Connect with us

POJOK RONNY

Jabat tangan

Senyum yang diekspresikan Mega sewaktu menyambut tangan SBY dengan mata sembab karena duka, adalah kesejukan.

Bagikan !

Published

on

Foto: pixabay

Moment menyejukkan itu terjadi kemarin (Minggu, 2 Juni 2019). Di Taman Makam Pahlawan Kalibata. SBY menjabat tangan Mega. Atau bisa juga sebaliknya. Atau biar terasa sejuk, bilang saja keduanya berjabat tangan.

Publik merespon positif. Ini peristiwa penting. Penting, karena kita sudah jenuh dengan hiruk pikuk politik saat ini. Kedua tokoh itu berseberangan pandangan politik.

Sejak SBY keluar dari kabinet Mega, sejak itu hubungan keduanya dingin. Lama publik menanti keduanya bersalaman, jabat tangan.

Dan lagi-lagi TMP Kalibata jadi tempatnya. Saat upacara pemakaman almarhumah Kristiani Herawati atau Ani Yudhonoyono, istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pernah sebelumnya keduanya berjabat tangan juga di Kalibata, saat 9 Juni 2013 sewaktu pemakaman Taufiq Kiemas, suami Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri (Mega).

Senyum yang diekspresikan Mega sewaktu menyambut tangan SBY dengan mata sembab karena duka, adalah kesejukan. Publik berharap semoga setelah ini keduanya akur.

Harapan itu menyeruak ditengah gugatan hasil Pemilihan Presiden. SBY ada di kubu Prabowo, Mega di kubu Jokowi. Keduanya adalah tokoh bangsa. Sejatinya menunjukkan sikap bijak.

Peristiwa kemarin itu tak hanya soal jabat tangan. Tapi bisa menjadi simbol positif, rujuknnya para tokoh bangsa. Kesejukan suasana itu akan berimbas pada situasi damai.

Kedamaian diperlukan agar bangsa ini bisa melanjutkan cita-citanya: mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Ibu Ani telah berpulang. Jenazahnya telah dimakamkan. Dan di sana, dia akan tersenyum. Bukan saja hanya karena dia adalah pahlawan bagi suami, keluarga dan juga bangsa ini, tetapi mampu membawa pesan kesejukan dan kedamaian.

Kesejukan dan kedamaian itu pula yang harus hadir sebentar lagi. Puasa akan berakhir. Kemenangan akan diraih bagi mereka yang bersungguh-sungguh memperjuangkannya.

1 Syawal 1440 hijriah sudah tiba, saatnya merayakan kemenangan di Idul Fitri. Dan sebagaimana kita orang Indonesia, kemenangan itu kita rayakan dengan berjabat tangan, sambil memaaf-maafkan.

Selamat merayakan Idul Fitri 1440 hijriah

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

POJOK RONNY

Mari kita hormati putusan MK

Cukuplah energi yang tersita untuk pesta demoktasi. Sekarang waktunya bekerja membangun bangsa dan negara.

Bagikan !

Published

on

Hari ini, Rabu (27/6/2019), Mahkamah Konstitusi (MK) akan menggelar sidang dengan agenda utama pembacaan putusan sengketa perselisihan hasil Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019-2024.

Sidang ini dimajukan sehari lebih awal sebagaimana jadwal yang seharusnya pada Jumat (28/6) besok. Persidangan direncanakan akan digelar pada pukul 12.30 WIB.

Hari ini akan menjadi penting bagi Pemohon, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi). Hasil rembuk para hakim MK yang menyidangkan gugatan mereka, akan menentukan hasil akhir Pilpres, apakah MK akan mengabulkan gugatan pemohon atau mempertegas hasil rekapitulasi perhitungan suara yang sudah disahkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Pemohon menjadikan KPU sebagai pihak termohon, dan meminta MK untuk memerintahkan kepada KPU agar menetapkan Prabowo-Sandi sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024.

Alasan mereka adalah telah terjadi kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis dan masif (TSM) pada pelaksanaan Pilres, sehingga Prabowo-Sandi dirugikan.

Kita semua mengikuti sidang MK yang digelar secara terbuka. Baik kubu pemohon, termohon maupun para pihak telah didengar dan diberi kesempatan untuk mengajukan bukti serta saksi-saksinya. Begitu juga, majelis hakim telah mendengar keterangan dari para ahli.

Kini waktunya majelis hakim membacakan keputusannya. Hanya ada dua kemungkinan, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin tetap menjadi presiden dan wakil presiden terpilih atau memerintahkan kepada KPU agar Pilpres digelar ulang.

Kita menaruh harapan, majelis hakim akan menegakkan kebenaran dan keadilan secara utuh sesuai dengan fakta persidangan. Sikap mejelis hakim bukan saja akan menentukan arah demokrasi yang sudah ditempuh lewat pemilihan umum, tetapi juga akan menentukan bagaimana bangsa ini menghadapi hari-hari selanjutnya.

Pesta demokrasi itu telah terlalu banyak menyita energi bangsa ini. Sudah waktunya, kita sebagai bangsa yang besar kembali fokus bekerja, membangun bersama negeri yang kita cintai ini. Negeri tempat kita berpijak. Negeri yang tanah dan airnya telah memberikan kita kehidupan.

Oleh karena itu, apapun keputusan majelis hakim nanti, tentu sebagai bangsa yang besar, rakyat yang mencintai negerinya, harus menerima. Baik itu bagi kubu pemohon, termohon dan para pihak.

Terlebih bagi kedua pasangan, Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi. Sebab mereka adalah tokoh bangsa yang sepatutnya memberikan teladan.

Bagikan !
Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com