Connect with us

Wisata dan Perjalanan

Catatan perjalanan Labuan Bajo (5): Bertemu Boe yang baik hati

“Panggil saja saya Boe,” ujar Budi. Dan sejak itu saya sering sekali salah menyebut namanya dengan “beo”.

Bagikan !

Published

on

Pemandangan dari lantai 5 Hotel De Chocolate Labuan Bajo. (Foto: Zonautara.com/Ronny Buol)

LABUAN BAJO, ZONAUTARA.com –  Saya tak menunggu semua kendaraan turun dari kapal feri Cakalang II. Tak sabar menjajal Labuan Bajo, saya berkelit di antara truk-truk yang antri keluar ke dermaga.

Pelabuhan Labuan Bajo sungguh riuh. Nampak hidup dan berdenyut. Begitu turun, pemandangan turis asing berseliweran di mana-mana. Ini salah satu destinasi idaman di Indonesia.

Lewat Google Map, saya tahu hotel De Chocolate letaknya tak jauh dari bandar, hanya sekitar 300 meter. Saya memilih jalan kaki dan mengabaikan tawaran tukang ojek. Berolahragalah, meski tas cariel di punggung lumayan berat.

Keluar dari komplek dermaga feri, jalan Ir. Soekarno Hatta ditemui. Ini jalan utama di tepi pantai Labuan Bajo. Jalur kendaraan di sini hanya satu arah. Terasa sempit karena sebagian badan jalan dipakai untuk parkir kendaraan.

Sebagaimana daerah wisata, kiri kanan jalan berderet penginapan, hostel, hotel dan agen-agen tour. Di  dinding depan berkaca, tulisan besar-besar tawaran paket wisata terpampang. Saya mengamati beberapa diantaranya.

Tak butuh lama, hanya sekitar 10 menit saya sudah tiba di hotel. Bangunannya kecil mirip ruko, berlantai empat. Petugas front officenya ramah. Saya diberi kamar di lantai dua. Lantai empatnya berupa lounge yang menghadap laut. Usai meletakkan tas di kamar, saya langsung naik ke lantai empat. Menunggu sunset di situ dan menikmatinya.

Panggil saya Boe

Sewaktu di Sape, sahabat saya Jessica, staff di Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya mengirimkan pesan WhatsApp. Jessica mengikut status yang saya taruh di WhatsApp. Dia memberi nomor kontak seseorang di Labuan Bajo. Budi namanya.

Usai menyaksikan sunset, saya ingin makan malam sekaligus bertemu Budi. Kami lalu bertemu sambil makan malam di penjual makanan di tepi jalan. Di jalan Ir Soekarno Hatta ini, jika malam ada beberapa penjual makanan membuka lapaknya. Menunya macam-macam, tapi terutama masakan yang berminyak seperti saus ikan, terung saus, kari, tumis kacang pancang, telur goreng dan sebagainya.

“Panggil saja saya Boe,” ujar Budi. Dan sejak itu saya sering sekali salah menyebut namanya dengan “beo”. Tapi Budi, eh Boe tidak protes. Dia terlihat baik-baik saja. Mungkin orang-orang juga sering salah memanggil namanya begitu.

Boe orang Flores. Dia pernah mengikuti program dari Konjen AS di Surabaya. Saya lupa nama programnya, mungkin serupa pertukaran pemuda antar negara. Boe kini menjadi guide wisata di Labuan Bajo. Malam itu dia menerangkan banyak hal soal Labuan Bajo.

Boe mengingatkan agar saya tidak melewatkan Pulau Padar, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pantai Pink dan Manta Point. Untuk ke sana saya harus menggunakan perahu atau kapal. Nusa Tenggara Barat punya ratusan pulau, dan sebagian besar pulau-pulau eksotis itu ada di Manggarai Barat atau diakses dari Labuan Bajo.

Tersedia paket-paket wisata untuk berkunjung ke pulau-pulau itu. Meski bisa juga bepergian sendirian dengan menyewa perahu atau speed boat, tetapi bagi pejalan dengan bujet terbatas, mengambil paket wisata adalah bijak.

Boe menawarkan paket wisata 2D1N (dua hari satu malam). Ini paket menginap di atas kapal. Tetapi karena saya tidak bisa snorkling dan menyelam, saya hanya mengambil paket One Day Trip. Lagipula masa berkunjung saya tak lama di Labuan Bajo.

Suasana lorong hotel De Chocolate di Labuan Bajo. (Foto: Zonautara.com/Ronny Buol)

Boe memberi saya harga discount, tapi saya membayar full Rp 500 ribu untuk mengunjungi Pulau Padar, Pantai Pink, Pulau Komodo dan Manta Point. Harga ini sudah termasuk makan siang, kapal dan guide. Tidak termasuk tiket masuk ke Taman Nasional Komodo.

Setelah sepakat dan membayar, saya pamit untuk istirahat. Besok, juga atas saran Boe, saya akan pergi ke Gua Batu Cermin dan Bukit Amelia. Trip ke pulau-pulau nanti dua hari kemudian.

Bersambung . . .

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

Wisata dan Perjalanan

Catatan perjalanan Labuan Bajo (7): Jatuh cinta di Bukit Amelia

Ada tiga bukit indah di Labuan Bajo. Datangilah Bukti Amelia.

Bagikan !

Published

on

Pengunjung sedang menyaksikan sunset dari Bukit Amelia. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

LABUAN BAJO, ZONAUTARA.com – Terik yang membakar dan menguras tenaga membuat saya mengambil keputusan untuk kembali dulu ke hotel. Istirahat sejenak. Cuaca di Labuan Bajo memang sedang panas-panasnya. Hujan tak turun dalam jangka waktu yang lumayan lama.

Mendapati kamar yang pendinginnya sudah menyala, terasa surga. Sontak saja mata langsung mengantuk dan mengajak tidur. Saya menyetel alarm agar terbangun sebelum sore. Boe menyarankan untuk pergi ke Bukit Amelia.

Di Labuan Bajo, tak jauh dari kota, ada tiga bukit yang memiliki view indah. Bukit Cinta, Bukit Sylia dan Bukit Amelia. Yang pertama dinamakan demikian, karena di bukit itu, muda mudi sering memadu cinta. Dua yang terakhir dinamakan sesuai dengan nama villa yang dekat dengan kedua bukit itu.

Boe berpesan agar saya ke Bukit Amelia. Sebab menurutnya di situlah view terbaik yang bisa diperoleh.

Bukit Cinta berada persis di belakang Bandara Komodo Labuan Bajo. Untuk mencapai puncak bukit cukup mudah, bahkan kendaraan sepeda motor bisa sampai di puncaknya. Letaknya di bagian timur dengan pemandangan laut. Di bukit ini, matahari terbenam terhalang sebuah bukit. Namun dari Bukit Cinta bisa menyaksikan pesawat lepas landas maupun mendarat.

Bukit Sylvia terletak di sebelah barat dari gugusan perbukitan Labuan Bajo bagian utara. Dari bukit ini bisa langsung melihat laut tanpa ada halangan apapun. Matahari terbenam bisa terlihat jelas dari sini.

Tak jauh dari Bukit Sylvia, hanya berjarak sekitar 200 meter, terletak Bukit Amelia. Kesanalah saya memacu sepeda motor usai tidur siang yang lelap. Jalanan menanjak menyambut dengan pemandangan yang indah di sebelah kiri. Beberapa hotel dan penginapan dilewati. Salah satunya Escape Bajo yang dibangun tepat di bibir tebing.

Pengunjung berdiri di salah satu bukit di area Bukit Amelia. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Papan kecil bertuliskan Bukit Amelia Sea View memberi saya petunjuk dan memarkir sepeda motor di tanah lapang. Tepat di depan saya tersaji bukit kecil. Jika nafas tak kuat untuk mendaki, bukit kecil ini bisa menjadi penghibur. Dari punggungnya pemandangan indah juga tersaji.

Sunset yang indah

Tapi saya akan puncak Bukit Amelia, seperti pesan Boe. Jalan setapak menuju puncaknya lumayan terjal, berpasir dan berbatu-batu kecil. Saya harus hati-hati agar tak tergelincir dengan peralatan fotografi yang saya tenteng.

Butuh beberapa kali istirahat yang diisi dengan memotret untuk sampai di puncaknya. Tidak panjang trekkingnya, tapi lumayan menguras tenaga. Saya masih punya banyak waktu beristirahat sebelum memotret sunset.

Semakin sore semakin banyak pengunjung yang datang. Saya berkenalan dengan beberapa orang, kebanyakan adalah wisatawan. Mereka datang dari berbagai daerah di Nusantara. Beberapa turis asing juga nampak menikmati pemandangan di bukit ini.

Saya berdiri menghadap barat dengan sajian pemandangan perairan Labuan Bajo dengan kapal-kapal wisata. Di kejauhan nampak gugusan pulau-pulau, yang seakan tercampakan begitu saja, membangun formasi tak beraturan yang indah. Salah satu pulau besarnya adalah Pulau Komodo yang tersohor itu.

Saya terpaku dengan apa yang tersaji, dan mengagumi keindahan Labuan Bajo. Pantas saja negeri ini dibanjiri wisatawan. Matahari perlahan mulai tenggelam. Warna langit mulai berubah ke kemerah-merahan. Sayangnya dua pulau yang sejajar dengan bukit menghalangi pemandangan matahari terbenam di garis semu laut dan langit.

Tapi saya riang karena mendapatkan latar warna langit yang membahana dengan komposisi sepasang turis asing yang menikmati sunset sore itu. Orang-orang juga bergembira dan tak menyia-nyiakan moment berfoto mesra. Semua berdecak kagum dengan kemurahan Tuhan pada Labuan Bajo. Saya jatuh cinta dengan destinasi wisata ini. Kelak saya akan kembali lagi.

Pemandangan laut dari Bukit Amelia. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Saat matahari benar-benar menghilang, satu persatu pengunjung mulai turun. Malam menjemput dan gelap mulai merayap. Tapi saya masih terus memotret, menunggu blue hour, warna langit sesudah sunset. Dan saya mendapatinya!.

Saat cahaya sekitar benar-benar sudah gelap, saya lalu beringsut turun. Dan ternyata tinggal saya sendiri. Headlamp yang sudah saya siapkan menjadi penerang. Beberapa kali saya harus mencari pegangan di rumput-rumput agar tidak tergelincir ke bawah.

Malam telah turun, saat kembali ke kota. Tak langsung ke hotel, namun mampir di lokasi kuliner makanan laut, Kampung Ujung. Di sini berjejer puluhan lapak penjual ikan dan makhluk laut lainnya. Segar namun mahal. Lidah saya terbiasa dengan masakan Manado yang pedas, dan saya tidak merasakan itu di Labuan Bajo.

Bersambung . . .

Baca tulisan sebelumnya

  1. Bus executive dijejali daun bawang
  2. Terbirit-birit di rumah makan yang tak enak
  3. Bergembira dengan langit biru
  4. Dari Sape ditemani serakan pulau
  5. Bertemu Boe yang baik hati
  6. Jejak arkeolog di Gua Batu Cermin
Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com