Connect with us

POJOK RONNY

Tak Perlu ke Palu Jika Hanya Ingin “Wisata”

Published

on

zonautara.com

Aksi solidaritas kemanusiaan untuk warga Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) terus dilakukan oleh berbagai komunitas warga.

Di Sulawesi Utara, aksi pengumpulan sumbangan untuk bantuan warga di tiga kabupaten di Sulawesi Tengah itu digelar di berbagai aras.

Posko bantuan untuk mengumpulkan sumbangan pun dibuka di mana-mana, termasuk menyodorkan kardus-kardus ke pejalan yang melintas di jalanan umum Kota Manado.

Usai sumbangan terkumpul, komunitas kemudian mengutus perwakilannya untuk membawa logistik bantuan itu ke Palu. Adapula yang menyalurkannya lewat lembaga-lembaga yang sudah lebih dulu menggelar aksi kemanusiaan.

Sungguh duka di Pasigala telah mmampu membangkitkan rasa kebersamaan kita sesama manusia. Menembus batas suku, agama dan komunal. Semua bergerak membantu.

Sewaktu berada di Palu dalam tugas jurnalistik, saya menyaksikan beratus-ratus truk pengangkut bantuan logistik terus masuk Palu. Bantuan itu datang dari berbagai kalangan.

Sahabat Kementan dan Mitra Pertanian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tak tanggung-tanggung mengirimkan sebanyak 500 truk bantuan logistik.

Di hari-hari pertama pasca bencana, memang beberapa kejadian mengenaskan terjadi. Mobil pengangkut bantuan dihadang saat tengah memasuki Palu dan Donggala.

Orang-orang tak bertanggungjawab menjarah mobil bantuan dan merampasi apa saja muatannya. Untunglah aparat bergerak cepat, dan memberi bantuan pengawalan saat bantuan memasuki Palu.

Kini situasinya sudah normal, truk-truk bantuan bisa leluasa dan aman memasuki Palu dan Donggala.

Dihari ke-10 pasca bencana, saat dalam perjalanan pulang ke Manado, sepanjang jalan saya berpapasan terus dengan truk-truk bantuan. Semuanya mendapat pengawalan aparat.

Saya sempat bersua dengan tiga truk bantuan untuk korban Sulteng yang dikawal oleh dua mobil polisi, dan diikuti tiga mobil pendamping lainnya.

Salah satu anggota group WhatsApp relawan asal Sulut yang saya ikuti, salah satu anggotanya bertanya, apakah bayi diijinkan masuk Palu. Waktu itu, baru memasuki H+5 pasca bencana.

Pertanyaannya berkaitan dengan salah satu anggota komunitas yang sedang dalam perjalanan ke Palu membawa bantuan logistik, ikut membawa bayinya yang berusia dua tahun.

Di salah satu gereja, selama beberapa hari sebuah panitia dibentuk untuk mengumpulkan sumbangan dari gereja-gereja sekitar dalam aras wilayah.

Berkali-kali di pengeras suara, panitia menegaskan bahwa sumbangan uang yang terkumpul tidak akan digunakan oleh panitia sebagai uang jalan untuk berangkat membawa bantuan itu ke Palu.

Pasalnya, untuk membawa sumbangan ke sana, banyak pengurus gereja ikut bersama.

Perjalanan darat Manado – Palu itu sepanjang 1100 kilometer. Berkendara secara normal, jarak itu akan ditempuh selama 24 jam hingga 30 jam. Tidak sedikit biaya bahan bakar dan makan selama perjalanan pulang pergi.

Jika untuk membawa satu truk bantuan saja, harus diikuti dengan panitianya hingga tiga mobil, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan? Belum lagi untuk akomodasi selama di Palu.

Bukankah masih lebih baik, jika biaya-biaya itu dikonversi saja menjadi sumbangan bagi mereka. Cukuplah mengutus satu dua orang Panitia mengawal bantuan hingga tiba di lokasi.

Jangan sampai, niat untuk ke Palu itu dibarengi dengan keinginan “berwisata”. Tiba di sana, foto-foto, selfie dan upload biar orang tahu sudah tiba di lokasi bencana.

Beberapa relawan asing dituding dengan niat seperti ini. datang tidak murni ingin membantu, tetapi hanya ingin “wisata bencana”.

Jangan menambah duka dan penderitaan mereka di Pasigala dengan nafsu narsis kita.

Lokasi bekas hantaman gempa, tsunami dan likuefaksi itu adalah duka mendalam bagi warga yang selamat. Disana ada kenangan bagi sanak keluarga mereka yang meninggal.

Dan itu tak pantas didatangi hanya untuk tujuan “wisata”. Cukuplah kita menyaksikannya dari tayangan berita. Toh, memberi pertolongan tak mesti harus berada disana. Satu rupiah donasi kita akan berakumulasi menjadi bantuan kemanusian bagi mereka semua.

Berbagai lembaga resmi telah membuka saluran untuk menampung antusias masyarakat Indonesia memberi bantuan. Mereka lebih paham kemana arah bantuan harus disalurkan.

Pasigala memang butuh uluran tangan kita. Mari bijak dalam memberi.

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

POJOK RONNY

Natal, pikirkanlah harmonisasi dengan alam

Kasih Natal yang damai itu bukan hanya bagi sesama, tetapi juga mengirim pesan harmonisasi kedamaian dengan alam.

Bagikan !

Published

on

Hidup dalam kesederhanaan adalah pijakan Yesus Kristus ketika menyebarkan ajarannya semasa hidup. Teladan kesederhanaan semacam itu semestinya juga menjadi pijakan kita umat Nasrani dalam merayakan Natal.

Kasih yang Yesus bawa bukanlah barang mewah yang harus ditebus dengan harta yang paling mahal. Dia menginginkan kita menyebarkan Kasih dengan kerendahan dan dari hati yang paling tulus. Kasih sejatinya bukan perbuatan transaksional melainkan keterpanggilan. Mengasihi sesama manusia tidaklah mungkin dilakukan jika kita tidak mengasihi Tuhan. Itulah inti ajaran Yesus.

Praktik kesederhanaan hidup yang didemonstrasikan Yesus selama hidupnya, semestinya itu juga yang kita ejawantahkan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Kesederhanaan akan menuntun kita pada kebahagiaan nurani yang tidak mengambil berlebihan dan menghormati hak orang lain.

Kesederhanaan adalah energi kehidupan yang memberi arti dan manfaat yang luar biasa. Dengannya kita menghormati orang lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Pun demikian kita menghormati alam dengan sikap yang sama. Kita membutuhkan alam, sebab dari sana juga kita menopang kehidupan. Dari alamlah kita memperoleh pangan, papan dan sandang.

Tetapi mengeksploitasi alam secara berlebihan merupakan tindakan yang jauh dari rasa hormat terhadap Pencipta. Alam punya batas toleransi, dan jika kita melewatinya alam akan murka.

Sepanjang 2019, setidaknya hingga 23 Desember, Badan Penanggulangan Bencana Nasional mencatat telah terjadi 3.721 bencana alam di Indonesia. Angka itu hanyalah bencana yang menimbulkan korban jiwa, tidak termasuk bencana alam yang tidak memakan korban jiwa.

Bencana yang dicatat itu meliputi kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, gelombang pasang, erupsi gunung berapi, puting beliung dan sebagainya.

Di luar bencana yang disebabkan aktivitas geologi, ribuan bencana disebabkan oleh eksploitasi berlebihan manusia terhadap alam, yang justru menopang kehidupannya di dunia.

Saat ini kontinen-kontinen bumi telah disesaki hampir 8 milar manusia. Jika semua orang itu ditempatkan dalam satu timbangan, beratnya akan melebihi 300 juta ton. Jika semua binatang domestikasi (sapi, babi, domba, ayam, dll) dijejalkan di satu tempat, beratnya mencapai 700 juta ton. Sebaliknya berat seluruh binatang liar (maleo, anoa, penguin, harimau, yaki, dsb) tak sampai 100 juta ton.

Layar-layar televisi dan buku-buku anak kita masih dipenuhi dengan jepara, ikan paus, macan tutul, gajah, monyet, dan hewan liar lainnya. Tetapi di alam riil sisanya tinggal sedikit, bahkan beberapa di antaranya telah benar-benar punah.

Jika kita terus-terusan mengeksploitasi alam tanpa memikirkan degradasi ekologis, percayalah satu saat semuanya tinggal sejarah belaka. Bayangkanlah jika kita sebagai manusia hidup di bumi tanpa ditemani makhluk lain.

Ajaran Kasih yang dibawa Yesus ribuan tahun lalu, dan momentum kelahiranNya kita rayakan dengan Natal, semestinya mampu mengingatkan kita tentang kesederhanaan, sebagaimana Dia lahir di tempat yang paling sederhana.

Sudah saatnya kita merenungkan ini dengan sungguh-sungguh, lalu mempraktikkan itu dalam kehidupan kita. Kasih Natal yang damai itu bukan hanya bagi sesama, tetapi juga mengirim pesan harmonisasi kedamaian dengan alam. Pikirkan itu!.

Selamat merayakan Natal.

Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com