PVMBG peringatkan bahaya, zona terlarang Karangetang diperluas

Warga dilarang keras untuk mendekati, mendaki, atau melakukan aktivitas apapun dalam radius 1,5 km dari Kawah Dua (Utara) dan Kawah Utama (Selatan).

Editor: Neno Karlina Paputungan
Visual Gunungapi Karangetang di Pulau Siau. (Foto : Zonautara.com/ Kasumbala).

ZONAUTARA.com – Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, menunjukkan peningkatan signifikan.

Laporan pengamatan yang dirilis pada Kamis (02/10/2025) mencatat ratusan gempa hembusan dan tremor, disertai suara gemuruh yang terdengar dari puncak. Hingga saat ini, status gunung api Karangetang masih bertahan di Level II (Waspada).

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, sepanjang periode pengamatan 24 jam, instrumental seismik merekam total 176 kali gempa hembusan dengan amplitudo mencapai 50 mm.

Selain itu, tercatat pula 19 kali tremor harmonik dan dua kali tremor non-harmonik, yang mengindikasikan adanya pergerakan magma di dalam tubuh gunung.

“Gempa vulkanik masih tergolong tinggi,” ungkap Yudia Prama Tatipang, Ketua pos pengamatan Gunungapi Karangetang.




 Secara visual, kondisi puncak Gunung Karangetang sering kali tidak teramati akibat tertutup kabut tebal.

Meskipun asap kawah tidak terlihat, suara gemuruh lemah hingga sedang terdengar jelas, menandakan aktivitas di dalam kawah masih berlangsung intens.

Kondisi cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan hingga hujan dengan curah hujan cukup tinggi, yakni 34.9 mm per hari.

Menyikapi kondisi ini, pihak berwenang mengeluarkan rekomendasi tegas bagi masyarakat dan wisatawan.

Warga dilarang keras untuk mendekati, mendaki, atau melakukan aktivitas apapun dalam radius 1,5 km dari Kawah Dua (Utara) dan Kawah Utama (Selatan).

Zona bahaya juga diperluas secara sektoral ke arah selatan dan barat daya hingga sejauh 2,5 km. Area ini dianggap rawan terhadap potensi guguran lava dan awan panas yang bisa terjadi sewaktu-waktu dari tumpukan material vulkanik sebelumnya yang belum stabil.

“Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak Karangetang juga diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” tambah Yudia.

Potensi ancaman sekunder seperti lahar hujan dan banjir bandang menjadi perhatian serius, terutama saat hujan deras mengguyur puncak.

Material vulkanik dapat terbawa aliran air dan meluncur deras hingga ke wilayah pantai, membahayakan pemukiman di sekitarnya.

 

Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com