ZONAUTARA.com – Penggunaan rutin suplemen kalsium dan vitamin D tidak memberikan perlindungan signifikan terhadap risiko patah tulang pada populasi lansia sehat. Hal ini didasarkan pada berbagai meta-analisis terhadap uji klinis acak (RCT) yang melibatkan puluhan hingga ratusan ribu partisipan.
Data penelitian menunjukkan bahwa risiko patah tulang antara kelompok yang mengonsumsi suplemen dengan kelompok plasebo hampir serupa. Secara klinis, efek pencegahan yang dihasilkan sangat kecil, sehingga riset cenderung tidak mendukung penggunaan rutin suplemen ini sebagai pencegahan utama bagi lansia di komunitas.
Para ahli mengidentifikasi alasan mengapa suplementasi tidak berdampak besar pada lansia: suplemen tetap krusial bagi individu dengan kondisi medis tertentu, seperti mereka yang defisiensi lewat tes darah, lansia di panti jompo yang kurang paparan matahari, serta pasien osteoporosis yang menjalani terapi medis khusus.
Pakar kesehatan menekankan bahwa pencegahan patah tulang yang lebih efektif harus mencakup pendekatan holistik. Latihan beban untuk menjaga massa otot dan latihan keseimbangan guna mencegah risiko jatuh menjadi prioritas utama.
Kesimpulannya, suplemen kalsium dan vitamin D tidak bisa menjadi “tameng utama” dari patah tulang, melainkan berfungsi lebih sebagai pendukung jika tubuh memang kekurangan nutrisi. Selain itu, konsumsi berlebih bisa memicu toksisitas dan interaksi obat, sehingga disarankan untuk fokus pada nutrisi makanan dan kecukupan protein.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

