Connect with us
Hosting Unlimited Indonesia

Sosial Kemasyarakatan

Uniknya Bastion Benteng Maas yang berbentuk oktagon

Published

on

Foto: Balai Arkeologi Sulawesi Utara

Riset para peneliti dari Balai Arkeologi Sulawesi Utara menemukan bentuk bastion Benteng Maas yang tidak lazim.

Reruntuhan bastion di tepi pantai utara Provinsi Gorontalo ini menunjukkan bentuk segi delapan atau oktagon.

Bastion ini satu-satunya dari 4 bastion yang masih utuh meskipun mengalami kerusakan akibat dimakan usia.

“Bastion adalah bagian yang menjorok keluar yang pada umumnya terletak di tiap sudut benteng,” kata Irna Saptaningrum, ketua tim peneliti Benteng Maas Kamis (2/5/2019).

Irna menjelaskan fungsi bastion ini sebagai tempat pengintaian atau pengawasan, biasanya ada lubang bidik yang jumlahnya sesuai kebutuhan pada masanya.

Sebagai alat pertahanan militer, bastion digunakan untuk pemantauan pantai atau laut, sungai, jalan atau akses darat.

Di Benteng Maas, bastion yang tersisa adalah yang paling besar untuk mengawasi bagian laut yang juga terdapat muara sungai.

Foto: Balai Arkeologi Sulawesi Utara

“Bentuk bastion yang oktagonal atau segi delapan ini tidak lazim untuk benteng Belanda karena biasanya berbentuk mata panah,” kata M Chawari, anggota tim penelitian yang berasal dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

Temuan para arkeolog ini menarik karena dalam catatan sejarah Gorontalo paling lama dijajah oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan Pemerintah Hindia Belanda.

Temuan bentuk oktagon bastion ini semakin memperkaya khazanah dan nilai benteng-benteng masa Islam dan kolonial di Gorontalo.

Anggota tim penelitian lain, Agus Hascaryo, pakar geo-arkeologi memastikan bahan baku penyusun bastion adalah batu karang, andesit, granodiorit, tuva dan breksi yang sumbernya banyak terdapat di sekitar benteng.

“Secara umum riset yang kami lakukan adalah untuk mencari bentuk arsitektur, sekarang sedang mencari puzzle, bagian-bagian yang harus dirangkai untuk membentuk kesatuan utuh,” ujar Wuri Handoko, Kepala Balai Arkeologi Sulawesi Utara.

Editor: Ronny Adolof Buol

Advertisement Hosting Unlimited Indonesia
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sosial Kemasyarakatan

Pecinta anjing dunia minta warga Sulut berhenti konsumsi daging anjing

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.comSejumlah pecinta anjing dari sejumlah negara mengunjungi Sulawesi Utara (Sulut), Jumat (1/3/2019).

Rombongan pecinta anjing yang tergabung dalam Dog Meat Free Indonesia (DMFI) adalah Lola Webber dari Inggris yang adalah pendiri dan direktur Chance for Animals Foundation dan koordinator di DMFI, Peter Egan, artis dari Inggris dan aktivis kesejahteraan hewan, David Acito dari Itali, pendiri dan direktur dari Action Project Animal (APA), Andres Tellings dari Wordpree Media dan Davide Lamonte dari media Italia.

Salah satu yang dikunjungi, yaitu kantor Gubernur Sulut. Dalam kesempatan itu, rombongan diterima oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey yang diwakili Asisten I Edison Humiang.

Dalam pertemuan tersebut, koalisi pecinta anjing yang menamakan diri Dog Meat Free Indonesia (DMFI) tersebut menegaskan, bahwa daging anjing dan kucing bukanlah pangan.

Mereka pun mengeluhkan soal perdagangan anjing dan kucing di pasar-pasar ekstrem di Sulut yang buruk, karena memukul anjing dan kucing sampai membakarnya di depan mata para pembeli di pasar.

Sebastian saat diwawancarai sejumlah wartawan mengatakan, Indonesia khususnya Sulut merupakan daerah yang indah dan banyak dikunjungi wisatawan dari belahan dunia.

Sehingga, kata dia, sungguh tidak pantas memperlihatkan buruknya perdagangan anjing di pasar Sulut. Baginya, perdagangan dan mengonsumsi anjing bukanlah bagian dari budaya, karena budaya adalah sesuatu yang positif.

I think is guilty animal should never be consider as culture. Culture is something positve, something people want to see when come to Indonesia (saya rasa itu salah ketika binatang dikatakan sebagai budaya. Budaya adalah sesuatu yang berbau positif, sesuatu yang ingin dilihat orang saat datang ke Indonesia,” ujarnya.

Indonesia is beautiful country, lot of positive points could see. The extrime market from my perspective definitely things nobody want so see, no Western want to see, no German want to see (Indonesia negara yang indah, banyak hal positif yang dapat kita lihat di sini. Pasar ekstrim menurut saya adalah sesuatu yang tidak ingi dilihat orang-orang, termasuk orang Barat dan Jerman tidak mau melihat hal seperti itu),” ungkap Sebastian.

Koalisi ini pun meminta kerjasama dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut terkait persoalan tersebut

Bahkan, Sebastian pun menawarkan ingin memberikan bantuan untuk menyediakan apa saja yang diperlukan untuk mlaksanakan edukasi dan kampanye bahaya rabies dan kesejahteraan hewan.

Sementara, Lola Webber mengatakan, bahwa banyak anjing rabies yang dijual di pasar ektrim Sulut. Perbandingannya, kata Lola, di antara 10 anjing, ada satu anjing rabies.

Sementara itu, Humiang dalam kesempatan itu memberi apresiasi dan merasa gembira dengan para pecinta hewan yang bukan hanya memikirkan kesehatan manusia, tapi juga hak dari kehidupan hewan-hewan.

Humiang pun bahkan menyatakan menerima tawaran dan bantuan dari koalisi tersebut.

Terkait dengan kampanye, kata Humiang, akan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan untuk memberikan edukasi soal bahaya mengonsumsi daging anjing dan kucing.

“Kami akan memberikan edukasi kepada anak muda di sekolah-sekolah untuk stop makan daging anjing dan kucing,” ujarnya.

Menurut Humiang, edukasi kepada masyarakat bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan juga tugas semua pihak.

“Karena mengonsumsi daging anjing sudah menjadi kebiasan dan mendarah daging pada masyarakat Sulut, jadi ini membutuhkan waktu dan tidak instan. Jadi kami akan memulai dengan menyosialisasikannya kepada anak-anak didik generasi sekarang,” kata Humiang.

Humiang pun memberikan kesempatan kepada koalisi DMFI untuk bertemu langsung dengan Gubernur Olly Dondokambey untuk pembahasan lebih lanjut.

Di akhir pertemuan, Humiang dan Koalisi DMFI menyerukan ‘End the dog and cat meat trade for Sulut hebat’.

Turut hadir dalam kesempatan itu para pecinta anjing di Manado, Anne Parengkuan Supit pendiri dan Direktur Animal Friends Manado Indonesia (AFMI), Dita Carolina aktivis AFMI, Nicky Kindangen aktivis AFMI dan Billy Gistavo Lolowang program manajer di Tasikoki wildlife and Rescue Center PPST Tanjung Merah.

Editor : Christo Senduk

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Hosting Unlimited Indonesia

Trending