Connect with us

Wisata dan Perjalanan

Catatan perjalanan Labuan Bajo (4): Dari Sape Ditemani serakan pulau

Lepas dari Pulau Komodo, haluan kapal seperti harus membelah serakan pulau-pulau kecil yang terhambur di tengah laut.

Bagikan !

Published

on

Penumpang memandangi kapal-kapal yang terparkir di sekitar pelabuhan Labuan Bajo. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

ZONAUTARA.com – Ini untuk kedua kalinya saya mendatangi Nusa Tenggara. Kunjungan pertama saat nekat menyeberang dari Padangbai di Bali ke Lembar di Lombok, dua tahun lalu. Sejak saat itu mengexplore Nusa Tenggara masuk dalam daftar destinasi yang harus saya kunjungi kembali.

Jadi ketika ada kesempatan kedua kalinya mengunjungi Mataram, saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk berjalan lebih jauh. Tujuan utamanya adalah Labuan Bajo. Saya sengaja memilih jalur darat dari Mataram ke Labuan Bajo. Selain bisa berhemat, tujuan lainnya adalah menikmati perjalanan.

Dan benar saja, walau sebagian perjalanan dari Pelabuhan Kayangan di Lombok, hingga ke Pelabuhan Sape di Bima dilakukan sepanjang malam, tapi eksotisme Nusa Tenggara begitu terasa.

Kapal yang bertolak pagi itu dari Pelabuhan Sape mampu membuat saya tidak bisa duduk tenang. Saya masuk ke ruang VIP KM Feri Cakalang II. Tak perlu membayar lebih untuk masuk ke ruangan ini. “Masuk saja, tidak ada bayaran lagi”, ujar petugas kapal menjawab rasa penasaran saya.

KM Cakalang II, salah satu dari kapal feri yang dioperasikan untuk melayani rute Sape di Bima Nusa Tenggara Barat ke Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Untuk penumpang, harga tiket penyeberangan sebesar Rp 60 ribu per orang. Dengan tiket itu, penumpang bebas mau masuk di ruangan mana, kecuali ruangan kamar crew.

Kapal feri yang saya tumpangi cukup bersih. Tempat sampah berada hampir di setiap sudutnya. Toiletnya juga bersih dengan air tawar yang mengalir lancar. Saya sempat mandi saat kapal sudah bergerak.

Sebagaimana sebuah kapal feri, di dek paling bawah, berjejal berbagai jenis kendaraan, terutama truk-truk berukuran besar yang mengangkut muatan banyak. Saya sempat berbincang dengan beberapa sopir.

Cuaca teduh

Perjalanan pada November memberi berkah bagi saya. Lautan yang sangat teduh, tenang dan matahari yang bersinar sepanjang perjalanan. Tentu langit sangat biru. Kamera Fuji XT10 tak pernah lepas dari genggaman saya. Betapa tidak, sepanjang perjalanan Nusa Tenggara menyajikan keindahan yang tak pernah habis.

Kapal-kapal dan perahu-perahu nelayan yang berseliweran dengan latar belakang pulau-pulau menjadi santapan kamera saya setiap saat. Betapa saya menikmati perjalanan ini. Dua kali saya memesan kopi di resto kecil yang terletak di tengah kapal. Dari sesama penyuka kopi ini juga saya mendulang berbagai cerita.

Begitu keluar dari Sape, di sebelah kiri tersaji pulau Sangeang, yang ditengahnya menjulang Gunung Api Sangeang. Ini adalah salah satu gunung berapi yang paling aktif di Kepulauan Sunda Kecil. Kawah Doro Api-nya mencapai ketinggian 1.949 meter. Sangeang punya dua kawah, yang satunya lagi Doro Mantoi.

Seorang bapak asal Bima dengan senang hati menutur kepada saya, ikhwal Sangeang yang dianggap unik oleh penduduk setempat. Dia bercerita bagaimana penduduk di Sangeang tidak takut sama sekali dengan aktivitas vulkanik Sangeang.

Sangeang pertama kali meletus pada tahun 1512 dan terakhir letusan besarnya tercatat pada Mei 2014. Penduduk di pulau itu dievakuasi, dan letusannya berpengaruh hingga ke penerbangan di Australia.

Haluan KM Cakalang II mengarah ke Timur. Sangeang di sebelah kiri dan di kanan kapal tersaji pulau Banta. Lepas dari pulau Banta, haluan kapal bergeser beberapa derajat ke arah kanan. Dan nampak di kejauhan pulau Komodo yang terkenal itu.

Saya bergembira dengan semua yang tersaji, dan tak berhenti bertanya kepada siapa saja yang berdiri di pinggir kapal. Beberapa penumpang ternyata juga pejalan yang penasaran dengan Labuan Bajo. Semuanya setuju jika negeri ini sungguh memesona.

Suasana di dek bawah Kapal Feri Cakalang II yang melayari rute Sape – Labuan Bajo. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Memasuki wilayah perairan Nusa Tenggara Timur, pulau-pulau nampak berserak di sana-sini. Beberapa bahkan hanya sekedar seonggok batu yang menyembul dari kedalaman lautan. Warnanya begitu kontras dengan biru tua laut, biru muda langit, putihnya awan. Pulau-pulau itu berwarna coklet karena rumput hijaunya kering akibat kemarau panjang.

Lepas dari Pulau Komodo, haluan kapal seperti harus membelah serakan pulau-pulau kecil yang terhambur di tengah laut. Saya bergumam dalam hati, “Tuhan sedang bergembira saat mencipta Nusa Tenggara”.

Mendekati pelabuhan Labuan Bajo, saya lebih bersemangat memotret, dan nyaris melupakan tas cariel saya yang hanya saya letakkan begitu saja di atas kursi di ruang VIP. Decak kagum menyaksikan ribuan perahu, kapal motor, kapal pesiar, speed boat dan berbagai jenis transportasi lautnya tak henti keluar dari dalam hati.

Di kejauhan nampak Labuan Bajo. Beberapa hotel dengan bangunan yang besar sudah terlihat. Salah satunya Hotel Ayana yang terkenal itu. Labuan Bajo punya banyak sekali alternatif penginapan. Kapal feri yang saya tumpangi harus mengurangi kecepatannya. Perairan Labuan Bajo begitu sibuk.

Salah seorang pejalan sedang memandingi pulau-pulau di perairan Nusa Tenggara Timur. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Tentu pemandangan itu tak bisa disia-siakan. Saya terus memotret dan menikmati tuturan beberapa orang, yang tampaknya berasal dari Flores, yang dengan senang hati membanggakan negeri mereka.

Iya, negeri kalian sungguh indah. Saya tak sabar menjejakinya. Tapi yang terpenting saat ini, saya harus memilih hotel. Jadi saat kapal sudah sandar di Pelabuhan Labuan Bajo pada pukul 16.50 WITA, saya kembali ke ruag VIP dan membuka aplikasi pemesanan hotel Traveloka. Pilihan saya jatuh ke De Chocolate Hotel, dengan tarif Rp 300 ribuan per malam.

Bersambung . . .

Baca tulisan sebelumnya

  1. Bus executive dijejali daun bawang
  2. Terbirit-birit di rumah makan yang tak enak
  3. Bergembira dengan langit biru
Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Wisata dan Perjalanan

Catatan perjalanan Labuan Bajo (6): Jejak arkeologi di Gua Batu Cermin

Ruang-ruang kosong menjadi labirin yang kami telusuri.

Bagikan !

Published

on

Pemandu lokal sedang berdiri di salah satu ruang uang terdapat di Gua Batu Cemin, Labuan Bajo. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

LABUAN BAJO, ZONAUTARA.com – Saya bangun agak telat. Niatnya ingin mengejar sunrise, namun mesin pendingin udara di kamar lantai 2 Hotel De Chocolate tempat saya menginap mampu membuat saya lelap.

Memotret kehidupan pagi di Pelabuhan Labuan Bajo jadi pilihan mengisi pagi. Pagi benar saya tiba, bahkan palang pintu ke dermaga kapal feri belum dibuka. Saya menerobos untuk mendapatkan komposisi di samping kapal. Sebelah kiri dermaga feri, ada dermaga lebih besar. Pagi itu sebuah kapal Pelni kebetulan merapat. Saya mendapat komposisi yang menarik.

Usai berpuas dengan menikmati ratusan perahu dan kapal dari berbagai jenis yang terserak di perairan depan pelabuhan, saya menelusuri jalan Soekarno Hatta. Dan menemukan cafe kecil yang hanya punya dua bangku dan satu meja. Moku Cafe namanya.

Moku artinya pisang dalam bahasa lokal. Dan cake pisang yang dihiasi kacang mete menemani sarapan saya pagi itu bersama secangkir kopi flores. Nikmat.

Sesaat kemudian Boe datang. Iya ikut ngopi, dan kami membahas apa saja yang bisa dikunjungi di Labuan Bajo, selain trip ke laut. Dia meminjamkan sepeda motornya, saya memberi dia biaya sewa. Walau saya seorang pejalan yang pas-pasan, tapi harus menghargai orang yang menggantungkan hidup dari industri pariwisata.

Boe mendetilkan beberapa destinasi yang patut didatangi, saya memilih dua saja. Selain karena cuaca sedang terik-teriknya, besok saya telah setuju ikut one day trip ke beberapa pulau. Harus menghemat tenaga.

Batu Cermin

Dengan mengandalkan petunjuk Google Map, saya memacu sepeda motor pinjaman menuju Batu Cermin. Di sana ada sebuah gua yang patut dikunjungi. Sempat tersesat, saya kemudian tiba di Batu Cermin.

Lokasi wisata ini sudah ditata dengan baik. Tersedia area parkir yang cukup luas. Saya membayar tiket masuk di loket seharga Rp 100.000, dan menuliskan nama di buku tamu. Harga tiket masuk ke Gua Batu Cermin berdasarkan jumlah orang, karena sudah termasuk jasa pemandu. Untuk jumlah rombongan 5-6 orang atau dibawah dari jumlah itu, harganya Rp 100.000. Untuk rombongan 7-11 orang harganya Rp 150 ribu.

Setelahnya seorang bapak menghampiri. Dia memperkenalkan diri sebagai Beni Maksimus Jemadu (42). Beni menjadi pemandu saya pagi itu. Pagi yang terik dengan warna langit yang biru. Udaranya terasa sangat gerah. Beni kemudian meraih helm dan senter, yang wajib dibawa saat masuk gua.

Kami kemudian menelusuri jalan masuk yang sudah berpaving. Beni bilang, jika beruntung akan bertemu dengan beberapa jenis hewan, seperti ular, kadal, bahkan monyet. Tapi sampai saya pulang tidak satupun dari hewan itu yang saya lihat.

Lokasi menuju Gua ditumbuhi bambu khas Flores. Bambu toe namanya. Nama yang mewakili kuatnya bambu itu. Daunnya nyaris tak ada, dan Beni meyakinkan saya bahwa bambu itu masih hidup, dan sengaja menggugurkan daunnya sebagai siasat bertahan di kemarau yang panjang.

Wisatawan asing sedang menelusuri jalan masuk ke Gua Batu Cermin. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Kami sempat mampir di batu payung. Bentuk bangunan batu yang tersusun secara misteri. Tumpukan-tumpukan batu membangun komposisi menara, dan di atasnya batu besar yang datar dan melebar bertengger seimbang, layaknya kanopi payung.

“Itu tidak pernah bergeser, bahkan sewaktu gempa kuat terjadi,” jelas Beni.

Saya memotret beberapa kali, lalu melanjutkan perjalanan. Mulut gua menyambut kami, dan Beni meminta saya berhenti. Dia lalu memberi penjelasan singkat soal Gua Batu Cermin.

Nama Theodore Verhoven terus disebut Beni. Ini adalah seorang pastor dan juga arkeolog yang menemukan keberadaan gua ini pada tahun 1951. Gua yang cukup indah dengan hiasan stalagnit dan stalagmit ini punya luas 19 hektar. Pintu masuknya berupa terowongan yang menganga di antara batu raksasa yang menjulang setinggi 75 meter. Ruang-ruang kosong menjadi labirin yang kami telusuri.

Batu Patung di komplek Gua Baru Cermin. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Saya diwajibkan menggunakan helm, karena di beberapa terowongan ukurannya cukup sempit dan harus membungkukan badan nyaris merangkak. Jika sepanjang jalan tadi udara terasa begitu panas, jauh berbeda saat saya mulai menaiki tangga yang sengaja dibuat. Udaranya terasa sejuk dan semakin dingin saat Beni menuntun saya lebih ke dalam.

Beni adalah warga desa yang diberdayakan oleh Dinas Pariwisata Manggarai Barat sebagai pemandu. Beni menjelaskan, lokasi wisata Gua Batu Cermin juga sebagian dibiayai dari dana desa. Sehingga hasil pendapatan dari tiket masuk sebagian mengalir ke kas desa.

Jejak Arkeologi

Dengan senter di tangannya dan hafalan akan sejarah gua, Beni sering menginterupsi aktivitas saya memotret. Dia ingin saya benar-benar memahami jejak-jejak arkeologi yang ditemukan Verhoven. Berkali-kali nama itu dipuja Beni dalam tuturannya.

Di dinding gua memang terdapat beberapa fosil makhluk laut, seperti kerang, kura-kura dan koral. Keberadaan fosil-fosil laut itu membuat Verhoven menyetujui teori bahwa jutaan tahun lalu, Pulau Flores termasuk Labuan Bajo berada di dasar laut. Sebuah peristiwa gempa besar membuat permukaan laut surut dan Pulau Flores terangkat ke atas menjadi daratan.

Jejak arkeolog pada fosil itu juga mengandung garam yang mengkristal. Kristal-kristal garam itu jika terkena cahaya akan berpendar dan menimbulkan sinar serupa bintang. Beni terus menuntun saya melewati beberapa terowongan dan menjumpai sebuah hall berukuran besar. Kami bisa berdiri dengan leluasa. Saya terhenti sejenak dan mengaguminya.

Setelahnya Beni menjelaskan berbagai bentuk stalagnit dan stlagmit yang menggantung dari atas gua dan dan keluar dari permukaan gua. Akar pohon beringin yang tumbuh di atas batu di luar menembus ke dalam gua, menjadi pemandangan yang menakjubkan.

Lalu tibalah kami pada bagian yang salah satu dindingnya berlubang. Berkas sinar matahari masuk lewat lubang itu dan menjadi penerang di dinding-dinding gua. Cahayanya temaram dan menyejukkan. Dingin dan berwarna kebiruan.

Beni menggunakan senter untuk memandu pengunjung mengeksplore Gua Batu Cermin. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Boe sudah mengingatkan saya sejak awal, sebaiknya persiskan waktu di ruang itu pada pukul 11 siang hingga pukul 13 siang. Karena pada posisi itu, sudut sinar matahari yang datang akan sangat bagus dipotret. Tapi saya datang terlalu pagi, dan tidak mendapati foto seperti yang diinginkan.

Di ruang yang paling dalam ini, jika hujan air akan tergenang membentuk kolam kecil. Saat Verhoven menemukan pertama kali gua ini, air itu terkena sinar matahari.

“Dia melihat wajahnya terpantul dengan jelas pada permukaan air itu, dan Verhoven mengandaikan permukaan air yang jernih itu sebagai cermin,” tutur Beni.

Sejak itu, gua itu diberi nama gua cermin atau dalam bahasa lokal Watu Sermeng. Beni bersemangat menjelaskan bagian ini, dan saya sedikit menyesal tidak mendapati kolam air, karena hujan tak pernah turun dalam beberapa bulan di Labuan Bajo.

Saya tak bisa berlama-lama di dalam gua, karena pengunjung lainnya mengantri untuk masuk. Kami lalu keluar dan saya meminta beberapa kali Beni berdiri masuk dalam frame foto, agar saya bisa menggambarkan skala ukuran gua. Dia senang dan terus berterima kasih. Saya juga gembira mendapati pengalamanan dan pengetahuan baru, hal terindah yang terus didulang dalam perjalanan.

Bersambung . . .

Baca tulisan sebelumnya

  1. Bus executive dijejali daun bawang
  2. Terbirit-birit di rumah makan yang tak enak
  3. Bergembira dengan langit biru
  4. Dari Sape ditemani serakan pulau
  5. Bertemu Boe yang baik hati
Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com