Connect with us
Hosting Unlimited Indonesia

TRAGEDI DI BAKAN

“Masih satu ponakan saya di dalam, satu lagi sudah meninggal kakinya diamputasi”

Published

on

BOLMONG, ZONAUTARA.com – Sania Ghaib (67) masih menanti dengan sabar upaya pencarian dan evakuasi yang dilakukan tim penyelamat gabungan. Dia bersama keluarga lainnya berada di pertigaan Desa Bakan yang menuju ke arah lokasi explorasi PT J Resources Bolaang Mongondouw (Bolmong).

Sania sudah berada di sana sejak Selasa (26/2) malam. Kala itu kabar menyesakan beredar, lokasi lubang tambang rakyat Desa Bakan ambruk. Puluhan orang terjebak di dalamnya, termasuk dua ponakan Sania.

Dia dan keluarganya pun bergegas ke sana. Menanti di pertigaan itu bersama ribuan orang lainnya. Jalan itu merupakan akses termudah menuju ke titik musibah yang berbatasan dengan area explorasi PT J Resources.

Tapi Sania dan warga lainnya tak diijinkan melewati jalan perusahaan. Jika ingin sampai di titik musibah, mereka harus melewati jalan memutar yang dirintis para petambang, dan itu sangat ekstrim.

Tim penyelamat menggunakan jalan perusahaan untuk menurunkan korban yang berhasil dievakuasi. Sania dan sanak keluarga korban lainnya menanti di pertigaan itu, berharap bisa segera tahu jika ada korban yang dibawa turun.

Namun hingga hari keempat (Jumat, 1/3) proses evakuasi, baru satu dari dua ponakannya yang berhasil dievakuasi. Korban itu atas nama Teddy Mokodompit. Kaki Teddy harus diamputasi karena terjepit batu besar. Jika batu disingkirkan, material diatasnya akan runtuh dan akan memperparah kondisi lubang.

“Dia sendiri yang minta kakinya dipotong, supaya bisa dikeluarkan dari lubang,” ujar Sania.

Namun naas bagi Teddy, usai tim medis mengamputasi kakinya, dia meninggal setelah bertahan 41 jam terhimpit batu.

“Ponakan kami sudah dimakamkan, kakinya masih ada di lubang di atas,” tambah Sania.

Meski Teddy sudah dimakamkan, namun Sania dan keluarganya masih bertahan di pertigaan itu. Mereka masih menanti lagi satu ponakan mereka, Reza Sipasi yang belum diketahui nasibnya.

Hingga Jumat (1/3) sudah ada 19 korban selamat dan 8 korban meninggal yang dievakuasi, namun masih ada lagi korban yang terjebak di dalam lubang tambang itu.

Tim Penyelamat gabungan terus berusaha melakukan upaya pencarian dan evakuasi. Sejak kemarin alat berat sudah dikerahkan untuk menggali lubang dan mencari korban.

Kepala Basarnas Marsekal Madya Bagus Puruhito pun datang langsung mengunjungi lokasi dan memantau jalannya pencarian.

“Kami berharap yang terbaik, dan menerima apapun hasil dari pencarian. Kami hanya ingin melihat kondisi ponakan kami yang satu lagi dalam kondisi apapun,” kata Sania.

Editor: Ronny Adolof Buol

TRAGEDI DI BAKAN

Legislator Sulut prihatin soal tambang rakyat di Bakan

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com– Aktifitas pertambangan rakyat yang menalan puluhan korban di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) menjadi keprihatinan bersama. Terutama para wakil rakyat kita di DPRD Sulawesi Utara.

Legislator, Rita Lamusu mengatakan, kejadian tersebut telah diperingatkan sejak lama oleh seluruh pihak. Namun menurut dia, Pemerintah harus tegas terhadap tambang-tambang tanpa izin tersebut.

“Karena saat ini kelihatan setengah-setengah dalam menanganinya sehingga masyarakat tidak takut melakukan penambangan,” kata dia, Senin (11/3/2019).

Bahkan kata politisi PKS itu, hampir setiap di acara di desa sering diinfokan soal tambang-tambang ilegal namun masyarakat tidak mengindahkan.

“Setidaknya harus ada solusi konkrit dari pemerintah terkait hal ini agar masyarakat sadar untuk tidak melakukan aktifitas pertambangan ilegal,” ujar Lamusu.

Sedangkan soal Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pertambangan yang sementara digodok di DPRD Sulut, masyarakat pun meminta agar segera dituntaskan.

“Di DPRD Sulut ada Ranperda Pertambangan. Kiranya Ranperda itu berisikan pasal-pasal yang bisa jadi payung hukum dalam penertiban pertambangan ilegal, serta memberikan solusi bagi rakyat penambang,” tambah pengamat politik pemerintahan, Taufik Tumbelaka.

“Kan kerja para legislator adalah membuat aturan yang berpihak pada rakyat,” tambah dia lagi.

Seperti diketahui, dari data Basarnas Manado, hasil evakuasi tim tahap pertama mulai 26 Februari hingga 3 Maret 2019, ada 27 korban yang dievakuasi, dimana 18 orang selamat dan 9 orang meninggal dunia.

Evakuasi tahap kedua pada 4 Maret sampai 7 Maret, ada 18 jenazah korban. Namun, ada beberapa yang tidak utuh. (K-02)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Hosting Unlimited Indonesia

Trending