ZONAUTARA.com – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini dilibatkan dalam penelitian antariksa untuk mencari keberadaan kehidupan di planet lain berkat kemampuannya mengolah data dalam jumlah besar. Sayangnya, hingga kini AI belum mampu menemukan bukti konkret keberadaan kehidupan di luar Bumi.
Michael Garrett, profesor astrofisika dari Universitas Manchester, menjelaskan bahwa AI mungkin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan manusia belum menemukan peradaban alien berteknologi maju. Hal ini didasarkan pada berbagai teori seperti Paradoks Fermi, Hipotesis Kebun Binatang, dan Teori Hutan Gelap yang telah dikembangkan para astronom selama lebih dari 60 tahun.
Garrett menambahkan bahwa meskipun AI memiliki kemampuan mengolah data besar dengan cepat, sistem ini tidak sempurna. Peneliti menemukan banyak urutan data yang dapat mengecoh AI dan meningkatkan risiko kesalahan dalam proses identifikasi maupun klasifikasi. AI tetap memerlukan pengawasan manusia untuk memastikan hasil analisis dapat diinterpretasikan dengan tepat, sejalan dengan pendapat dari Christoph Adami, peneliti dari Michigan State University.
Studi terbaru Adami menegaskan bahwa AI memiliki kelemahan yang disebut “Achilles’ heel,” dimana AI dapat melihat pola namun salah mengklasifikasikannya. Pengawasan manusia tetap diperlukan agar temuan AI dapat dijadikan dasar penelitian ilmiah secara akurat.
Meski begitu, AI tetap menjadi teknologi penting dalam mempercepat pencarian planet berpotensi layak huni maupun tanda-tanda kehidupan di luar Bumi. Namun, para peneliti memperingatkan bahwa hasil AI harus diverifikasi dengan pengawasan manusia agar setiap analisis dapat digunakan dengan tepat dalam penelitian antariksa.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

