Connect with us

HEADLINE

Natal, marilah berdamai dengan alam

Published

on

Seluruh umat Kristiani di dunia kini kembali merayakan Natal, sebagai ucapan syukur atas kelahiran Sang Pembawa Damai, Yesus Kristus.

Dialah sosok yang menjadi batu penjuru dalam menyebarkan ajaran Kasih ke semua mahluk. Yesus, sebagaimana kesederhanaan yang Dia praktikan selama hidupNya, tentu menginginkan hal yang sama dilakukan oleh umatNya. Tak terkecuali umat Kristiani di Indonesia.

Kesederhanaan atau kebersahajaan adalah sikap hidup yang menuntun kita kepada kebahagiaan nurani. Karena sesungguhnya yang kita butuhkan hanya sedikit dan tidak selalu berupa materi. Selebihnya untuk memberi dan memenuhi hak orang lain.

Kesederhanaan memiliki arti dan manfaat yang luar biasa sebagai energi kehidupan. Tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan dan menyisihkan yang lebih bagi yang membutuhkan.

Sikap ini juga harus dipraktikan bukan hanya bagi sesama manusia, tetapi juga bagi alam dan lingkungan tempat kita hidup. Mengeksploitasi alam secara berlebihan adalah sikap yang jauh dari ajaran Kasih Yesus.

Kita menutup tahun 2018 dengan duka yang menimpa sesama warga kita yang tinggal di sekitar Selat Sunda. Terjangan tsunami yang tidak terperikan sebelumnya sungguh membuat kaget.

Kembali alam menunjukkan misterinya yang sulit ditebak oleh manusia. Kita sudah menguasai teknologi hingga ke antariksa dan memetakan hampir semua sisi kehidupan di planet ini.

Tetapi alam selalu saja punya cara mengekspresikan kekuatannya. Alam selalu menuntut keseimbangan, yang ironinya keseimbangan itu selalu digerus oleh manusia, yang justru tinggal di dalamnya.

Sepanjang tahun 2018, ada sekitar 4200 bencana alam tercatat di Indonesia, dengan korban meninggal dan hilang sebanyak 2400 lebih. Beberapa diantaranya merenggut korban meninggal yang sangat besar. Gempa bumi dan tsunami di Palu salah satunya.

Tahun 2019 sebentar lagi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi, sepanjang tahun depan tanah air yang kita cintai bersama ini akan dilanda sekitar 2500 bencana. Ini angka yang besar.

Malapetaka yang diprediksi oleh BNPB itu didominasi oleh sebab hidrometeorologi atau faktor hujan. Kekeringan dan kebakaran adalah sebab lainnya. Sementara bencana seperti gempa bumi sungguh belum bisa diprediksi.

Alam tidak bisa disalahkan. Alam selalu mencari jalannya untuk bisa menyeimbangkan dirinya. Kitalah yang seharusnya menyadari, untuk selalu bijak memanfaatkan alam.

Kesederhanaan itu tadi kuncinya. Ajaran Kasih Yesus menginginkan kita umat manusia untuk tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Pembukaan lahan yang tak terkendali, perusakan hutan, perburuan satwa liar, penambangan tak bertanggungjawab, pembuangan sampah sembarangan, hanyalah sebagian kecil dari sikap kita yang tak bijak dengan alam.

Sudah saatnya kita merenungkan, bahwa berdamai dengan alam adalah sikap hidup yang menjadi sebuah keharusan. Mari merayakan Natal dengan komitmen berdamai dengan alam.

Selamat merayakan Natal.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HEADLINE

30 Jurnalis di Sulut dilatih KPK

KPK berharap berita tentang pencegahan korupsi meningkat.

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Jurnalisme dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sejak berdiri, KPK tumbuh dan bekerja di tengah dukungan masyarakat yang positif. Kondisi ini terjadi bukan hanya karena kinerja KPK. Dukungan positif terus menyertai KPK karena publikasi yang dilakukan oleh para jurnalis.

Kondisi ini tampak dalam hasil Survei Partisipasi Publik yang dilakukan oleh KPK pada 2018. Sebanyak 90,4 persen masyarakat mendapat dan mencari informasi tentang KPK dari media massa. Sumber kedua adalah media sosial. Sebanyak 31,8 persen masyarakat mencari informasi tentang KPK ke media sosial. Media sosial kini menjadi perkembangan bentuk jurnalisme atau pers yang sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi.

Media sosial menjadi salah satu bentuk dari jurnalisme warga yang kini membantu dan menjadi pelengkap para jurnalis profesional yang menulis untuk perusahaan media. Berkat para jurnalis inilah, pencegahan dan penindakan yang dilakukan KPK bisa terdengar dan diketahui seluruh masyarakat Indonesia.

Sayangnya, berita dan informasi tentang pencegahan dan penindakan belum berimbang jumlahnya. Dari data pemberitaan tahun 2018, berita penindakan mendominasi sebesar 58,55 persen. Berita pencegahan hanya mendapat tempat 12,64 persen.

Untuk meningkatkan pemberitaan tentang pencegahan sekaligus memberikan apresiasi kepada jurnalisme, KPK mengelar Pelatihan Jurnalis Lawan Korupsi.

Pelatihan yang ikut didukung olah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Tempo Institute ini memilih Kota Manado sebagai lokasi penyelenggaraan pertama.

“Kami bersyukur diberi kesempatan belajar tentang korupsi terutama aspek pencegahannya,” ujar Ketua AJI Kota Manado, Lynvia Gunde, Sabtu (20/7/2019).

Pelatihan yang digelar di gedung Grand Kawanua Internasonal City dan diikuti sebanyak 30 peserta yang terdiri dari jurnalis yang bekerja di berbagai platform media serta beberapa jurnalis warga dan pers mahasiswa.

“Peserta yang ikut pelatihan ini diharapkan dapat menghasilkan karya tentang pencegahan korupsi. Ada lombanya dengan hadiah cukup besar,” ujar Tri Artining Putri dari Humas KPK.

Ada lima sektor yang akan menjadi fokus lomba jurnalistik ini yakni adalah sumber daya alam, pendidikan, kesehatan, dana desa, dan pelayanan publik.

Dalam pelatihan itu, KPK menghadirkan pembicara dari pegawai KPK, Erlangga Kharisma Adikusumah, Ketua Bidang Data dan Informasi AJI Indonesia, Mustakim serta Akademisi Universitas Sam Ratulangi Manado, Daud Ferry Liando.

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com