ZONAUTARA.com – Sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan ekspansif pada Triwulan I-2026, meskipun menghadapi tantangan ekonomi dan dinamika geopolitik global. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan hal ini dalam sebuah acara di Jakarta pada Selasa (27/5/2026).
Dalam paparan tersebut, Amalia menyebutkan, “Di triwulan I itu Indeks Keyakinan Bisnis Manufaktur kita di dalam zona ekspansi.” BPS mencatat pertumbuhan industri pengolahan mencapai 5,04 persen secara tahunan dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan aktivitas produksi di berbagai subsektor manufaktur, terutama terkait dengan investasi dan permintaan domestik. Sebagai contohnya, subsektor industri mesin dan perlengkapan meningkat 21,93 persen secara tahunan, sementara industri komputer, barang elektronik, dan optik tumbuh 10,35 persen, serta industri barang galian non-logam tumbuh 9,12 persen.
Amalia menambahkan, “Impor barang modal itu tumbuhnya 14,27 persen,” yang mencerminkan permintaan barang modal untuk mendukung ekspansi usaha. Indeks Keyakinan Bisnis Manufaktur (IKBM) berada pada level 51,37, menunjukkan mayoritas pelaku usaha manufaktur melihat kondisi bisnis yang lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya.
Meski demikian, tidak semua subsektor mengalami pertumbuhan positif. Menurut BPS, beberapa subsektor seperti industri alat angkut mengalami kontraksi 5,4 persen, sedangkan industri pengolahan tembakau menunjukkan pertumbuhan negatif 2,8 persen. Amalia menilai, meskipun belum merata, sektor manufaktur nasional secara keseluruhan masih menunjukkan daya tahan yang baik, didukung oleh permintaan domestik yang kuat dan aktivitas investasi.
Diolah dari laporan Antara.

