ZONAUTARA.com – Presiden AS Donald Trump belum juga memutuskan mengenai perpanjangan gencatan senjata terhadap Iran, sementara perundingan di antara kedua negara terus berlangsung. Jika gencatan senjata ini diperpanjang, keduanya dapat memulai pembicaraan mengenai berbagai isu, termasuk program nuklir Teheran. Washington bersikeras bahwa Iran tidak boleh mencapai kemampuan membuat senjata nuklir, namun Trump menghadapi dilema besar dalam membuat keputusan.
Meskipun sebagian besar infrastruktur pengayaan uranium Iran telah hancur akibat serangan Israel dan AS, stok uranium yang telah diperkaya tinggi diperkirakan masih bertahan. Kekhawatiran ini menjadi perhatian utama AS menjelang pembicaraan nuklir dengan Iran. Dalam unggahan media sosial pada Jumat (29/5), Trump menegaskan bahwa uranium yang diperkaya harus “digali” dan dimusnahkan dalam koordinasi dengan Iran serta badan pengawas nuklir PBB.
Enriched uranium, yang dapat digunakan bersama plutonium sebagai inti bom nuklir, dapat diperkaya dengan sentrifugal yang relatif sulit dideteksi. Situs-situs pengayaan Iran, termasuk yang terletak di bawah tanah, sebagian besar selamat dari serangan. Uranium dikategorikan sangat diperkaya pada kemurnian 20%, sementara senjata nuklir memerlukan kemurnian hingga 90%.
Izin akses terhadap cadangan uranium oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum diberikan oleh Iran. IAEA memperkirakan pada Juni lalu, Iran memiliki 440,9 kg uranium dengan 60% kemurnian, 184,1 kg dengan 20%, 6.024,4 kg dengan 5%, dan 2.391,1 kg dengan 2% kemurnian. Stok yang tersisa menjadi perhatian karena dapat diolah menjadi senjata nuklir dengan cepat. Kepala IAEA Rafael Grossi mencatat bahwa lebih dari 200 kg dari stok 60% tersimpan di Isfahan dan Natanz.
AS memiliki kekhawatiran khusus pada material dengan kemurnian 60% karena bisa diolah dengan cepat menjadi bom. Trump sebelumnya menarik AS dari perjanjian nuklir tahun 2018, yang menandai berakhirnya kesepakatan yang sebelumnya mencegah Iran mencapai kemampuan nuklir penuh.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

