Connect with us

CARI TAHU

Generasi Sindrom FOMO, mulai dari kepo sampai haus akan like

Jika anda tidak bisa jauh dari smartphone, bisa jadi anda mengidap FOMO.

Published

on

Foto: Pexels.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Anak milenial adalah generasi yang tak bisa berlama-lama tanpa media sosial, sehingga tidak bisa dipungkiri mengubah banyak hal, baik positif maupun negatif.

Salah satu dampak negatif yang tidak disadari para pengguna adalah sindrom FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan ketertinggalan informasi.

Anita Sanz, seorang psikolog klinis, mengatakan Fomo ini dipicu oleh media sosial. Keberagaman dan kecepatan informasi yang dibawa media sosial mampu membuat orang merasa takut, khawatir, gelisah, kalau tidak mengikuti perkembangan zaman. Ya, contohnya jika smartphone tidak terhubung dengan internet, hidup terasa kurang lengkap.

Biasanya pengidap Fomo ini tidak sadar kalau dirinya sudah terjangkit. Secara kasat mata, tidak nampak dampak dari Fomo. Tapi kalau ditelaah lebih lanjut, orang dengan sindrom ini bisa kecanduan media sosial yang berpengaruh terhadap psikologisnya.

Nah, ini empat ciri-ciri orang dengan sindrom FOMO:

  • KEPO

Orang dengan sindrom FOMO akan melakukan segala cara untuk tetap up to date. Kepo adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object artinya mengetahui setiap detail objek. Dalam hal ini objek informasi di dunia maya tahu media sosial.

Sindrom Fomo memiliki ketakutan tertinggal informasi, salah satu yang pasti mereka lakukan adalah kepo.

Sebenarnya kepo sendiri wajar dilakukan karena manusia memang punya dasar sifat penasaran. Tapi, kalau sudah jadi kebiasaan sampai membuat ketergantungan, justru akan menimbulkan bahaya. Terlebih kalau yang dikepoin adalah kehidupan orang lain.

Selain bisa memupuk rasa iri, kepo juga menandakan orang tersebut sebenarnya tidak bahagia, selalu cemas, karena tak pernah berhenti membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

  • Pencitraan

Memilih hidup dalam kebohongan media sosial alias pencitraan, padahal kehidupan nyata belum tentu begitu. Itu salah satu ciri sindrom FOMO.

Orang dengan sindrom Fomo ini lebih memilih untuk menampilkan kehidupan mereka yang terlihat mengikuti tren di media sosial.

Kondisi ini sesuai survei dari LearnVest, perusahaan perencanaan keuangan AS, yang menyatakan lebih dari 56% generasi millennial mengakui alasan mereka memasang foto sedang makan atau mengunjungi tempat yang lebih mahal di media sosial, hanya untuk membuat mereka tampak lebih diminati dan menciptakan kecemburuan sosial.

Nah, jelas disini bahwa yang mereka butuhkan hanyalah pencitraan. Alasannya ya karena ketakutan untuk tertinggal. Ini erat kaitannya dengan istilah social climber. Para social climber ini kerap menggunakan segala cara supaya bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki status sosial lebih tinggi dan tidak ragu-ragu meski harus bohong.

  • Obsesi berlebihan atau haus akan like, love, atau comment

Penelitian dari University of California Los Angeles: “Perasaan seseorang yang kesenangan melihat notifikasi media sosialnya sama dengan perasaan seseorang yang makan makanan kesukaannya atau seseorang yang memenangkan hadiah undian.”

Studi itu juga menemukan bahwa notifikasi like, comment, love, dan lainnya pada orang yang candu media sosial atau pengidap FOMO mampu mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan perasaan senang karena penghargaan. Tak heran jika love, like, comment, dan lain-lain, bisa membuat orang terobsesi.

  • Merasa khawatir terlalu lama “absen” dari media sosial

Orang yang takut tertinggal informasi atau tren jelas bakal ‘lengket’ dengan smartphone atau media sosial. Beberapa tandanya adalah mereka akan meletakkan ponsel di dekatnya ketika tidur, cemas saat baterai ponsel tinggal sedikit, gelisa saat tak ada koneksi internet, dan selalu mengecek ponsel setiap menit.

Ini karena akan muncul kekhawatiran atau bahkan perasaan bersalah jika mereka sebentar saja ‘absen’ dari dunia maya. Kalau kamu sudah termasuk dalam ciri ini, kamu patut waspada sih, karena itu artinya kesehatan mentalmu sudah terganggu.

Nah, karena Fomo ini dipandang sebagai sesuatu yang tidak selayaknya terjadi. Sebaiknya para pengguna media sosial dapat mampu mengendalikan diri, seperti memberi batasan mengakses media sosial dan lebih fokus berkomunikasi di dunia nyata.

Editor: Ronny Adolof Buol

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ZONAPEDIA

Menelisik kepercayaan Mana Di Nusa Utara

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Bila melihat di masa pertengahan abad ke-16, masyarakat yang tinggal di wilayah Nusa Utara telah mengenal kepercayaan. Menurut D. Brilman dalam tulisannya berjudul Onze zendingsvelden, De zending op de Sangi – en Talaud – eilanden door, meski telah mengenal Kristen dan Islam namun pandangan hidup masyarakat lebih bersifat animisme. Lebih tepat lagi bila dinyatakan sebagai suatu campuran yang khas antara kepercayaan ‘mana’, penyembahan orang mati dan kepercayaan pada roh-roh dan dewa-dewa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘mana’ memiliki pengertian tenaga hidup yang tidak berpribadi dan ada pada manusia, binatang, tumbuhan, dan segala macam benda, biasanya untuk jimat atau fetis, serta membawa keberuntungan bagi pemiliknya, tetapi akan menimbulkan kerugian bagi orang yang tidak menghiraukannya (menurut padangan orang Melanesia).

Istilah ‘mana’ pertama kali digunakan oleh zendeling Inggris Codrington untuk menyatakan suatu tenaga sakti penuh rahasia. Tenaga ini menurut pengertian suku primitif berada dalam seluruh alam, dalam manusia dan binatang, dalam pepohonan dan tumbuhan, dalam segala sesuatu dan bisa mengerjakan baik kebahgiaan maupun pemusnahan.

Menurut Brilman dalam karyanya yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan (2000) dengan judul Kabar Baik di bibir Pasifik: zending di Kepulauan Sangihe dan Talaud, segala sesuatu dan istimewa yang luar biasa dan tak dapat diterangkan dianggap bersumber pada kuasa ini. Jika di dalam alam dan masyarakat tidak terjadi sesuatu yang kuar biasa, kuasa itu tetap ada tapi tak menampak.

Ia memberikan gambaran bahwa ‘mana’ bagaikan arus listrik pada suatu saat tidak mengalirkan arus listrik dan tidak berbahaya, tapi oleh suatu sebab kecil – umpanya ditekan suatu tombol – dapat mengakibatkan maut dan kemusnahan pada setiap orang yang terkena sentuhannya, demikian pula hanya menanti suatu hal kecil terjadi untuk menggerakkan kuasa terpendam ini, sehingga udara dan awan-awan pun mengalami pengaruhnya dengan akibat: kekeringan dan kerusakan tanaman, bahkan manusia pun dapat kehilangan nyawanya.

“Jadi adalah sangat penting diusahaka mencegah agar kuasa ini menimbulkan kesempatan untuk mereda dan menyebar melalui waktu penuh larangan-larangan (periode tabu), yang singkat atau berkepanjangan dalam waktu mana orang-orang harus tinggal secara tenang di rumah dan hanya melaksanakan pekerjaan yang penting-penting saja,” tulis Brilman.

Tapi, syukurlah, jelas Brilman, ada juga orang-orang, justru karena memiki fetis-fetis atau amulet-amulet (jimat-jimat) yang mempunyai kuasa sama yang begitu besar dalam diri mereka sehingga dapa menimbulkan suatu kuasa lawan. Dengan demikian dapat mengarahkan kuasa gelap itu, baik untuk kepentingan sesamanya (magi putih, dukun) maupun pribadinya, kerapkali dengan merugikan orang senasibnya (magi hitam, perempuan sihir/songko).

Editor: Rahadih Gedoan

Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com