini untuk memulai kegiatan Local Media Summit (LMS) 2026. Saya pun membuka laptop.

Ada pekerjaan yang belum selesai sejak malam sebelumnya. Di Zonautara.com, kami sedang menuntaskan liputan mendalam mengenai Proyek Strategis Nasional (PSN), terutama Bendungan Lolak di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Liputan ini merupakan bagian dari kerja bersama 17 media lokal yang tergabung dalam Teras.id. Kami sedang mengerjakan topik kesepuluh dalam program Independent Media Accelerator (IMA) Batch 2, sebuah program penguatan media independen yang dikelola Tempo dan diikuti 30 media terpilih.




Beberapa naskah sudah selesai. Tetapi sebagian pekerjaan masih membutuhkan perhatian saya sebagai pemimpin redaksi. Ada koordinasi dengan reporter, penyuntingan, dan berbagai urusan produksi yang harus tetap berjalan.

Begitulah ketika harus meninggalkan ruang redaksi beberapa hari. Pekerjaan tidak ikut berhenti. Saya bahkan membawa pekerjaan itu hingga ke kamar hotel di Jakarta.

Eriko, teman sekamar saya dari Pemalang, bersiap turun untuk sarapan. Saya membiarkannya pergi lebih dulu. Saya memang tidak terbiasa sarapan pagi. Setelah mandi dan bersiap, barulah saya turun ke restoran hotel untuk minum kopi.

Di sana sudah ada beberapa peserta LMS yang sedang sarapan. Salah satunya Fakhrur Rodzi, yang biasa dipanggil Datuk. Dia mengelola RiauOnline, media lokal dari Riau. Kami sudah saling mengenal sejak beberapa tahun lalu melalui jaringan organisasi jurnalis dan media.

Kami kemudian berada dalam satu kendaraan yang disediakan panitia untuk menuju Manhattan Hotel. Sepanjang perjalanan, percakapan mengalir tentang perkembangan jurnalisme, organisasi, serta berbagai persoalan yang dihadapi media. Sudah cukup lama kami tidak bertemu.

Pertemuan semacam ini sebenarnya menjadi salah satu hal yang saya tunggu setiap kali menghadiri forum media. Tidak selalu harus berlangsung di ruang konferensi. Kadang percakapan di dalam mobil, di meja makan, atau di sela acara justru memberi lebih banyak kesempatan untuk saling memahami persoalan.

LMS
Berbincang dengan Dandy Kosawara, jurnalis senior yang pernah bekerja di Anadolu dan Al Jazera. (Foto: Eriko)

Kembali ke Manhattan

Ketika kendaraan tiba di Manhattan Hotel, ingatan saya mendadak melayang ke beberapa tahun sebelumnya. Saya pernah datang ke hotel ini. Bukan untuk menghadiri forum media, melainkan mengejar seorang narasumber dalam sebuah liputan yang ketika itu cukup menyita perhatian publik.

Narasumber tersebut adalah Sri Wahyumi Maria Manalip, yang saat itu menjabat Bupati Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Pada Januari 2018, Sri Wahyumi mendapat sanksi penonaktifan sementara dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Persoalannya adalah perjalanan ke Amerika Serikat tanpa izin Mendagri, termasuk untuk mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan International Visitor Leadership Program (IVLP).

Keputusan itu menjadi polemik. Pemberitaannya meluas hingga tingkat nasional. Ada pula dinamika politik di Sulawesi Utara yang membuat persoalan tersebut semakin menarik perhatian.

Ketika itu, saya mendapat penugasan dari Beritagar.id, salah satu media digital yang pernah cukup menarik perhatian saya karena pendekatan jurnalistiknya. Saya menjadi kontributor media tersebut, di samping pekerjaan jurnalistik lainnya.

Dalam upaya menemui Sri Wahyumi, saya sampai ke Manhattan Hotel, tempat dia menginap. Saya bahkan sempat menginap di hotel yang sama. Kini, bertahun-tahun kemudian, saya kembali ke bangunan itu.

Situasinya tentu berbeda. Tidak ada kepala daerah yang sedang saya kejar untuk dimintai wawancara. Kali ini saya datang bersama ratusan orang dari ekosistem media lokal, untuk membicarakan masa depan industri yang sedang mengalami perubahan besar.

Sebuah kebetulan yang membuat saya tersenyum sendiri ketika mengingatnya.

Bertemu lagi dengan kawan-kawan lama

Sebelum rangkaian acara dimulai, saya memanfaatkan waktu untuk menyapa sejumlah kenalan. Ada Suwarjono, Pemimpin Redaksi Suara.com, dan Eva Danayanti dari International Media Support (IMS). Keduanya merupakan sosok penting di balik penyelenggaraan LMS sejak pertama kali digelar pada 2022.

Saya juga bertemu Cak Luki, sapaan akrab Dwi Eko Lokononto dari Beritajatim.com. Luki bukan orang baru bagi kami di Zonautara.com. Dia pernah menjadi mentor kami, bahkan sempat datang langsung ke Kotamobagu. Kami pernah berbincang cukup panjang tentang bagaimana media lokal bisa berkembang dengan model bisnis yang sesuai dengan kondisi daerahnya.

Bertemu kembali dengan orang-orang seperti mereka selalu menyenangkan. Ada pengalaman bersama, ada percakapan yang tertunda, dan tentu ada banyak perkembangan yang bisa dibagikan.

Acara pembukaan berlangsung meriah. Panitia mengatur kegiatan dengan cukup baik, meskipun pelaksanaannya sedikit bergeser dari jadwal. Suwarjono membuka rangkaian kegiatan dengan menjelaskan perjalanan LMS dan tantangan yang ingin dijawab melalui forum tahun ini.

Ada pula sambutan Christian Groseth, Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Norwegia, serta pidato utama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Syahganda Nainggolan.

Tema besar LMS 2026 adalah Beyond Reach: From Discovery to Community, Trust, and Sustainability. Sebuah tema yang menurut saya sangat relevan dengan situasi industri media sekarang.

Bagi media lokal, menjangkau pembaca saja tidak lagi cukup. Kami harus memikirkan bagaimana membangun hubungan dengan komunitas, mempertahankan kepercayaan publik, dan menemukan sumber pendapatan agar pekerjaan jurnalistik dapat terus berlangsung.

Persoalan-persoalan itu pula yang sehari-hari kami hadapi di Zonautara.com.

Catatan perjalanan ke LMS 2026 (2): Kembali ke Manhattan, membawa cerita dari Sulawesi Utara
Christian Groseth, Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Norwegia saat memberikan sambutan. (Foto: Panitia)

Belajar bisnis dari orang-orang yang berpengalaman

Sesi yang paling banyak menyita perhatian saya pada pagi hingga siang itu adalah konferensi pembuka tentang model bisnis media di luar iklan konvensional. Judulnya Beyond Media Advertising: Membongkar Model Bisnis dan Revenue Alternatif.

Di panggung ada Ilona Juwita dari ProPS, Dahlan Dahi dari Dewan Pers, Yos Kusuma dari Google, dan Danny Yong dari IMS. Eva Danayanti memandu diskusi. Saya banyak membuat catatan, terutama ketika Dahlan berbicara.

Dahlan memiliki pengalaman panjang dalam mengelola jaringan Tribun. Dia memahami persoalan bisnis media, bagaimana sebuah perusahaan media berkembang, dan bagaimana teknologi mengubah cara industri ini bekerja. Salah satu perhatian utamanya adalah perubahan perilaku orang dalam mencari informasi.

Kecerdasan buatan, atau AI, telah mengubah hubungan antara pembaca, mesin pencari, dan perusahaan media. Dulu, orang mencari informasi melalui mesin pencari, kemudian diarahkan ke situs media. Kini semakin banyak jawaban dapat diperoleh langsung melalui layanan berbasis AI, tanpa harus membuka situs penerbit berita.




Bagi perusahaan media, perubahan ini bukan persoalan kecil. Lalu lintas kunjungan bisa berkurang, sementara kebutuhan untuk membiayai jurnalisme tetap ada. Dahlan juga mengingatkan bahwa besarnya jumlah pengguna internet tidak otomatis berarti media mampu memperoleh pendapatan yang cukup dari pasar digital.

Persoalannya bukan hanya bagaimana mendapatkan pembaca, tetapi bagaimana menangkap nilai ekonomi dari pasar tersebut. Saya mencatat cukup banyak dari pemaparannya. Bukan karena semuanya baru bagi saya. Sebagian persoalan itu sudah kami rasakan sendiri. Tetapi mendengar pengalaman orang yang pernah mengelola jaringan media besar memberi perspektif berbeda untuk membaca tantangan yang sedang dihadapi media kecil.

Sesudah sesi itu, pembicaraan bergerak ke soal distribusi konten multiplatform dan kemunculan jurnalis kreator. Tika Primandari dari TikTok dan Zhulfakar, jurnalis kreator B-Universe, berbagi pengalaman tentang perubahan cara informasi disampaikan kepada publik.

Zhulfakar adalah salah satu contoh menarik bagaimana seorang jurnalis bisa mengembangkan gaya penyampaian yang khas melalui video dan menjangkau audiens dengan cara yang berbeda dari format pemberitaan konvensional. Perubahan semacam ini sulit diabaikan oleh pengelola media.

Setelah istirahat siang, diskusi berlanjut membahas posisi media sebagai bagian dari industri kreatif. Namun, ada satu sesi berikutnya yang kembali membuat saya banyak mencatat.

Pelajaran dari sebuah grup musik

Dalam konferensi bertema Beyond Brand: Penguatan Ekosistem Media dan Strategi Keberlanjutan, saya tertarik pada pemaparan Dimasz Joey dari Mad Haus Group. Dia berbicara tentang pengembangan ekosistem bisnis, termasuk pengalaman yang berkaitan dengan grup musik Maliq & D’Essentials.

Grup musik tersebut sudah lama berkiprah di industri musik Indonesia. Namun, kegiatan bermusik saja tidak selalu cukup untuk memastikan keberlanjutan sebuah usaha dalam jangka panjang.

Dimasz menjelaskan bagaimana pengembangan merek dan berbagai bentuk intellectual property atau kekayaan intelektual dapat membuka peluang bisnis yang lebih luas. Saya mulai membayangkan relevansinya dengan media.

Selama ini, bisnis media sering kali dipahami sebatas memproduksi berita, mendatangkan pembaca, lalu menjual ruang iklan. Padahal, media juga memiliki pengetahuan, kemampuan produksi, jaringan komunitas, arsip, teknologi, dan berbagai produk yang bisa dikembangkan lebih jauh.

Saya tidak bermaksud menyamakan bisnis grup musik dengan bisnis jurnalistik. Keduanya tentu memiliki karakter berbeda. Tetapi cara berpikir tentang merek, kekayaan intelektual, dan keberlanjutan usaha memberikan perspektif yang menarik. Terutama bagi kami yang selama ini terus mencari kemungkinan baru untuk mengembangkan Zonautara.com.

Catatan perjalanan ke LMS 2026 (2): Kembali ke Manhattan, membawa cerita dari Sulawesi Utara
Sesi konferensi Beyond Brand: Penguatan Ekosistem Media dan Strategi Keberlanjutan. (Foto: Panitia)

Satu panggung dengan Gen Z

Menjelang sore, tiba giliran saya naik panggung. Saya mendapat kesempatan menjadi pembicara dalam talkshow terakhir hari pertama, bertema Beyond Audience: Dari Pembaca Menuju Komunitas dan Ekosistem yang Cuan.

Pembicara lainnya adalah Alisa Deliana dari Kaltim Today, yang mengelola program Green Zetizen. Sesi dipandu Wiwid Saktia dari Babad.id. Ada hal yang menarik dari pertemuan di panggung tersebut.

Keduanya masih sangat muda, berasal dari generasi Z. Alisa bahkan, kalau tidak salah, baru berusia sekitar 21 tahun. Saya terkesan melihat kemampuan mereka membawakan sesi. Alisa mempresentasikan bagaimana Green Zetizen melibatkan anak-anak muda dalam produksi dan penyampaian konten bertema lingkungan.

Bagi banyak media, isu lingkungan bukanlah topik yang mudah dipasarkan. Tidak semua persoalan lingkungan memiliki daya tarik yang langsung menghasilkan banyak kunjungan. Apalagi ketika penyajiannya harus bersaing dengan berbagai konten hiburan yang jauh lebih mudah menarik perhatian pengguna media sosial.

Namun, Alisa menunjukkan bagaimana pendekatan yang tepat terhadap generasi muda dapat membuka jalan untuk membawa isu-isu tersebut ke audiens yang lebih luas. Saya justru banyak belajar dari penjelasannya.

Begitu juga dengan Wiwid. Dia memandu percakapan dengan luwes, penuh energi, dan tampak nyaman mengelola jalannya diskusi. Saya telah cukup lama berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Tetapi pengalaman panjang tidak otomatis membuat seseorang mengetahui semua hal.

Melihat kemampuan anak-anak muda ini membuat saya semakin yakin bahwa masa depan media juga akan sangat ditentukan oleh keberanian generasi baru untuk bereksperimen dengan pendekatan yang berbeda. Dan sore itu, saya beruntung bisa berbagi panggung dengan mereka.

Catatan perjalanan ke LMS 2026 (2): Kembali ke Manhattan, membawa cerita dari Sulawesi Utara
Saya saat dalam sesi talkshow Beyond Audience: Dari Pembaca Menuju Komunitas dan Ekosistem yang Cuan. (Foto: Panitia)

Memperkenalkan Pantau Iklim

Dalam kesempatan tersebut, saya memperkenalkan Pantau Iklim, sebuah platform yang kami kembangkan di Zonautara.com sepanjang 2026. Inisiatif ini berangkat dari perhatian kami terhadap krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan warga.

Di Sulawesi Utara, kami menemukan banyak cerita mengenai kekeringan, banjir, gangguan pertanian, kesulitan mendapatkan air bersih, dan persoalan lingkungan lainnya. Sebagian dampak itu dialami langsung oleh warga di kampung-kampung. Tetapi pengalaman mereka tidak selalu tercatat menjadi data yang mudah diakses publik.

Kami ingin mencoba menjembatani persoalan tersebut. Pantau Iklim menggabungkan jurnalisme data, laporan warga, dokumentasi lapangan, dan kerja reportase redaksi.

Melalui platform itu, warga dan kontributor dapat menyampaikan informasi mengenai kejadian yang mereka alami atau saksikan. Laporan kemudian ditinjau oleh redaksi sebelum ditampilkan dalam arsip publik.

Data yang terkumpul disajikan melalui peta interaktif, statistik, dan berbagai kategori dampak lingkungan. Tentu saja kami menyadari keterbatasannya. Data Pantau Iklim bukanlah gambaran seluruh kejadian di Sulawesi Utara. Tidak semua wilayah memiliki jumlah laporan yang sama, dan sebuah peristiwa lingkungan tidak otomatis bisa dinyatakan disebabkan oleh perubahan iklim.

Tetapi setidaknya kami ingin membangun tempat untuk menyimpan catatan-catatan tersebut, lalu menghubungkannya dengan kerja jurnalistik yang lebih mendalam.

Saya juga menjelaskan bahwa pengembangan platform ini merupakan bagian dari upaya inovasi Zonautara.com sebagai media lokal dengan sumber daya yang terbatas. Kami tidak memiliki tim teknologi. Karena itu, penggunaan teknologi, termasuk AI, menjadi salah satu cara untuk memperluas kemampuan kerja redaksi.

Respons peserta cukup menggembirakan. Ada yang mengajukan pertanyaan. Beberapa menyampaikan ketertarikan terhadap model yang kami kembangkan, bahkan ingin mencoba pendekatan serupa di daerah masing-masing.

Tentu saya merasa senang. Bukan semata karena mendapat kesempatan berbicara di hadapan peserta LMS, melainkan karena sebuah inisiatif yang kami kerjakan dari Sulawesi Utara ternyata dapat memberi inspirasi kepada pengelola media lain.

Dan ada satu hal yang terus saya pikirkan: inovasi media lokal tidak harus selalu lahir dari ruang redaksi besar dengan sumber daya berlimpah. Kadang ia justru muncul dari keterbatasan, ketika kita terpaksa mencari cara lain untuk mengerjakan sesuatu yang dianggap penting.

Catatan perjalanan ke LMS 2026 (2): Kembali ke Manhattan, membawa cerita dari Sulawesi Utara
Suasana saat hari pertama Local Media Summit 2026. (Foto: Panitia)

Berbincang di lantai 38

Setelah sesi talkshow berakhir, rangkaian konferensi hari pertama pun selesai. Panitia kemudian menggelar networking night, acara makan malam dan pertemuan santai para peserta. Kali ini lokasinya berada di lantai 38 Manhattan Hotel, di area rooftop.

Tidak lagi ada suasana formal seperti dalam ruang konferensi. Peserta bisa berbincang lebih leluasa sambil menikmati makan malam. Saya mendapat kesempatan berkenalan dan bertukar pikiran dengan beberapa orang.

Salah satunya seorang dosen dari Universitas Budi Luhur. Sayangnya, saya lupa namanya. Kami berbincang mengenai inovasi-inovasi yang dikembangkan Zonautara.com. Dia tampak tertarik dengan berbagai hal yang kami kerjakan, terutama pengembangan platform digital dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung kerja jurnalistik.

Sebelum berpisah, dia meminta nomor kontak saya agar komunikasi dapat berlanjut. Saya juga bertemu Dandy Koswara, atau yang biasa kami panggil Dankos. Kami sudah saling mengenal cukup lama, termasuk dari masa aktif dalam lingkungan AJI.

Dankos pernah bekerja untuk Anadolu Agency, kantor berita asal Turki, dan Al Jazeera. Kini dia menjalani pekerjaan jurnalistik secara independen. Pertemuan itu membawa ingatan saya pada sebuah kegiatan di Universitas Al Azhar, Jakarta.

Waktu itu saya mendapat kesempatan menjadi trainer Google News Initiative untuk memberikan pelatihan tentang penanganan hoaks kepada para dosen dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta.

Dankos hadir sebagai perwakilan AJI dan mendampingi kegiatan tersebut. Sudah cukup lama berlalu sejak pertemuan itu. Malam ini kami kembali bertemu, membicarakan pekerjaan, perkembangan industri media, dan pengalaman masing-masing.

Bagi saya, salah satu hal paling berharga dari forum seperti LMS justru kesempatan bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan profesional selama bertahun-tahun.

Dunia jurnalistik terasa luas, tetapi dalam beberapa kesempatan juga terasa cukup kecil karena orang-orang yang sama bisa dipertemukan kembali di tempat berbeda.

Catatan perjalanan ke LMS 2026 (2): Kembali ke Manhattan, membawa cerita dari Sulawesi Utara
Saat menerima bingkisan dari Panitia Local Media Summit 2026. (Foto: Panitia)

Lagi-lagi laptop

Saya akhirnya memutuskan tidak mengikuti networking night hingga selesai. Masih ada pekerjaan yang harus ditangani. Selain liputan mengenai Proyek Strategis Nasional, kami juga sedang mengerjakan sebuah investigasi tentang aktivitas pelayaran dan kaitannya dengan sektor perikanan di perairan Sangihe, terutama kawasan perbatasan Indonesia dengan Filipina.

Jufri, salah seorang reporter kami, sedang mengerjakan liputan tersebut. Pekerjaan seperti ini membutuhkan koordinasi dan perhatian redaksi. Apalagi ketika berkaitan dengan pengumpulan dokumen serta penelusuran data yang harus diperiksa dengan cermat.

Saya memilih kembali ke Hotel Amaris Tendean bersama Eriko. Setibanya di kamar, saya tidak langsung tidur. Laptop kembali saya buka.

Seharian saya telah mengikuti berbagai sesi, mendengarkan banyak pengalaman, bertemu kawan-kawan lama, dan mendapat kesempatan membagikan pengalaman Zonautara.com kepada pengelola media dari berbagai daerah.

Ada banyak hal yang ingin saya renungkan dan mungkin suatu saat dapat kami terapkan. Tentang bagaimana media memperoleh pendapatan, bagaimana AI mengubah industri jurnalistik, bagaimana kekayaan intelektual bisa menjadi sumber pengembangan usaha, dan bagaimana komunitas dapat menjadi bagian penting dari keberlanjutan sebuah media.

Tetapi malam itu saya harus kembali ke pekerjaan yang lebih dekat dan mendesak. Ada naskah-naskah yang menunggu penyuntingan. Ada liputan yang harus terus berjalan. Ada urusan redaksi yang tidak bisa sepenuhnya saya tinggalkan.

Begitulah. Datang ke Jakarta untuk belajar mengenai masa depan media, sementara pekerjaan mempertahankan keberlangsungan media sendiri terus mengikuti ke mana pun saya pergi.

Malam semakin larut di Jakarta. Dan seperti pagi tadi, saya masih berada di depan laptop.

(Bersambung)

Share This Article
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com