ZONAUTARA.com – Deretan gelas plastik bekas minuman kopi dingin yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) justru menjadi bahan baku utama di sebuah bangunan sederhana di Jalan Binamarga II, Kota Bogor, Jawa Barat. Di tempat yang dikenal sebagai Nako Daur Baur Microfactory itu, limbah gelas plastik disulap menjadi meja, kursi, atap, hingga aksesori yang kembali digunakan di gerai-gerai Kopi Nako.
Bagi banyak orang, gelas plastik sekali pakai hanya memiliki satu masa pakai. Namun di tangan tim Daur Baur, limbah tersebut memperoleh “kehidupan kedua” sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di industri kopi.
Microfactory yang mulai beroperasi pada Juli 2024 itu lahir dari keresahan atas terus bertambahnya volume sampah seiring ekspansi bisnis Kopi Nako. Saat jumlah gerai masih sekitar 10, tim manajemen sudah menyadari bahwa pertumbuhan usaha akan selalu diikuti peningkatan limbah kemasan. Kini, tepat delapan tahun setelah berdiri pada Juni 2026, Kopi Nako telah memiliki 76 gerai di berbagai kota.
Alih-alih membiarkan ribuan gelas plastik berakhir di TPA, perusahaan memilih mengolahnya kembali, meski harus menanggung biaya yang tidak sedikit.
Komitmen itu bahkan diwujudkan dengan penggunaan gelas berbahan dasar polipropilena (PP) murni di seluruh gerainya. Pilihan tersebut bukan semata soal kualitas, melainkan juga mempertimbangkan kemudahan proses daur ulang.
“PP bisa meleleh pada suhu sekitar 180 derajat Celsius, sedangkan PET membutuhkan suhu lebih dari 300 derajat. Dari sisi energi jauh lebih efisien,” jelas Chief Creative and Marketing Officer Kanma Group sekaligus CEO Daur Baur Nako Microfactory, Robert Basuki Wanasida, saat memaparkan program tersebut di hadapan peserta Sustainable Journalists Fellowship 2026, Sabtu (27/6/2026).

Fokus pada satu jenis plastik membuat proses produksi lebih konsisten sekaligus mengurangi konsumsi energi.
Namun perjalanan membangun sistem sirkular tidak berhenti di dalam pabrik. Kopi Nako juga berupaya melibatkan konsumennya.
Di hampir seluruh gerai baru kini berdiri sebuah alat bernama 7 Second Action Machine. Sebelum membuang gelas, pelanggan cukup menuangkan sisa minuman, kemudian memasukkan gelas ke dalam mesin. Dalam hitungan beberapa detik, gelas dicuci menggunakan semburan air bertekanan tinggi sebelum ditempatkan ke dalam keranjang khusus.
Langkah sederhana itu ternyata membawa dampak besar.
Menurut Chief Operating Officer Nako Daur Baur Microfactory, Rony Rahardian, sistem tersebut menghasilkan bahan baku yang sekitar 80 persen bersih dari sisa susu maupun gula. Kondisi itu membuat proses pengolahan menjadi lebih higienis sekaligus menghilangkan kebutuhan pencucian manual yang selama ini memakan waktu dan biaya.
Setelah terkumpul, gelas-gelas plastik memasuki tahapan berikutnya.
Limbah dicacah menjadi serpihan kecil, kemudian disusun di atas lempeng besi sebelum dipanaskan bersama pewarna sesuai kebutuhan. Melalui kombinasi panas dan tekanan, serpihan plastik berubah menjadi lembaran padat dengan berbagai ketebalan, mulai dari lima milimeter hingga dua sentimeter.

Lembaran tersebut kemudian dipotong mengikuti desain furnitur atau elemen interior yang dibutuhkan. Setelah melalui proses penghalusan, material siap dikirim ke gerai-gerai baru untuk dipasang pada rangka besi sebagai meja, kursi, meja bar, maupun panel atap.
Tidak ada bagian yang benar-benar terbuang. Potongan-potongan kecil yang tersisa dikirim kepada mitra yang memiliki mesin pencacah berkapasitas lebih besar agar dapat diolah kembali.
Hasilnya mulai terlihat nyata. Satu gerai Kopi Nako di Yogyakarta memanfaatkan sekitar enam ton material hasil daur ulang untuk berbagai kebutuhan interior. Sementara gerai di Surabaya menggunakan sekitar tiga ton material serupa. Di sisi lain, kapasitas produksi pabrik juga terus meningkat.

Setiap bulan, Daur Baur mampu mengolah sekitar 3,4 ton gelas plastik. Dengan asumsi satu kilogram setara sekitar 118 gelas, berarti lebih dari 401 ribu gelas plastik berhasil dialihkan dari potensi menjadi sampah setiap bulannya.
Sepanjang periode Juli hingga akhir 2024 saja, sebanyak 15 ton gelas plastik telah berhasil diproses. Memasuki 2025, kapasitas tersebut meningkat setelah perusahaan menambah satu mesin daur ulang sehingga kini memiliki dua lini produksi.
Semangat memperluas dampak kemudian diwujudkan melalui pembentukan Circular Coffee Collective, sebuah gerakan kolaboratif yang diluncurkan pada Jakarta Coffee Week 2025.
Melalui inisiatif tersebut, Kopi Nako mengajak pelaku industri kopi lain untuk ikut membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
“Kami baru rilis bareng Toko Kopi Tuku, Anomali Coffee, Brookland, dan Suasanakopi untuk mengajak teman-teman lain dan menceritakan kita bisa buat movement apa saja,” ujar Robert.
Meski demikian, ia mengakui kapasitas Daur Baur saat ini masih terbatas pada pengolahan plastik jenis PP sehingga belum semua jenis kemasan dapat diterima.

Selain memenuhi kebutuhan interior gerai, Daur Baur juga mengembangkan berbagai produk turunan seperti gantungan kunci, manik-manik, tumbler, jam tangan, hingga kolaborasi kreatif bersama musisi Hindia. Produk-produk tersebut menjadi medium edukasi bahwa limbah plastik masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan benar.
Di balik berbagai inovasi itu, Robert maupun Rony menyadari bahwa praktik daur ulang di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Kesadaran masyarakat belum merata, sementara biaya pengolahan masih relatif tinggi. Bahkan, penggunaan material hasil daur ulang tidak membuat pembangunan gerai menjadi lebih murah.
Namun bagi mereka, nilai sesungguhnya bukan terletak pada efisiensi biaya, melainkan pada tanggung jawab terhadap lingkungan.
Di tengah budaya konsumsi yang masih didominasi konsep sekali pakai, Daur Baur menunjukkan bahwa perjalanan sebuah gelas plastik tidak harus berakhir di TPA. Dengan desain sistem yang tepat, kolaborasi, dan kemauan untuk berinvestasi pada keberlanjutan, limbah dapat kembali hadir dalam bentuk yang lebih bernilai, menjadi meja tempat pelanggan menikmati secangkir kopi berikutnya.

