Connect with us

ZONA DAERAH

Ini tanggapan RSGM soal putusnya kontrak dengan BPJS Kesehatan

Published

on

Direktur RSGM Tomohon dr Frankly Palendeng. (Foto: zonautara.com)

TOMOHON, ZONAUTARA.comRumah Sakit Gunung Maria (RSGM) Tomohon akhirnya memberikan jawaban terkait kabar putusnya kontrak dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sejak 1 Januari 2020 lalu.

Direktur RSGM dr Frankly Palendeng kepada sejumlah wartawan mengatakan, isu bahwa RSGM tidak mau lagi bekerjasama dengan BPJS tidaklah benar.

Pasalnya, BPJS Kesehatan Cabang Tondano yang memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerjasama dengan RSGM.

Pemberitahuan tidak diperpanjangnya kontrak dengan RSGM, kata Palendeng, pada 27 Desember 2019 lalu.

Padahal, lanjut dia, sesuai Undang-Undang, Rumah Sakit yang bernaung di bawah PT Ratna Timur Tumarendem ini sudah sangat layak untuk tetap bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, apalagi akreditasi sudah paripurna.

“Jadi, posisinya BPJS yang tidak memperpanjang kontrak, bukan putus di tengah kontrak,” ujar Palendeng, Rabu (15/1/2020).

Yang seharusnya, sebut Palendeng, pemberitahuan tidak akan diperpanjangnya suatu kontrak, yakni tiga bulan sebelum kontrak selesai.

Menurut dia, dilihat dari sisi pelayanan, setiap bulannya, RSGM melayani sekitar 1.000 pasien rawat inap dan 5.000 pasien rawat jalan yang merupakan peserta BPJS.

“Yang kami khawatir, mau dikemanakan pasien-pasien ini. Pasti akan ada penumpukan di rumah sakit lain dan mungkin saja akan ada yang tidak dilayani,” tuturnya.

Soal penyebab putusnya kontrak dengan BPJS Kesehatan tersebut dikarenakan masalah administratif yang sebetulnya bisa dikomunikasikan.

“Kalau memang ada komitmen yang dilanggar, kita bisa dikenakan sanksi administratif. Tapi kita sudah langsung berbenah. BPJS juga sudah konfirmasi langsung kepada para pihak terkait,” jelasnya.

Namun begitu, Palendeng menegaskan, pihaknya terus berupaya keras agar bisa kembali bekerjasama dengan pihak BPJS Kesehatan.

“Intinya kami siap terus bekerja keras untuk bisa kerjasama lagi. Kami siap untuk dinilai lagi. Dan hari ini kami sudah mengirimkan kembali surat permohonan untuk kerjasama lagi ke BPJS Kesehatan,” pungkasnya.

Editor : Christo Senduk

Bagikan !
Beri Donasi

Zona Sulut

Rumah Isolasi Covid-19 Sulut siap tampung 100 penghuni

Hingga Kamis 2 April belum ada ODP yang menjadi penghuni.

Bagikan !

Published

on

Rumah Isolasi Covid-19 di Maumbi, Minahasa Utara. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

MANADO, ZONAUTARA.COM – Sebuah langkah inisiatif diambil oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dalam mencegah penularan virus corona, dengan menyediakan rumah isolasi bagi orang dalam pengawasan (ODP) terkait covid-19.

Rumah isolasi itu memanfaatkan fasilitas yang ada di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulut yang ada di Maumbi, Minahasa Utara.

Kasubag Umum BPSDM Sulut, Journal Humene ketika ditemui Zonautara.com di Rumah Isolasi Covid-19 mengatakan bahwa fasilitas yang ada sudah siap digunakan.

“Daya tampung yang ada sekarang bisa menampung 100 penghuni,” ujar Humene, Rabu (1/4/2020).

Menurut Humene, daya tampung itu bisa ditambah jika memang ODP yang dibawa ke fasilitas itu membludak.

Dari peninjauan Zonautara.com ke Rumah Isolaso Covid-19, gedung penginapan yang biasanya digunakan peserta pelatihan di BPSDM Sulut dirubah menjadi rumah isolasi.

Dalam gedung dua lantai itu, terdapat puluhan kamar yang nyaman, dilengkapi dengan pendingin ruangan, perabot, tempat tidur serta sejumlah fasilitas lainnya.

Baca pula: Sudah 3 positif corona di Sulut

Humene menjelaskan bahwa simulasi penanganan ODP yang akan dibawa ke Rumah Isolasi Covid-19 telah dilakukan berulang kali, untuk memastikan protokol kesehatan dijalankan dengan benar.

Semua ODP yang akan menghuni rumah isolasi tersebut akan melakukan isolasi mandiri dibawah pengawasan petugas.

“Saat ini setiap hari ada petugas jaga yang melakukan shift jaga terdiri dari satu atau dua orang dokter, perawat dan petugas lainnya,” kata Humene.

Meski hingga saat ini rumah isolasi tersebut belum satu pun penghuni ODP, tetapi Humene meyakinkan bahwa pihaknya sudah siap sepenuhnya.

Rekomendasi dokter

Juru Bicara Satgas Covid-19 Steaven Dandel saat ditemui terpisah mengatakan memang hingga saat ini belum ada yang menjadi penghuni rumah isolasi.

Fasilitas kamar isolasi yang ada di Rumah Isolasi Covid-19 Sulut. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

“ODP itu discreening oleh rumah sakit. Jadi orang-orang yang datang dari daerah dengan transmisi lokal, kalau dia bergejala akan berobat ke rumah sakit. Pihak rumah sakit kemudian yang akan menawarkan apakah mereka bersedia diisolasi di rumah isolasi. Tapi mungkin ada juga yang harus diendorse,” jelas Dandel.

Baca pula: Lolowang pastikan pasien positif corona di Tomohon tidak benar

Sesuai dengan buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Kementerian Kesehatan RI, ODP adalah mereka yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernapasan ringan, dan pernah mengunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus tersebut.

Selain itu, bisa juga orang sehat yang pernah kontak erat dengan kasus terkonfirmasi Covid-19.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com