Connect with us

Serba Serbi

Bertahan Di Tengah Barbershop Dan Pangkas Suramadu

Kehadiran Pangkas Rambut Suramadu, lanjut dia, banyak berpengaruh pada pendapatan, karena di tempat tersebut, harganya lebih murah.

Published

on

Inung Ma'ruf ketika sedang menggunting rambut pelanggannya. (Foto: zonautara.com/Lukman Polimengo)

MANADO, ZONAUTARA.com – Tangan Inung Ma’ruf (43) dan Wawan Panigoro (35), begitu cekatan memangkas rambut kedua pelanggan yang menyambangi tempat mereka, di sebuah toko kompleks Pasar Ikan Tua, Kelurahan Calaca, Selasa (30/1/2018).

Sejak pagi hingga malam, Inung dan Wawan masing-masing sudah memangkas rambut sekitar 15 orang.

Pekerjaan jasa tukang potong rambut ini sudah mereka lakoni lebih dari 20 tahun untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka sehari hari.

Seperti penuturan Inung, di zaman sekarang, penghasilan dari jasa tukang pangkas rambut ini ada pasang surutnya. Hal ini diakuinya karena dalam beberapa tahun terakhir, banyak bermunculan salon rambut, Barbershop, juga Pangkas Rambut Suramadu.

“Dulu sebelum banyak salon, Barbershop dan Pangkas Rambut Suramadu, sehari kami di sini ada sekitar 10 orang tukang gunting rambut, bisa menggunting 20 hingga 25 orang,” ujar Inung.

Menurut Inung, meski pendapatan sekarang agak menurun, dirinya masih bersyukur bisa membawa pulang uang hasil jerih payahnya untuk kebutuhan keluarga.

Senada diungkapkan wawan, rekan seprofesi Inung. Sebenarnya, keberadaan salon rambut dan Barbershop, tidak begitu berpengaruh pada pendapatan mereka, karena orang yang menggunakan jasa mereka ada kelas tersendiri.

“Katakanlah mereka kelas ekonominya menengah ke atas, toh selera dan keinginan itu tergantung orangnya juga. Kami juga punya pelanggan yang sudah lama, mereka bisa dibilang kalangan menengah ke atas juga ekonominya, tapi kembali lagi pada soal selera dan keinginan,” jelas Wawan.

Kehadiran Pangkas Rambut Suramadu, lanjut dia, banyak berpengaruh pada pendapatan, karena di tempat tersebut, harganya lebih murah.

“Di tempat mereka harga gunting rambut per kepala Rp15.000, sedangkan di tempat kita harganya mencapai Rp 20.000. Jadi, masyarakat yang umumnya menggunakan jasa di tempat kita, beralih karena perbedaan harga tersebut,” tutur Wawan.

Dia menambahkan, salah satu kelebihan di tempat usahanya tersebut sudah buka dari pukul 07.00 Wita, hingga jam 23.00 Wita, karena ada juga orang yang sering datang pada pagi hari. Wawan juga merinci jika uang Rp20.000 yang didapatkan dari satu orang yang menggunakan jasanya, harus dipotong sejumlah Rp7.000 oleh pemilik tempat, sisanya lagi Rp13.000 menjadi hak mereka.

Uang sebesar Rp7.000 itu sebagai sewa ruangan dan bayar listrik di tempat mereka mengais rejeki.

Meski begitu, keduanya pun bersyukur masih merasa cukup dari hasil yang didapat. Walaupun jasa tukang pangkas rambut ini kian menjamur, keduanya yakin Tuhan senantiasa memberikan rejeki dengan cara-Nya.

“Tinggal bagaimana cara mengerjakan dan mendapatkannya rejeki tersebut,” tandas keduanya.

 

Editor : Christo Senduk

 

Serba Serbi

Menjual daging rusa palsu

Peternak di Malaysia mencurigai karena harganya yang sangat murah.

Published

on

Roselan Ab Malek - am@hmetro.com.my

ZONAUTARA.com – Di Malaysia dalam beberapa pekan belakangan, lagi ramai diperbincangkan soal dugaan pedagang menjual daging rusa palsu.

Dugaan itu bermula dari murahnya daging rusa yang dijual berbagai lapak, terutama yang dibagikan di halaman Facebook.

Dikutip dari hmetro.com, seorang peternak rusa di daerah Jerantut, Shamsul Mohd Ali Hanapiah mempertanyakan murahnya daging rusa yang dipasarkan itu.

Menurut Shamsul, biasanya satu kilogram daging rusa dijual seharga 75 ringgit Malaysia (RM) hingga RM95.

“Namun daging yang ditawarkan mereka itu hanya seharga 30 hingga RM35. Itu sesuatu yang mustahil,” kata Shamsul.

Menurutnya, modal untuk beternak seekor rusa hingga siap potong menghabiskan dana sebesar RM3.500. Dari seekor rusa hanya bisa menghasilkan 30 kilogram daging saja yang bisa dijual.

“Jadi adalah hal yang mustahil mendapat untung jika menjual seharga RM30,” kata Shamsul.

Para peternak juga biasanya menjual daging rusa lengkap dengan tulangnya, agar pembeli percaya bahwa yang mereka jual benar-benar daging rusa.

Sementara yang ditawarkan dengan harga murah itu, berupa daging yang sudah dipacking tanpa tulang.

Shamsul dan peternak lain mencurigai, daging yang dijual itu bukan daging rusa melainkan daging lembu atau kerbau yang memang murah.

Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com