Sukacita Natal di tenda pengungsian (bagian 1)

zonautara.com
Foto: Kabar Sulteng Bangkit / Basri Marsuki

SIGI – Semburat jingga menghiasi langit di atas Dusun Bulopontu, Desa Sidera, Kabupaten Sigi. Cahayanya berpendar di sela dedaunan kayu jati yang menaungi tenda sederhana. Matahari sebentar lagi terbenam.

Dari kejauhan tampak puluhan petani menyusuri pematang menuju pulang. Mereka memanggul bakul rotan berisi bermacam hasil panen siang tadi. Tomat, cabe dan aneka sayuran.

Sebagian petani yang lain telah berpakaian rapi. Tangan mereka mengapit alkitab dan beberapa pernik khas Natal.

Mereka adalah anggota Jemaat GPID Patmos Desa Jono Oge yang akan menggelar ibadah Natal 24 Desember 2018. Mereka adalah korban likuefaksi yang melanda 28 September lalu.

Tak hanya gereja. Rumah kediaman mereka ikut hilang terbawa lumpur sejauh satu kilometer lebih ke arah desa tetangga, Desa Langaleso. Kini, anggota Jemaat Patmos harus merayakan Natal di tenda pengungsian di Dusun Bulopontu Desa Sidera.

Jarum jam menunjukan pukul 17.00 lewat. Cahaya matahari sore yang berpendar di antara rindang daun jati tampak meredup. Digantikan kilatan blitz bola lampu yang memancar dari pohon natal yang dihias warna warni.

Kursi pun sudah dijejali seratusan jemaat. Masing masing mulai menggengam liturgi —lembaran yang berisi tata cara ibadah Natal. Saat lonceng kecil berdentang, satu persatu warga keluar dari tenda masing-masing. Suasana senyap. Duduk dengan khidmat siap memperingati Natal yang menandai kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat.

Sesaat Pendeta Ola Walangitan yang akan memimpin ibadah natal sore itu menuju altar.

Setengah jam prosesi ibadah berjalan, lagu malam kudus pun berkumandang dengan khidmat di tenda sepanjang 30 meter itu. Suara burung yang bersahutan di atas pepohonan tak mengurangi kekhusyukan anggota jemaat melalui ibadah yang berlangsung dua jam lebih itu.

Saat lagu malam kudus mengalun, tiga bola lampu yang menggantung dimatikan. Bersamaan dengan itu, dua orang gembala jemaat berkeliling menyulut satu persatu lilin kecil di tangan setiap anggota jemaat. Namun sisa cahaya matahari senja yang berebut masuk ke ruang tenda, masih mengalahkan cahaya yang dipantulkan lilin lilin kecil itu.

Setengah jam kemudian barulah, cahaya lilin itu terasa. Efek cahaya yang berasal dari pernak-pernik Natal, tampak berkilatan di langit-langit tenda membuat suasana malam di kompleks pengungsian itu terasa hidup.

Dalam khotbah Natalnya, Pendeta Ola Walangitan yang belum setahun bertugas di Jemaat Patmos Jono Oge itu, terus memotivasi jemaatnya untuk terus optimistis menghadapi kehidupan.

Bencana kata dia hanyalah satu fase dalam hidup manusia. Tetapi kekuatan dan iman kata dia, akan membuat manusia bisa memenangkan pertarungan dalam kehidupan yang keras ini.

“Kita berdoa untuk umat muslim agar terus kuat dalam menghadapi kehidupan yang keras. Dengan kekuatan itu, kita bisa bersama-sama berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” demikian doa yang dipanjatkan.(Bersambung)

Penulis: Yardin Hasan
Editor: Ika Ningtyas


Response (1)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com