FAO dorong inovasi dan investasi untuk transformasi bioekonomi berkelanjutan Asia-Pasifik

Editor: Redaktur
(Foto: UN Indonesia Press Club)

ZONAUTARA.com — Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) membuka Forum Inovasi dan Investasi Bioekonomi Perdana 2025 (BIIF) di Bangkok, Thailand, pada 25 November 2025.

Forum tiga hari ini diselenggarakan untuk memperkuat momentum bioekonomi berkelanjutan di kawasan Asia dan Pasifik, mendorong solusi inovatif serta investasi guna menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, efisiensi sumber daya, dan ketahanan iklim di tengah tekanan yang semakin meningkat.

Acara penting ini mempertemukan hampir 600 peserta dari berbagai sektor, termasuk pemerintah, kedutaan besar, sektor swasta, lembaga penelitian, investor, perusahaan rintisan, dan masyarakat sipil.

Inisiatif ini sangat relevan mengingat sistem agripangan menempati porsi terbesar dalam bioekonomi, menjadikan inovasi di bidang pertanian, perikanan, kehutanan, dan solusi ekonomi sirkular sebagai pusat transformasi sistem pangan dan pertanian di seluruh kawasan.

FAO sendiri telah menetapkan bioekonomi sebagai Area Prioritas Program dalam Kerangka Strategis 2022–2031, menegaskan komitmennya untuk mendorong inovasi, mengurangi sisa dan susut pangan, serta memacu pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif di Asia dan Pasifik.




Alue Dohong, Asisten Direktur Jenderal FAO dan Perwakilan Regional untuk Asia dan Pasifik, menekankan potensi besar kawasan ini.

“Kawasan kami memiliki ruang lingkup yang sangat luas untuk memajukan bioekonomi. Untuk memanfaatkannya, kita harus memastikan pasokan bahan baku yang berkelanjutan, kebijakan yang jelas dan selaras, serta kolaborasi lintas pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan produsen,” kata Dohong.

Forum ini menjadi wadah untuk menampilkan berbagai solusi inovatif dalam mengatasi kehilangan pangan, pemborosan, dan sistem agripangan yang tidak berkelanjutan di sektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

Dr. Tatsanee Muangkaew, Wakil Sekretaris Tetap, Kementerian Pertanian dan Koperasi, Thailand, menyoroti peran negaranya. Ia menjelaskan, “komitmen negara terhadap Model Ekonomi Bio-Sirkular-Hijau (BCG) dan Model BCG Pertanian. Berbagai inisiatif ini bertujuan untuk mendorong produktivitas, standar, dan pendapatan yang tinggi melalui pertanian berkelanjutan dan bernilai tambah, sebuah pendekatan yang dipandang penting dalam membangun sektor pertanian global yang berkelanjutan dan tangguh.”

Salah satu sorotan utama BIIF adalah Sesi Jejaring Bisnis-ke-Bisnis, yang berhasil menghubungkan lebih dari 50 pemimpin industri dan perusahaan rintisan dengan investor dan pembuat kebijakan.

Tujuannya adalah untuk mengembangkan model bioekonomi yang sukses melalui diskusi yang melibatkan 56 pembicara ahli, yang berfokus pada pentingnya sumber daya yang andal dan ramah lingkungan.

Faiyaz Murshid Kazi, Duta Besar Republik Rakyat Bangladesh untuk Thailand, menyampaikan apresiasinya, menyatakan, “Kemitraan hayati adalah pesan utama, sebuah komitmen untuk membangun komunitas kemitraan di seputar bioekonomi. Percakapan ini dibutuhkan di kawasan kami, dan bersama mitra kami, kami siap untuk menambatkan gagasan ini di kawasan Asia dan Pasifik. Terima kasih yang tulus kepada FAO atas upaya ini.”

Selain itu, forum ini juga membahas pembentukan simpul regional Kemitraan Bioekonomi untuk Transformasi Berkelanjutan (Bioeconomy for Sustainable Transformation [BEST] Partnership).

Ini adalah wadah multipihak global yang didedikasikan untuk meningkatkan solusi bioekonomi bagi sistem pertanian pangan berkelanjutan, dan akan menjadi masukan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bioekonomi Global di Irlandia tahun depan.

Kemitraan BEST dirancang untuk mendorong kolaborasi antara pemerintah, investor, lembaga penelitian, dan sektor swasta, mengubah inovasi bioekonomi menjadi solusi yang terukur.

Sejalan dengan Inisiatif Bioekonomi G20, BEST akan memperkuat koherensi kebijakan, meningkatkan berbagi pengetahuan, dan mendukung tindakan multilateral.

Millicent Cruz Paredes, Duta Besar Republik Filipina untuk Thailand, berharap forum ini akan memfasilitasi kolaborasi.

“Kami berharap forum ini menjadi inisiatif bagi pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, peneliti, dan investor untuk berbagi inovasi, memperkuat kapasitas solusi bioekonomi, dan menjalin kemitraan,” ujarnya.

Senada, Lev Neretin, Staf Senior Sumber Daya Alam FAO, menegaskan urgensi tindakan kolektif.

“Wadah regional ini menunjukkan bahwa aksi multilateral yang koheren bukanlah pilihan, melainkan esensial. FAO berkomitmen untuk mendorong kemitraan ini agar kawasan-kawasan tersebut dapat membangun bioekonomi yang berkelanjutan dan inklusif,” pungkas Neretin.

TAGGED:
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com