ZONAUTARA.com — Dr. dr. Rocky Wilar, Sp.A, Subsp. Neo(K), resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Rektor Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) untuk periode mendatang, Kamis (5/11/2026).
Dalam pencalonannya, Rocky membawa sejumlah agenda pembenahan kampus yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, transparansi tata kelola, kesejahteraan pegawai hingga perlindungan mahasiswa agar tidak putus kuliah akibat keterbatasan biaya.
Pendaftaran berlangsung di Gedung Auditorium Prof. Sumitro Djojohadikusumo, Manado.
Rocky mengatakan, jika dipercaya memimpin UNSRAT, program kerjanya akan diselaraskan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto di bidang pendidikan serta kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
“Prinsipnya program kerja harus terarah dan selaras dengan prioritas nasional demi memajukan kualitas sumber daya manusia di daerah,” ujarnya.
Rocky memetakan enam prioritas yang akan menjadi fokus pembenahan, yakni peningkatan kualitas pembelajaran, reformasi tata kelola universitas, revitalisasi sarana dan prasarana, peningkatan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan, perluasan akses pendidikan, serta pemberantasan praktik pungutan liar.
Menurutnya, pembenahan kampus tidak hanya menyangkut kualitas akademik, tetapi juga fasilitas dasar yang menunjang aktivitas mahasiswa dan tenaga pengajar.
Ia menilai fasilitas seperti toilet, ruang kuliah hingga ruang praktikum perlu mendapat perhatian agar kegiatan belajar-mengajar berlangsung lebih nyaman.
“Perbaikan sarana dan prasarana mulai dari toilet, ruang kuliah, hingga ruang praktikum harus kita perhatikan. Itu harus kita berani benahi demi kenyamanan akademik,” tegasnya.
Di sisi tata kelola, Rocky menekankan pentingnya pelayanan yang transparan dan bebas dari praktik pungutan liar. Ia bahkan menargetkan tidak boleh ada pungli di lingkungan kampus.
“Tugas utamanya harus menghapus yang namanya pungli. Itu harus zero,” katanya.
Perhatian terhadap mahasiswa juga menjadi salah satu agenda yang ditawarkan. Rocky menegaskan, persoalan ekonomi tidak boleh menjadi alasan mahasiswa kehilangan kesempatan menyelesaikan pendidikan.
Ia menginginkan pihak universitas mengambil peran dalam membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan finansial, baik pada jenjang sarjana, magister maupun doktor.
“Jangan sampai terjadi ada mahasiswa yang putus kuliah karena tidak ada biaya. Kita harus bantu dan jaga sampai mahasiswa itu menyelesaikan kuliahnya, baik jenjang sarjana, master, maupun doktor,” ungkapnya.
Untuk mendukung program tersebut, Rocky juga mendorong penguatan kerja sama antara UNSRAT dan pemerintah daerah di Sulawesi Utara. Kolaborasi itu diharapkan dapat memperbesar kontribusi perguruan tinggi terhadap kebutuhan pembangunan daerah.
Selain pembenahan sistem dan fasilitas, ia turut menyoroti pentingnya pola kepemimpinan yang terbuka. Menurutnya, hubungan antara pimpinan universitas, dosen dan mahasiswa harus dibangun melalui komunikasi serta rasa saling percaya.
“Kepemimpinan universitas harus terbuka. Hubungan antara rektor, dosen, dan mahasiswa harus dibangun atas dasar saling percaya dan menghormati tanpa ada jarak,” pungkasnya.
Melalui enam prioritas tersebut, Rocky menawarkan arah pembenahan UNSRAT yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan mutu akademik, tetapi juga transparansi pengelolaan kampus dan keberlanjutan pendidikan mahasiswa.
