Connect with us
Hosting Unlimited Indonesia

Wisata dan Perjalanan

Jika jenuh, cobalah ke Tumpa

Datanglah subuh dan jumpailah sunrise. Datanglah sore untuk meyaksikan sunset

Published

on

Pemandangan dari salah satu sisi Gunung Tumpa. (Foto: zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

ZONAUTARA.com – Tak jauh dari keriuhan kota Manado. Tumpa menawarkan ketenangan. Setidaknya memandangi lansekap dari sini, ada rasa lapang yang menyeruak.

Sebabnya Tumpa berada di ketinggian 750 meter diatas permukaan laut. Berdiri di salah satu titiknya, pemandangan laut, pulau, pesisir pantai, kepadatan pemukiman, pohon, langit dan awan berkombinasi menyajikan keindahan.

Dari pusat Kota Manado, cukup berkendara sekitar 30 menit untuk mencapai Tumpa. Hati-hati. Jalanannya menanjak. Di beberapa tikungan cukup ekstrim.

Berdirilah di sisi Utara, pulau Bunaken, Manado Tua, Siladen dan sekitarnya tersaji memesona mata. Gelarlah tikar dan bernyanyilah bersama kerabat, niscaya galau terhalau.

Saya sering datang ke Tumpa. Kompor portable ikut saya bawa. Memanaskan air lalu membuat kopi. Ditemani suara burung, bayu, serangga, saya sering menghabiskan waktu dengan membaca.

Jika mau, di Tumpa anda bisa bertenda. Menatapi ribuan hiasan bintang di langit malam, sementara di kejauhan kerla-kerlip lampu kota.

Tumpa sejatinya adalah kawasan hutan lindung. Orang menyebutnya Gunung Tumpa. Berada dalam wilayah administratif Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken.

Disini, anda bisa datang subuh menyaksikan sunrise dan juga datang sore untuk meyaksikan sunset. Sesekali, pemandangan atlit paralalayang juga berseliweran di udara Tumpa.

Indah bukan? tak perlu keluar biaya besar. Bersegeralah.

Editor: Ronny Adolof Buol

Wisata dan Perjalanan

20 tahun jual sagu, bupati pun tak segan ke warung ini

Dari anak buah kapal hingga pejabat duduk membaur di warung Ma Embo dan Om Tole.

Published

on

TAHUNA, ZONAUTARA.com – Orang memanggil mereka dengan sapaan akrab: Ma Embo dan Om Tole. Suami istri yang berjualan kuliner sagu di Pasar Towo’e, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Warung mereka sangat sederhana, sempit dan terhimpit di antara lapak pedagang lain. Tapi jangan tanya siapa yang pernah ke warung itu, dari anak buah kapal hingga bupati pernah ke warung itu.

Tujuannya cuma satu, menikmati sagu racikan Ma Embo dan Om Tole. Sagu, adalah salah satu pangan pokok orang suku Sangir Talaud yang mendiami wilayah Nusa Utara, termasuk Sangihe.

Maka mencicipi sagu adalah wajib. Diberkahi dengan kekayaan bahari, tak lengkap jika sagu yang disangrai itu dicecap tanpa ikan bakar. Ditambah sambal mentah dengan perasan jeruk khas Sangihe, lengkap sudah sajian sederhana namun bercita rasa tinggi ini.

Jadi, jika anda sedang berada di Tahuna dan tidak menyambangi warung yang sudah 20 tahun eksis ini, maka anda akan merugi.

Editor dan video: Ronny Adolof Buol

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Hosting Unlimited Indonesia

Trending