PALU – Kemanusiaan memang tak mengenal identitas, agama, ras atau afiliasi politik tertentu. Ia datang dari pintu mana saja, oleh siapa dan kapan saja. Seperti yang terlihat pada perayaan imlek tahun ini.

Ratusan warga Tionghoa dalam kekhusukan doanya, memohon kekuatan bagi penyintas bencana di Palu, Sigi dan Donggala. Doa dipanjatkan bagi mereka sedang kesusahan di tenda pengungsian atau huntara.

Padahal, perayaan imlek tahun tidak bisa dibilang istimewa setidaknya jika dibandingkan tahun tahun sebelumnya.

Gempa dengan kekuatan 7,4 SR, september tahun lalu, telah merusak bagian penting vihara – rumah suci tempat peribadatan warga Tionghoa untuk memohon keselamatan kepada sang pencipta. Akibatnya, perayaan Imlek 2570 tahun ini yang bertepatan 5 Februari 2019, digelar di bawah tenda.

Sekalipun di dalam tenda, namun tidak mengurani kekhusukan ibadah. Dalam doanya, pemimpin ibadah memanjatkan doa, agar korban yang selamat dalam musibah gempa senantiasa diberi kemudahan menjalani hidup dan kesuksesan dalam menjalani hari-harinya yang berat.

Tokoh masyarakat Tionghoa Kota Palu, Wijaya Chandra, mengatakan di momen imlek tahun ini, akan berbagi bingkisan dengan korban bencana di Palu. Khususnya, penyintas yang masih berada di pengungsian.

Sekali pun perayaannya di tenda, namun tidak menghilangkan keceriaan imlek. Pertunjukan seperti barongsai masih menjadi momen yang dinantikan. Tidak saja oleh warga Tionghoa tapi warga di sekitar Kelurahan Nunu Palu.

Ratusan warga yang berada di sekitar Vihara Karuna Dipa Palu, berbondong bondong mendatangi vihara, untuk menyaksikan pertunjukan barongsai. Tenda besar yang dihias pernak pernik khas imlek, membuat suasana terlihat hidup berpadu dengan gerakan barongsai yang dinamis, simbol kegembiraan menyambut tahun babi yang dalam tradisi Tionghoa sebagai pembawa rejeki.

Penulis & Foto: Rolis Muchlis
Editor: Yardin Hasan




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id