Connect with us

HEADLINE

Belajar tak lagi terkendala waktu, kini ada Rumah Belajar

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Kini jamannya digital dan serba online. Semua sektor terdisrupsi, termasuk bidang pendidikan. Kegiatan belajar mengajar tidak mesti dilakukan di dalam kelas, dan dikekang jadwal yang ketat.

Disrupsi telah membuat proses belajar mengajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Syaratnya tentu bisa terkoneksi dengan internet. Banyak aplikasi pembelajaran kini tersedia di internet, baik yang gratis maupun berbayar.

Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengembangkan layanan bimbingan belajar online. Namanya Rumah Belajar, dan ini gratis.

Di Rumah Belajar, siswa PAUD hingga SMA/K, bisa memanfaatkan delapan fitur utama sebagai media pembelajaran. Fitur tersebut di antaranya Sumber Belajar, Buku Sekolah Elektronik, Bank Soal, Laboratorium Maya, Peta Budaya, Wahana Jelajah Angkasa, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, dan Kelas Maya.

Rumah Belajar dapat digunakan bagi siswa yang tidak mampu membeli buku pelajaran secara fisik. Akses saja Fitur Buku Sekolah Elektronik, disana tersedia berbagai judul buku pelajaran digital.

Bagi sekolah yang belum memiliki peralatan praktikum IPA, di Rumah Belajar tersedia fitur laboratorium yang memungkinkan siswa dan guru melakukan percobaan tentang ilmu pengetahuan alam secara interaktif.

Materi-materi yang ada di Rumah Belajar cukup lengkap, bahkan tersedia latihan soal sebelum menghadapi ulangan atau ujian di sekolah.

Kepala Pustekkom, Gogot Suharwaoto mengatakan akan terus menambah konten di Rumah Belajar. Saat ini sudah ada puluhan ribu konten di situs itu.

“Rumah Belajar ini juga didukung pegawai-pegawai fungsional Pengembang Teknologi Pendidikan (PTP), yang memang bertugas mengembangkan teknologi pembelajaran,” kata Gogot.

Salah satu pengguna Rumah Belajar, Risqi Elvatih, siswa SMA Negeri 4 Bogor merasa nyaman dan terbantukan dengan layanan Rumah Belajar.

“Siapapun yang coba aplikasi Rumah Belajar pasti akan ngerasa nyaman, kok. Soalnya, memang aplikasinya sudah didesain sesimpel mungkin, jadi enggak ada tuh yang namanya ribet pas mau belajar,” ujar Risqi.

Rumah belajar bisa diakses di: https://belajar.kemdikbud.go.id/. Selain itu Rumah Belajar juga bisa didownload melalui playstore, sehingga bisa digunakan saat sedang mobile di gadget.

Unduh materi

Materi-materi yang ada di Rumah Belajar juga bisa diunduh. Hasil unduhan bisa disimpan dan digunakan oleh guru maupun siswa saat tidak ada koneksi internet.

Ketersediaan materi yang bisa diunduh ini, tentu akan sangat membantu bagi siswa dan guru yang tinggal di wilayah-wilayah yang tidak mempunyai koneksi internet yang cukup.

Mengunduh materi di Rumah Belajar masih jauh lebih murah dan praktis jika dibandingkan dengan membeli buku pelajaran secara fisik. Selain lebih murah -cukup datang ke lokasi yang ada akses internet-, materi yang ada lebih interaktif.

Sejauh ini, Rumah Belajar telah banyak dimanfaatkan oleh pendidik sebagai sumber media pembelajaran. Pendidik di Bengkulu Tengah, NTB, dan Maluku Utara, misalnya, merasakan portal tersebut sangat membantunya dalam mencari materi pembelajaran. Peserta didik pun tambah bersemangat dengan media pembelajaran berbasis internet tersebut.

Dalam memanfaatkan Rumah Belajar pengguna akan di dampingi oleh Duta Rumah Belajar yang telah dipilih dari 34 Provinsi. Mereka merupakan perpanjangan tangan dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kemendikbud, dalam melakukan Sosialisasi pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), khususnya pemanfaatan Rumah Belajar di masing-masing provinsinya.

Editor: Ronny Adolof Buol

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HEADLINE

Walau belum masuk Indonesia, cacar monyet perlu diwaspadai

Virus penyakit ini menular dari hewan ke manusia.

Published

on

Foto: pexels.com

ZONAUTARA.com – Pada 8 Mei lalu, seorang pria berkebangsaan Nigeria yang berusia 38 tahun dipastikan terinfeksi cacar monyet. Ini kasus infeksi monkey pox pertama kali yang terdeteksi di Singapura.

Pria tersebut tiba di Singapura pada 28 April. Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura, menyebut telah mengkarantina pasien itu di National Centre for Infectious Diseases (NCID) Singapura.

Monkey pox adalah penyakit langka yang disebabkan oleh virus, ditularkan ke manusia dari hewan terutama di Afrika tengah dan barat. Proses perpindahan virus terjadi saat seseorang melakukan kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi seperti tikus.

Meski namanya adalah cacar monyet, penyakit ini sebetulnya bukan berasal dari monyet, melainkan dari hewan pengerat seperti tikus dan tupai.

Virus ini teridentifikasi pertama kali pada tahun 1958 dan kasus infeksi ke manusia pertama kali terjadi di Kongo pada tahun 1985.

Pasien yang terjangkit monkey pox menunjukkan gejala demam, sakit, pembengkakan kelenjar getah bening, serta ruam kulit. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia atau bahkan kematian dalam beberapa kasus.

Penularan “dari manusia ke manusia”, dapat terjadi karena adanya kontak dekat dengan sekresi saluran pernapasan penderita. Selain itu, bisa pula disebabkan karena terkontaminasi oleh cairan pasien yang terinfeksi.

Belum masuk Indonesia

Kendati sudah terdeteksi di Singapura, namun Kementerian Kesehatan memastikan penularan cacar monyet belum sampai ke Indonesia.

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, mengatakan saat ini pihaknya tengah memperketat pengawasan masuknya orang dari pintu-pintu perbatasan baik dari udara maupun laut.

“Kami sudah siagakan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Batam sebagai salah satu pintu masuk utama dari Singapura. Begitu juga dengan Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang),” ujar Nila di Kantor Staf Presiden (KSP), Selasa (14/5/2019), sebagaimana dinukil dari Beritagar.id.

Pada lokasi-lokasi tersebut, sambung Nila, telah disiapkan alat pendeteksi suhu tubuh khusus yang mampu memberikan sinyal jika seseorang dalam kondisi yang perlu diwaspadai.

“Bentuknya screening demam, ukur temperatur. Seperti CCTV gitu. Jadi kalau Anda demam dan lewat situ, di layar gambarnya jadi merah-merah gitu ya,” kata Nila.

Walau demikian, Nila mengakui bahwa tak semua pelabuhan dan bandara memiliki alat pendeteksi tersebut.

Namun ia memastikan bahwa pihaknya telah mempersiapkan rumah sakit khusus untuk perawatan jikalau penyakit itu pada akhirnya berhasil masuk ke Indonesia.

Setidaknya ada dua tempat perawatan yang sudah disiapkan pemerintah untuk mengantisipasi jika ada pasien yang tertular. Dua tempat perawatan itu adalah RSUD Embung Fatimah dan RS Otorita Batam (BIFZA).

Menkes juga mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga kesehatan dan pola hidup lantaran penyakit ini bisa menular apalagi jika daya tubuh sedang menurun.

Satu hal yang perlu masyarakat ketahui, kata Nila, vaksin untuk penyakit ini belum ditemukan. Sebaliknya, karena penyakit ini disebabkan oleh virus, maka yang perlu dikhawatirkan adalah penyebaran bisa begitu mudah dan cepat. Maka langkah terbaik adalah dengan menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan.

“Vaksin ini spesifik untuk satu penyakit. Jadi kita harus menemukan vaksin cacar monyet. Bukan vaksin yang lain. Sampai sekarang seperti ebola atau penyakit lain juga belum ditemukan vaksinnya,” tukasnya.

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading
Advertisement

Trending